Meja Makan Tak Lagi Menjadi Tempat yang Aman untuk Bercerita

| PENAMARA . ID

Senin, 25 Mei 2026 - 23:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi : Vectorpouch/Magnific

Ilustrasi : Vectorpouch/Magnific

Suara denting sendok dan piring biasanya menjadi melodi hangat untuk menutup hari, kini hanya menjadi suara latar yang hambar di ruang makan keluarga.

Meja makan yang dulunya merupakan “safe space” bagiku, tempat tawa dan air mata ditumpahkan, kini hanya menjadi tempat makan Bersama tetapi hati kita tidak pernah benar-benar berkumpul di meja itu.

Walaupun kita duduk berdekatan hingga lengan saling bersentuhan, namun secara emosional jarak kita terasa ribuan kilometer, berada di ruangan yang sama tetapi merasa asing satu sama lain.

Aku hanya ada secara fisik; duduk berdampingan, tetapi aku merasa jiwaku mengambang sendirian karena tidak ada ruang untuk aku bercerita.

Di meja ini, aku sadar bahwa ayah ibuku bukan tipe yang bisa mendengar dengan hati; tapi hanya mendengar suaraku dan tidak benar-benar menangkap ceritaku. Setiap kali aku mencoba membuka sedikit celah tentang lelah atau luka, percakapan selalu dialihkan.

Curhatanku selalu dibalas dengan alasan-alasan masuk akal versi orang tuaku, sampai aku merasa perasaanku tidak dianggap penting. Akupun merasa terjebak dalam suasana yang dingin.

Sepertinya aku duduk di sini hanya untuk mengisi syarat agar kursi tidak kosong. Karena setiap kali aku membuka suara, aku merasa sedang berbicara dengan tembok tanpa pintu.

Mereka tidak pernah sadar bahwa jawaban “aku gapapa” sebenarnya adalah caraku untuk berhenti berharap karena aku tahu, sedalam apapun aku bercerita, respon yang kuterima hanyalah formalitas.

Hingga meja makan kini bukan lagi zona aman untuk membagi beban hidup, melainkan hanya ruang persinggahan singkat untuk mengisi tenaga sebelum akhirnya kita kembali mengunci diri di kamar masing-masing. Karena tidak ada yang benar-benar bersedia untuk menyediakan telinga.

Sampai akhirnya, aku mencari ketenangan di luar sana—mencari di orang lain dan lingkungan baru yang ternyata lebih mampu untuk memanusiakan perasaanku tanpa menghakimi.

Sikap dingin yang sudah menjadi kebiasaan ini membuatku belajar menyimpan luka sendirian, hingga mataku redup perlahan tanpa ada yang menyadari.

Meja makan yang seharusnya menjadi ruang aman untuk berbagi rasa, kini menjadi saksi bisu betapa jauhnya jarak antara kita meski berada di tempat yang sama.

Jika interaksi di meja makan hanya menjadi rutinitas yang hambar, maka rumah ini tidak akan pernah terasa seperti rumah. Aku hanya merindukan momen sederhana, dimana aku bisa bebas berbicara tanpa merasa bahwa perasaanku adalah sesuatu yang biasa saja bagi kalian. Aku merindukan waktu dimana aku didengar, bukan hanya sekedar memastikan bahwa kebutuhanku sudah terpenuhi.

“Pada akhirnya, jika tidak menemukan tempat untuk bersandar di rumah ini, aku akan menemukannya di tempat lain dan itu adalah ketakutan terbesarku. Karena nyatanya, hal tersulit bukanlah saat kita jauh dari rumah, melainkan saat merasa sendiri tepat di depan mata kalian.”

Artikel Lain :

Sering Resign Sebuah Paradoks Gen Z di Dunia Kerja

Gagal Jadi Tentara, Justru Menemukan Panggilan Hidup di Kelas Anak Berkebutuhan Khusus

 

Penulis : Selly Lalita Putri

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Langen Budaya Hadilangu ajak Lestarikan Budaya Tradisional dengan Tembang Dolanan
Pendidikan di Negara Lain Sudah Punya Arah, Pendidikan Indonesia Mau Mencetak Apa?
Intelektual kok Egois?
Sumbing dan Iming-imingnya
Bolehkah Dua Orang Berbeda, Berjalan ke Arah yang Sama?
Demonstran ke Rutan Salemba: Catatan Seorang Tahanan Politik
Kegagalan Bagian dari Manusia, Bukan untuk Dihindari
Secangkir Kopi, Sejuta Cerita: Membaca Kepribadian dari Cara Kita Menyeduh
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:17 WIB

Langen Budaya Hadilangu ajak Lestarikan Budaya Tradisional dengan Tembang Dolanan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 04:24 WIB

Pendidikan di Negara Lain Sudah Punya Arah, Pendidikan Indonesia Mau Mencetak Apa?

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:03 WIB

Intelektual kok Egois?

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Sumbing dan Iming-imingnya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 06:23 WIB

Bolehkah Dua Orang Berbeda, Berjalan ke Arah yang Sama?

Berita Terbaru