Berkelompok sudah menjadi sifat manusia. Keluarga merupakan bentuk pertamanya, hingga bentuk besarnya, seperti organisasi dan komunitas. Dunia digital saat ini, muncul juga pengelompokan berdasarkan pemahaman yang dipilih atau berdasarkan ketertarikan terhadap paham atau individu tertentu.
Individu-individu ini membentuk sebuah kerja sama spontan, organik, dan kompak, meski tidak saling kenal — apalagi bertemu. Menurut teori komunikasi kelompok, kekompakan berlebihan justru bisa menjadi masalah sosial. Fenomena ini dikenal sebagai groupthink (pemikiran kelompok) yang terdampak echo chamber (ruang gema).
Groupthink pasti sering kita temukan di media sosial, dan mereka memiliki pandangan yang sama terhadap suatu isu. Ketika ada anggota yang punya pendapat berbeda, mereka sering kali memilih untuk diam karena takut dengan kritik atau dianggap tidak sejalan dengan mayoritas.
Akibatnya akan semakin negatif, antara keputusan atau opini yang terbentuk bukan lagi hasil dari pertimbangan-pertimbangan matang, melainkan atas dorongan untuk tetap diterima dalam kelompok tersebut.
Irving Janis menyebut, grupthink terjadi ketika anggota kelompok terlalu fokus mencapai kesepakatan, sehingga kehilangan kemampuan untuk menilai alternatif lain secara realistik. Dalam kondisi itu, kelompok cenderung mengabaikan kritik, menolak perbedaan, dan hanya menerima informasi yang mendukung keyakinan mereka.
Salah satu cirinya adalah self-consorship, yaitu ketika anggota menahan pendapat yang berbeda. Serta illusion of unanimity, yaitu munculnya anggapan bahwa semua anggota setuju meskipun sebenarnya ada yang tidak sepenuhnya sepakat.
Fenomena ini sangat sering terjadi dalam kelompok mahasiswa diluar dunia digital. Misalnya, ketika ketua kelompok mengusulkan sebuah ide atau sebagian anggota sebetulnya memiliki solusi yang lebih baik. Namun karena tidak ingin memperpanjang diskusi atau dianggap menghambat pekerjaan — mengikuti keputusan menjadi pilihan mereka.
Selain grupthink, teori dalam komunikasi juga menjelaskan bahwa komunikasi kelompok yang sehat membutuhkan interaksi yang aktif antaranggota. Untuk menghindari jebakan groupthink, Robert Bales dalam metode Analisis Proses Interaksi, menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam kelompok agar tercipta: keseimbangan dan proses pengambilan keputusan yang lebih efektif.
Dalam ruang pertukaran ide dan kritik, kelompok dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Keberagaman latar belakang dan pemikiran memperbesar kemungkinan terciptanya sudut pandang yang lebih holistik dengan kepemimpinan yang dapat menjadi fasilitator.
Groupthink dapat mengingatkan kita bahwa kebersamaan tanpa ruang untuk berbeda pendapat hanya ilusi keharmonisan. Algorima yang juga mempertemukan kita dengan individu sepemikiran, menjadikan pencarian kelompok bukan lagi tantangan, tetapi menjaga keberagaman di dalamnya.
Maka, kemampuan berpikir kritis dan keberanian untuk menyampaikan isi pikiran tersebut menjadi hal yang sangat penting. Jangan sampai kekompakan yang terlihat positif justru membuat kelompok kehilangan objektivitasnya. Komunikasi kelompok yang baik adalah komunikasi yang memberi ruang bagi setiap anggota untuk didengar, bukan hanya untuk menyetujui.
Artikel Lain :
Kebisingan Media Sosial
Peran Komunikasi Verbal untuk Mencegah Kesalahpahaman di Era Digital
Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham
Penulis : Zaskia Putri Malika
Editor : Devis Mamesah






