Dalam perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi, kemiskinan tetap jadi permasalahan yang dihadapi banyak masyarakat. Dalam banyak diskursus, kemiskinan modern sudah dianggap sebagai persoalan struktural, yang bercokol dengan sistem sosial, ekonomi, atau kebijakan yang membatasi kesempatan seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada satu generasi, tatapi telah menciptakan fenomena yang dikenal sebagai “sandwich generation“. Mereka adalah indivisu yang berada di posisi “terjepit” — karena harus menanggung kebutuhan ekonomi dua generasi sekaligus. Memenuhi kebutuhan keluarga inti, tetapi harus membantu orang tua yang sudah lanjut usia atau tidak memiliki penghasilan yang cukup.
Fenomena ini semakin banyak ditemukan, terutama di negara berkembang yang masih menghadapi berbagai bentuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Kemiskinan struktural memiliki hubungan yang erat dengan munculnya sandwich generation. Rendahnya akses terhadap pendidikan yang berkualitas membuat banyak orang sulit memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang memadai.
Akibatnya, mereka tidak mampu menabung atau mempersiapkan dana untuk masa tua. Ketika memasuki usia lanjut, mereka menjadi bergantung pada anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, keterbatasan lapangan kerja dan rendahnya tingkat upah juga memperkuat kondisi tersebut. Banyak pekerja yang hanya memperoleh pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehingga tidak memiliki kesempatan untuk membangun aset atau jaminan finansial jangka panjang.
Ketika generasi berikutnya mulai bekerja, mereka harus membantu perekonomian keluarga sambil memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri. Kurangnya perlindungan sosial juga menjadi faktor penting yang mendorong terbentuknya sandwich generation. Tidak semua masyarakat memiliki akses terhadap dana pensiun, asuransi kesehatan, atau program kesejahteraan yang memadai.
Akibatnya, tanggung jawab pemenuhan kebutuhan orang tua sering kali berpindah kepada anak-anak. Kondisi ini menciptakan siklus yang terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dampak yang dirasakan oleh sandwich generation tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga psikologis. Beban keuangan yang besar dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan tekanan mental. Mereka sering kesulitan menyeimbangkan kebutuhan pribadi, kebutuhan anak, dan kebutuhan orang tua.
Dalam banyak kasus, impian untuk melanjutkan pendidikan, membeli rumah, atau menabung untuk masa depan harus ditunda karena prioritas utama adalah membantu keluarga. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka siklus kemiskinan antargenerasi akan semakin sulit diputus. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk mengatasi akar permasalahan kemiskinan struktural.
Peningkatan kualitas pendidikan, perluasan kesempatan kerja, peningkatan upah yang layak, serta penguatan sistem jaminan sosial dapat menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan ekonomi antargenerasi. Dengan demikian, kemiskinan struktural dapat dipahami sebagai salah satu penyebab utama munculnya fenomena sandwich generation.
Ketika kesempatan ekonomi tidak merata dan perlindungan sosial masih terbatas, generasi produktif akan terus menanggung beban yang besar. Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini memerlukan perubahan yang tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada sistem yang membentuk kondisi kemiskinan itu sendiri.
Artikel Lain :
Salah Kampus atau Salah Industri?
Hidup Mandiri di Usia Muda: Tantangan dan Kesehatan Mental Generasi Sandwich
Meja Makan Tak Lagi Menjadi Tempat yang Aman untuk Bercerita
Penulis : Nur Allen Faujiah
Editor : Redaktur






