Mengapa dua manusia yang saling mencintai harus berpisah hanya karena mereka menemukan Tuhan melalui jalan yang berbeda? Pertanyaan yang mungkin mengganggu sebagian di antara kita.
Kita lahir tanpa memilih suku apa yang menjadi milik kita. Kita lahir tanpa memilih warna kulit, tempat kita dilahirkan, bahkan tanpa memilih keluarga seperti apa yang akan membesarkan kita. Begitu pula dengan agama.
Sebagian besar dari kita mengenal Tuhan melalui keluarga, lingkungan, budaya, dan tempat kita dilahirkan. Namun, ketika dewasa, kita menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai alasan untuk menentukan siapa yang boleh kita cintai. Di situlah saya mulai bertanya:
Apakah Tuhan benar-benar membenci perbedaan yang diciptakan-Nya sendiri?
Apakah dua manusia yang saling mencintai menjadi kurang bernilai di hadapan Tuhan hanya karena mereka mengenal-Nya melalui jalan yang berbeda?
Atau apakah Tuhan begitu takut dengan perbedaan sehingga manusia harus memastikan bahwa orang yang kita cintai berasal dari kelompok atau keyakinan yang sama?
Atau mungkinkah sebagian dari larangan dan batas yang kita anggap sebagai kehendak Tuhan sebenarnya juga dipengaruhi oleh cara manusia memahami, menafsirkan, dan menerapkan agama?
Saya tidak memiliki keberanian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu atas nama Tuhan. Tetapi saya pikir manusia punya hak untuk bertanya. Mempertanyakan bukan berarti tidak percaya, bertanya adalah keberanian untuk berpikir jujur.
Tapi mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah agama itu sendiri, melainkan bagaimana manusia ketika menggunakan dan menerapkan agama. Sebab sepanjang sejarah, manusia selalu menemukan sesuatu untuk dijadikan “pembatas”.
Dahulu, dalam masyarakat periode tertentu, batas itu bisa berupa suku dan adat. Siapa boleh menikah dengan siapa ditentukan oleh garis keturunan, kekerabatan, atau kelompok sosial. Hari ini, dalam banyak masyarakat, agama menjadi salah satu identitas yang sangat menentukan dalam kehidupan, termasuk dalam menentukan pasangan.
Kita tidak akan menyederhanakan sejarah manusia sekadar “dulu suku, sekarang agama”.
Namun, saya melihat sebuah kecenderungan yang menarik: manusia selalu mencari alasan untuk menentukan siapa yang termasuk “kita” dan siapa yang termasuk “mereka”. Dan ketika batas itu masuk ke dalam cinta, persoalannya menjadi semakin rumit.
Kita tidak mempermasalahkan ketika seseorang berteman dengan orang yang berbeda agama. Kita tidak mempersoalkan ketika orang yang berbeda agama bekerja bersama. Bahkan ketika terjadi bencana, kita tidak bertanya apa agama orang yang kita selamatkan.
Tetapi ketika dua manusia berkata, “Kami ingin hidup bersama,” tiba-tiba agama dapat berubah menjadi tembok. Dan tembok itu ternyata bukan hanya berdiri di antara manusia. Ia juga hadir dalam hukum.
Di Indonesia, Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Kemudian, SEMA No. 2 Tahun 2023 memberikan pedoman kepada hakim bahwa pengadilan tidak mengabulkan permohonan pencatatan perkawinan antarumat berbeda agama.
Hal ini membuat saya mulai bertanya-tanya: apakah sistem hukum kita sudah cukup dewasa dalam menghadapi masyarakat yang memang hidup dalam perbedaan? Sebab masyarakat Indonesia hari ini hidup dalam ruang yang jauh lebih kompleks. Kita berbeda suku, budaya, keyakinan, dan cara memahami kehidupan, tetapi semuanya tetap berada dalam satu negara.
Hukum dibuat untuk mengatur manusia yang nyata, bukan manusia yang seragam. Dan manusia yang nyata tidak selalu lahir dengan keyakinan yang sama. Mereka juga tidak selalu membangun keluarga dengan seseorang yang memiliki latar belakang yang sama.
“Kedewasaan” hukum tidak hanya dilihat dari kepastiannya menghadapi mahluk sosial yang heterogen, tetapi juga dari seberapa bijaksana ia mengelola perbedaan, yang mungkin di antara batas tersebut menciptakan kemajuan pada sistem hukum itu sendiri.
Menariknya, gagasan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan perpisahan bukan hanya sesuatu yang saya bayangkan secara filosofis.
Dalam Gereja Katolik, misalnya, hukum kanonik mengenal kemungkinan perkawinan antara seorang Katolik dan seseorang yang bukan Katolik. Gereja membedakan antara perkawinan dengan orang Kristen non-Katolik yang telah dibaptis dan perkawinan dengan orang yang tidak dibaptis. Keduanya memiliki ketentuan yang berbeda, termasuk izin atau dispensasi tertentu.
Artinya, setidaknya dalam contoh ini, perbedaan tidak selalu harus dihapus. Perbedaan dapat diakui, dibicarakan, dan dikelola.
Mungkin kedewasaan hukum bukan hanya tentang seberapa tegas kita membuat batas, tetapi juga tentang kemampuan kita mencari jalan agar manusia yang berbeda tetap dapat hidup bersama tanpa harus menghilangkan perbedaannya.
Lalu saya kembali kepada pertanyaan yang lebih sederhana:
Apa sebenarnya arti “menjadi satu”?
Kita sering mengatakan bahwa pernikahan adalah penyatuan dua manusia. Dua menjadi satu.
Tetapi apakah menjadi satu berarti dua orang harus memiliki agama yang sama, suku yang sama, budaya yang sama, cara berpikir yang sama, bahkan cara memandang Tuhan yang sama?
Kalau memang demikian, bukankah kita sebenarnya sedang mencari seseorang untuk menjadi cerminan dari diri kita sendiri?
Sebagai seorang kuli masak yang sehari-hari berkutat di dapur, saya menemukan sebuah analogi sederhana: kari ayam. Ketika kita membuat kari ayam, kita ingin menghasilkan satu hidangan. Satu kari ayam. Tetapi untuk menghasilkan satu hidangan itu, kita membutuhkan bahan-bahan yang berbeda. Ada ayam, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, cabai, santan, garam, dan berbagai rempah lainnya.
Tidak ada yang meminta kunyit untuk menjadi bawang putih. Tidak ada yang meminta bawang putih untuk menjadi jahe. Masing-masing tetap menjadi dirinya sendiri.
Masing-masing memiliki rasa, aroma, dan fungsi yang berbeda. Satu, tetapi tidak sama.
Lalu mengapa dalam hubungan manusia kita sering berpikir sebaliknya?
Mengapa untuk menjadi satu, kita merasa dua manusia harus terlebih dahulu menjadi sama?
Mungkin masalahnya bukan pada perbedaan. Mungkin masalahnya adalah ketidakmampuan kita menerima bahwa sesuatu dapat menjadi utuh tanpa harus seragam.
Saya percaya manusia suatu hari akan sampai pada titik yang berbeda. Bukan berarti manusia akan berhenti percaya kepada Tuhan. Bukan berarti agama akan hilang. Dan bukan berarti semua agama dianggap sama.
Mungkin suatu hari nanti kita akan berhenti bertanya, “Bagaimana mungkin kamu menikah dengan orang yang berbeda keyakinan?”
Dan mulai bertanya:
Apakah kalian saling menghormati? Apakah kalian saling menjaga?
Apakah kalian mampu membesarkan anak dengan kasih?
Apakah kalian mampu tetap menjadi manusia yang baik meskipun kalian berbeda?
Sebab pada akhirnya, bagi saya, pernikahan bukanlah perlombaan untuk menemukan manusia yang paling mirip dengan kita.
Menikah dengan seseorang yang sama dengan kita dalam segala hal mungkin membuat hidup terasa lebih mudah.
Tetapi mencintai seseorang yang berbeda dan tetap memilih untuk menghormatinya membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesamaan. Membutuhkan kedewasaan.
Tentu saya memahami orang yang memilih untuk tidak menikah beda agama. Jika bagi seseorang agama adalah bagian fundamental dari hidupnya dan ia merasa tidak mungkin membangun keluarga dengan seseorang yang berbeda keyakinan, itu adalah haknya.
Saya tidak ingin mengambil keputusan itu dari mereka. Tetapi saya juga tidak ingin keputusan tersebut digunakan untuk menentukan kehidupan semua orang.
Karena mungkin pertanyaan sebenarnya bukan lagi, “Apakah mereka berbeda agama?”
Melainkan: “Apakah mereka mampu mencintai satu sama lain tanpa berusaha menghapus perbedaan yang ada?”
Saya tidak tahu apakah dunia akan benar-benar seperti itu. Tetapi saya ingin percaya bahwa manusia akan terus berkembang.
Dahulu kita membatasi cinta dengan suku. Kemudian berdasarkan kelas sosial. Di tempat dan zaman tertentu, berdasarkan ras. Dan mungkin suatu hari nanti, kita akan melihat kembali perdebatan tentang cinta beda agama seperti kita melihat sebagian batas-batas lama manusia hari ini: sebagai bagian dari perjalanan manusia dalam memahami satu sama lain.
Mungkin agama akan tetap ada. Mungkin Tuhan akan tetap menjadi pusat kehidupan manusia. Tetapi mungkin manusia juga akan menyadari satu hal sederhana:
Memiliki keyakinan yang berbeda tidak membuat dua insan tidak bisa bersatu. Dan mencintai seseorang yang berbeda tidak selalu berarti mengkhianati Tuhan.
Sebab pada akhirnya, kita semua sedang berdiri di hadapan misteri yang sama. Misteri tentang dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan pergi. Kita mungkin memiliki jawaban yang berbeda.
Tetapi bukankah aneh jika karena jawaban yang berbeda itu, kita kemudian merasa berhak menentukan siapa yang boleh dicintai?
Bagi saya, cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sama persis dengan kita. Cinta adalah menemukan seseorang yang berbeda, kemudian berkata:
“Aku tahu kita tidak sama, tetapi aku tetap memilih berjalan bersamamu.” Karena mungkin menjadi satu tidak pernah berarti menjadi sama.
Mungkin menjadi satu berarti dua manusia yang berbeda memilih untuk tidak saling menghancurkan hanya karena mereka berbeda. Dan mungkin, justru di situlah kita benar-benar mulai memahami arti cinta.
Artikel Lain :
Secangkir Kopi, Sejuta Cerita: Membaca Kepribadian dari Cara Kita Menyeduh
Healing ke Pantai Sawarna, Menemukan Ketenangan di Balik Perjalanan Panjang
Penulis : Montiano Geraldy Syahputra
Editor : Devis Mamesah






