Mantan karyawan yang menggunakan nama samaran Merry menuturkan persoalan bermula ketika ia menyampaikan keluhan seorang rekan kerja di divisi penjualan kepada atasan. Keluhan tersebut berkaitan dengan kompetensi pimpinan serta pembagian tugas yang dinilai tidak sesuai.
Menurut Merry, rekan kerjanya mengaku kerap diminta mengerjakan pekerjaan administratif yang semestinya menjadi tanggung jawab atasan. Ia mengaku hanya meneruskan keluhan tersebut agar dapat diverifikasi secara profesional.
“Awalnya saya hanya menyampaikan keluhan itu kepada atasan untuk divalidasi karena saya menganggap ini persoalan profesional,” ujar Merry.
Namun, setelah laporan disampaikan, rekan kerjanya memilih mengundurkan diri. Sejak saat itu, Merry mengaku mulai merasakan perubahan sikap di lingkungan kerja.
“Saya mulai merasakan tekanan dan intimidasi secara halus. Komunikasi berubah dan saya merasa ditempatkan pada posisi yang sulit hanya karena menyampaikan laporan dari tim,” katanya.
Selain itu, Merry juga menyampaikan sejumlah dugaan persoalan lain di internal perusahaan, mulai dari dugaan ketidaksesuaian data pribadi salah seorang pimpinan, dugaan penggunaan dokumen pendidikan yang tidak valid, dugaan hubungan yang tidak profesional antara atasan dan bawahan, hingga isu penggunaan dana kegiatan yang dinilai tidak transparan.
Namun, seluruh dugaan tersebut merupakan pengakuan dari pelapor dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Merry menilai kondisi tersebut membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif dan berdampak pada kesehatan mentalnya sehingga ia memutuskan mengundurkan diri.
“Saya bukan mengundurkan diri karena tidak mampu bertahan, tetapi karena tidak ingin terus berada dalam situasi yang bertentangan dengan nilai yang saya pegang,” ujarnya.
Eks Area Manager Bantah Tuduhan
Menanggapi pernyataan tersebut, Diah membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menegaskan setiap kebijakan yang diambil selama menjabat sebagai atasan dilakukan berdasarkan prosedur perusahaan dan hasil evaluasi kinerja.
Menurut Diah, mantan karyawan tersebut memang sempat menjadi perhatian dalam evaluasi internal karena dinilai belum memenuhi standar perusahaan, baik dari aspek penguasaan produk, pencapaian key performance indicator (KPI), maupun kedisiplinan pelaporan aktivitas lapangan.
“Hasil pengecekan menunjukkan lokasi yang dilaporkan berbeda dengan lokasi sebenarnya. Ternyata lokasinya beda, tidak di rumah sakit yang dilaporkan,” kata Diah.
Meski demikian, ia mengaku tetap memberikan pendampingan selama beberapa bulan agar karyawan tersebut dapat meningkatkan kompetensinya.
“Saya me-backup full anak tersebut untuk memberikan pengetahuan dan menaikkan skill,” ujarnya.
Diah mengatakan keputusan mengakhiri hubungan kerja bukan diambil olehnya, melainkan oleh Sales Manager bersama Divisi Human Resources (HR).
“Itu langsung atasan saya yang melakukan tanpa koordinasi lagi ke saya. Saya juga pada saat itu merasa dilangkahi karena tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” katanya.
Ia juga membantah tuduhan mengenai dugaan penyalahgunaan dana perusahaan.
“Kalau dibilang korupsi itu terlalu jahat menurut saya, karena tidak ada uang perusahaan yang masuk ke kantong pribadi saya. Sama sekali. Itu pun bisa saya pertanggungjawabkan dan bisa di-track,” tegasnya.
Menurut Diah, persoalan yang terjadi berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan internal perusahaan, bukan penyimpangan keuangan.
Terkait tuduhan mengenai hubungan yang tidak profesional maupun isu personal lainnya, Diah menyatakan seluruh tuduhan tersebut tidak memiliki bukti.
“Itu bisa dibuktikan kalau ada bukti. Masalahnya tidak ada bukti. Kalau cuma desas-desus dan sepertinya kelihatan-kelihatannya, padahal saya memperlakukan tim saya dengan baik,” ujarnya.
Penulis : Pujiawan
Editor : Redaktur






