Healing ke Pantai Sawarna, Menemukan Ketenangan di Balik Perjalanan Panjang

| PENAMARA . ID

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: via Pinterest @Fha'

Foto: via Pinterest @Fha'

Bagi warga Tangerang yang setiap hari akrab dengan kepungan macet, riuh klakson, dan kepulan polusi, kata “healing” bukan lagi sekadar tren di media sosial. Itu adalah sebuah kebutuhan mutlak untuk menjaga kewarasan. Momen libur Lebaran kemarin menjadi waktu yang paling dinantikan.

Di saat orang-orang sibuk mudik atau bersilaturahmi, saya bersama sahabat terdekat memutuskan untuk memanfaatkan momen libur panjang ini dengan kabur sejenak dari rutinitas. Tujuan kami satu: Pantai Sawarna di ujung selatan Banten.

Tanpa menggunakan kendaraan umum atau tiket travel, kami memilih menantang diri dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan touring kami dimulai sejak dini hari, tepatnya jam 2 pagi. Jarak dari Tangerang menuju Sawarna saat musim libur Lebaran benar-benar menguji fisik dan kesabaran. Akibat padatnya arus lalu lintas khas liburan, kami harus menempuh perjalanan darat di atas motor selama hampir 10 jam.

Tepat jam 12 siang, kami akhirnya tiba di penginapan dengan kondisi tubuh yang sudah sangat lelah dan pegal-pegal. Tanpa pikir panjang, kami memutuskan untuk langsung beristirahat total guna memulihkan tenaga yang terkuras sepanjang jalur lintas selatan yang berkelok.

Rasa lelah berkendara itu terbayar tuntas saat sore hari tiba. Kami bergegas menuju tepi pantai untuk mengabadikan momen. Di sanalah saya mendapatkan pemandangan senja yang luar biasa indah momen ketika matahari perlahan mulai tenggelam dan langit keemasan perlahan berganti menjadi malam. Keasyikan tidak berhenti di situ. Pada malam harinya, kami kembali menelusuri pantai.

Uniknya, saat itu air laut sedang surut jauh ke tengah, menyisakan area pasir yang luas dan hamparan karang yang tenang tanpa deburan ombak besar. Di tengah kegelapan malam, kami asyik berburu momen sederhana namun seru: menemukan binatang-binatang laut kecil seperti kepiting pantai yang bersembunyi di balik karang.

Menjaga Kedamaian Jiwa Lewat Ibadah

Di balik semua keseruan, lelahnya touring, dan kebebasan liburan, ada satu hal yang tidak boleh luntur. Bagi saya, ke mana pun roda motor menggelinding pergi, esensi sebagai seorang Muslim tidak boleh ditinggalkan. Liburan dan mencari ketenangan bukan alasan untuk melupakan kewajiban kepada Sang Pencipta.

Ibadah tetap menjadi fondasi utama yang wajib dijaga. Momen paling syahdu justru terjadi ketika waktu Subuh datang. Di saat sahabat-sahabat saya masih terlelap karena kelelahan berkendara, saya terbangun untuk menunaikan shalat dan melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an di tengah keheningan pagi Sawarna.

Melantunkan ayat suci di dekat hamparan laut lepas memberikan rasa damai dan tenteram yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Menghubungkan diri dengan Tuhan di tempat yang baru justru menjadi puncak dari healing yang sesungguhnya.

Keesokan paginya, energi kami sudah penuh kembali. Kami menghabiskan waktu dengan bermain ombak di tepi pantai. Tidak terasa, tiga jam berlalu begitu cepat dalam tawa dan candaan. Di momen itu, saya benar-benar merasakan kebahagiaan yang murni dan utuh.

Batas Tipis Antara “Refreshing” dan “Pelarian”

Fenomena menempuh perjalanan jauh dengan motor seperti yang saya lakukan saat libur Lebaran ini memang sedang menjamur di kalangan generasi muda urban. Tempat-tempat yang menawarkan ketenangan kerap menjadi tujuan utama untuk menyegarkan kembali pikiran yang buntu. Namun, perjalanan ke Sawarna ini mengajarkan saya banyak hal. Dalam dunia psikologi populer, batas antara mencari penyegaran pikiran (refreshing) dan pelarian (escapism) memang sangat tipis.

Banyak orang rela pergi jauh-jauh bukan karena mereka ingin menikmati alam, melainkan karena mereka sedang berlari dari konflik di dunia nyata entah itu tekanan pekerjaan, masalah hubungan, atau kecemasan masa depan.

Jalan-jalan sering kali menjadi “obat bius” instan yang sangat nyaman. Namun, kebahagiaan itu sering kali memiliki tanggal kedaluwarsa yang sangat cepat. Begitu liburan usai dan kita harus kembali ke kota asal, realita yang melelahkan itu ternyata masih setia menunggu di meja yang sama.

Menjadikan Perjalanan Lebih Bermakna

Menikmati waktu jeda, bersenang-senang, bermain ombak selama berjam-jam, dan tertawa lepas bersama sahabat adalah hal yang sangat valid dan luar biasa baik. Jiwa kita memang sesekali butuh diistirahatkan dari bisingnya dunia. Namun, esensi dari traveling atau touring yang sehat adalah perjalanan yang membawa pulang solusi, kedamaian spiritual, dan energi baru untuk menghadapi hari esok, bukan sebuah pelarian permanen.

Liburan harus dijadikan sarana untuk mengumpulkan tenaga guna menghadapi masalah, bukan tempat bersembunyi untuk melarikan diri dari kenyataan. Melalui ibadah yang tetap terjaga di tengah perjalanan, kita diingatkan bahwa ketenangan sejati itu sejatinya bersumber dari dalam hati kita sendiri.

Artikel Lain :

Kabar Gembira untuk Penulis, Pajak Royalti Buku Dipangkas dari 6 Persen Jadi 1,5 Persen

Forum Potensi Tangsel Gelar Monitoring Sungai Ciputat, Petakan Titik Rawan Banjir

Penulis : Utami Zulhanidah

Editor : Agnes Monica

Berita Terkait

Inaugurasi Tidak Harus Ramai, yang Penting Bermakna: Membangun Solidaritas dan Disiplin di Era Digital
Capek Mikir Sendiri, Overthinking Memang Hal yang Jarang Diakui
Kurban Idul Adha; Adanya Mekanisme Ekonomi Canggih untuk Dianggap Sekadar Ibadah
Refleksi Jujur tentang Kegagalan yang Akan Membawamu Jauh Melangkah
Meja Makan Tak Lagi Menjadi Tempat yang Aman untuk Bercerita
Keluhan soal Parkir Liar Akhirnya Direspons dan Dalam Tahap Uji Coba Akhir Pekan
Mahasiswa Universitas Pamulang Kembali Laksanakan PKM di SMAN 74 Jakarta, Angkat Isu Kekerasan Seksual
Sering Resign Sebuah Paradoks Gen Z di Dunia Kerja

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:45 WIB

Healing ke Pantai Sawarna, Menemukan Ketenangan di Balik Perjalanan Panjang

Sabtu, 30 Mei 2026 - 21:42 WIB

Inaugurasi Tidak Harus Ramai, yang Penting Bermakna: Membangun Solidaritas dan Disiplin di Era Digital

Kamis, 28 Mei 2026 - 21:29 WIB

Capek Mikir Sendiri, Overthinking Memang Hal yang Jarang Diakui

Rabu, 27 Mei 2026 - 12:54 WIB

Kurban Idul Adha; Adanya Mekanisme Ekonomi Canggih untuk Dianggap Sekadar Ibadah

Selasa, 26 Mei 2026 - 00:00 WIB

Refleksi Jujur tentang Kegagalan yang Akan Membawamu Jauh Melangkah

Berita Terbaru