Di sebuah linimasa yang bergerak terlalu cepat untuk direnungkan, kita menyaksikan paradoks yang aneh: teknologi yang memungkinkan setiap orang memproduksi gagasan terbaiknya justru lebih sering dipenuhi oleh konten yang dangkal, sensasional, dan repetitif. Media sosial, yang pernah dielu-elukan sebagai demokratisasi informasi terbesar dalam sejarah, berubah menjadi pasar malam digital yang gaduh, penuh suara, penuh lampu, tapi miskin substansi.
Banyak orang merasakan kelelahan dari paparan konstan terhadap konten yang terasa “kosong” namun entah bagaimana selalu muncul di bagian teratas feed. Jika dinikmati sesekali, itu mungkin tidak masalah. Tetapi ketika konten seperti itu mendominasi dan mengalahkan segala bentuk pemikiran panjang, karya mendalam, ataupun kreatifitas otentik, kita perlu bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Untuk memahami fenomena ini, hukum ekonomi berusia ratusan tahun tiba-tiba relevan kembali: Hukum Gresham. Diperkenalkan untuk menjelaskan bagaimana “uang buruk menggeser uang baik” dari peredaran, gagasan ini secara mengejutkan dapat diterapkan pada ekosistem digital. Di media sosial, “konten buruk” yang artinya bukan sekadar kualitas teknis rendah, tetapi konten yang dangkal, hiper-reaktif, penuh dramatisasi, atau manipulatif, tampaknya menggeser “konten baik” yang berisi kedalaman, perspektif, atau nilai reflektif.
Bukan karena konten buruk lebih pintar, tetapi karena sistem yang menopang media sosial memberi insentif pada karakteristik tertentu yang membuat konten buruk lebih mudah menyebar, lebih murah diproduksi, dan lebih menguntungkan secara algoritmik. Konten buruk mendominasi karena ia memenuhi satu kebutuhan mendasar dalam arsitektur media sosial: perhatian. Algoritma tidak punya preferensi moral; ia tidak peduli apakah sebuah video membawa wawasan baru atau hanya memprovokasi kemarahan dan tawa sinis.
Yang penting bagi sistem adalah apakah konten tersebut membuat orang berhenti sejenak, bereaksi, berkomentar, atau membagikannya. Kejutan, kontroversi, dan emosi negatif, apakah itu marah, iri, cemas, adalah pemicu keterlibatan paling efektif. Maka tidak heran jenis konten yang menekan tombol-tombol emosional itu cenderung lebih banyak “menang”.
Di sinilah masuk logika Gresham versi digital: ketika konten buruk lebih cepat viral dan lebih mudah mendatangkan benefit (engagement, exposure, monetisasi), para pembuat konten rasional mulai menyesuaikan diri. Mereka mengikuti pola yang sudah terbukti sukses: dramatisasi, penyederhanaan berlebihan, clickbait, polarisasi, atau sensasi murahan.
Sementara itu, pembuat konten berkualitas yang membutuhkan waktu lebih lama untuk riset, mengembangkan argumen, atau merangkai cerita, mendapati karya mereka tenggelam, bukan karena tidak berguna, tetapi karena tidak sesuai dengan logika mekanisme distribusi. Lama-lama, konten berkualitas justru terdesak dan menghilang dari sirkulasi utama, persis seperti “uang baik” yang hilang dari pasar ketika “uang buruk” dilepas secara berlebihan.
Dominasi konten buruk bukan hanya masalah algoritma. Ia juga masalah psikologis. Otak kita secara evolusioner menyukai stimulus cepat dan emosional. Informasi dangkal yang memicu respons instan mudah diproses, sementara konten yang mendalam menuntut perhatian, energi, dan waktu. Di tengah kehidupan serba cepat, banyak orang lebih mudah memilih konten instan yang terasa ringan.
Akhirnya terciptalah lingkaran umpan balik: pengguna ingin hal yang cepat dan mudah, kreator membuat hal yang cepat dan mudah, algoritma mendorong hal yang cepat dan mudah, dan konten berkualitas makin tersingkir. Tambahkan pada itu budaya kompetisi ekstrem dalam dunia kreator digital. Banyak platform menghubungkan eksposur dengan penghasilan, sehingga reaksi paling rasional bagi pembuat konten adalah memproduksi apa pun yang paling mudah viral.
Ini bukan karena kreator tidak peduli kualitas; justru banyak kreator berkualitas yang akhirnya menyerah karena merasa “bertarung melawan sistem yang sudah memihak”. Sebuah artikel reflektif, esai panjang, investigasi jurnalistik, atau video dokumenter bisa menghabiskan hari atau minggu untuk diproduksi, akan kalah bersaing dari konten 20 detik yang memancing emosi.
Rasanya seperti menulis puisi di tengah bisingnya pasar yang dikelilingi pedagang megafon. Fenomena ini menimbulkan kerugian kolektif. Ketika konten buruk mendominasi, masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan informasi bernilai dari yang manipulatif. Ruang publik digital terfragmentasi oleh polarisasi, gosip, dan skandal kecil yang mengaburkan isu-isu penting.
Kita menjadi generasi yang lebih banyak bereaksi daripada merenung, lebih banyak berkomentar daripada memahami, dan lebih banyak memihak daripada berpikir. Pada titik itu, konten buruk tidak hanya menggeser konten baik; ia menggeser kualitas percakapan, kualitas perspektif, bahkan kualitas demokrasi dan budaya.
Pertanyaannya, apakah ada jalan keluar? Apakah mungkin memulihkan konten berkualitas tanpa memaksa pengguna dan kreator untuk melawan naluri alami media sosial yang ingin memaksimalkan keterlibatan? Jawabannya: mungkin, tetapi sulit. Kuncinya terletak pada tiga hal, yakni tanggung jawab platform, keberanian kreator, dan literasi publik.
Pertama, platform perlu menyadari bahwa mereka bukan hanya perusahaan teknologi, tetapi arsitek ruang publik digital. Mereka membuat sistem yang kemudian mempengaruhi cara orang memproduksi dan mengonsumsi informasi. Jika algoritma hanya mengutamakan keterlibatan emosional, maka konten buruk akan selalu menang.
Tetapi jika algoritma diberi bobot untuk menilai kualitas, kebermanfaatan, atau keaslian, peta kompetisi bisa berubah perlahan. Misalnya, menambah indikator yang menilai durasi tonton penuh untuk konten panjang, bukan sekadar klik awal. Bisa juga dengan menekan penyebaran konten yang mengandalkan provokasi ekstrem. Selain itu juga dengan memberi insentif khusus untuk konten edukatif dan informatif.
Tentu keputusan seperti ini rumit, karena didalamnya ada isu moderasi, kebebasan berekspresi, bahkan tekanan bisnis. Tetapi perubahan sistemik tetap diperlukan, karena di ekosistem saat ini, konten berkualitas kalah bukan karena tidak dibutuhkan, tetapi karena sistem tidak dirancang untuk menaikkan konten seperti itu.
Kedua, kreator perlu memiliki keberanian untuk tidak menyerah pada logika viralitas yang dangkal. Mungkin ini terdengar idealis, tetapi sejarah selalu membuktikan bahwa karya-karya berkualitas akan menemukan audiensnya, meskipun dengan perjalanan yang lebih lambat. Banyak kreator saat ini memilih strategi hibrida: menggabungkan kemasan menarik dengan substansi kuat.
Ini bukan kompromi negatif; justru cara cerdas untuk bermain di dua dunia. Konten berkualitas tidak harus membosankan. Ia bisa dikemas ringan, relevan, ekspresif, dan tetap informatif. Kreator yang mampu menjembatani kesenjangan antara substansi dan gaya mungkin adalah mereka yang bisa mengembalikan harapan bahwa media sosial masih dapat menjadi ruang gagasan.
Ketiga, publik perlu meningkatkan literasi digitalnya. Ini bukan sekadar kemampuan membedakan hoaks dari fakta, tetapi juga kemampuan membedakan konten bernilai dari konten yang hanya memicu impuls. Ketika pengguna lebih banyak menghargai karya berkualitas, apakah itu dengan tontonan penuh, apresiasi, atau diskusi bermakna, maka algoritma pun akan mengikuti pola itu.
Literasi publik adalah upaya jangka panjang, tetapi ia harus dimulai dari ruang pendidikan, komunitas, dan keluarga. Di dunia digital, setiap orang punya andil sebagai “kurator kecil” untuk dunianya sendiri. Semakin banyak orang memilih konsumsi konten berkualitas, semakin besar peluang konten tersebut tumbuh. Dominasi konten buruk di media sosial bukanlah takdir, melainkan hasil dari insentif dan kebiasaan kolektif.
Hukum Gresham versi digital hanya berlaku bila kita membiarkan konten buruk bebas tanpa penyeimbang. Jika sistem berubah, jika kreator beradaptasi, jika publik lebih cerdas, maka konten baik dapat kembali ke permukaan; pelan, tetapi pasti. Media sosial masih memiliki potensi besar sebagai ruang yang memperkaya hidup manusia, bukan hanya menguras perhatian.
Kita hanya perlu mengingat bahwa kualitas tidak pernah mati; ia hanya terdesak. Dan seperti halnya uang baik yang suatu saat kembali ketika sistemnya diperbaiki, konten berkualitas pun akan kembali bersinar jika kita memberi ruang, waktu, dan insentif yang memadai. Pada akhirnya, masa depan media sosial bukan ditentukan oleh algoritma semata, tetapi oleh manusia yang menggunakan, menciptakan, dan membentuk ulang ruang digitalnya.
Artikel Lain :
Simak Cara Mencegah Bullying di Sekolah ala Mahasiswa UNPAM
Ketika Intoleransi menjadi Beban Tambahan bagi Perempuan
Penulis : T. H. Hari Sucahyo
Editor : Redaktur






