Di saat jutaan warga merayakan libur nasional dan riuk kemerdekaan, Ahmad Sobirin dan para petugas bendung bertaruh dengan angin malam, 60 anak tangga curam, dan debit air yang tak pernah tidur.
Angin pagi, siang, dan malam di atas Bendung Pasar Baru, Kota Tangerang, selalu punya cara sendiri untuk menusuk hingga ke tulang. Di ketinggian sepuluh meter, bertengger di atas konstruksi peninggalan era kolonial Belanda, gumpalan angin dan gemuruh aliran Sungai Cisadane menjadi pemandangan saban hari bagi Ahmad Sobirin. Bagi pria yang bekerja sebagai Petugas Operasional Bendung (POB) ini, tak ada istilah tanggal merah atau riuk perayaan yang sanggup menghentikan langkah kakinya.
Ketika sebagian besar warga Jabodetabek menikmati kehangatan berkumpul bersama keluarga pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus, hingga perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, Sobirin justru menapaki 60 anak tangga yang melingkar curam. Langkahnya pasti, menyusuri lorong mekanik demi memastikan pintu-pintu bendung bergeser tepat milimeter.
”Kebetulan hari ini shift pagi. Enggak ikut upacara kayaknya, masuk jam 7 pagi pulang jam 3 sore,” tutur Sobirin terkekeh. Tak ada raut kecewa. Kalaupun ingin merasakan atmosfer perayaan, ia hanya mengandalkan sisa waktu sepulang kerja. “Mungkin sela-sela pulang kerja masih bisa lihat pertandingan di kampung, mudah-mudahan masih ada,” tambahnya.
”Lelah kami ini secara pribadi saya menafsirkan bahwa ini adalah ibadah. Untuk menjaga sumber kehidupan manusia.” Kata Ahmad Sobirin, Petugas Operasional Bendung Cisadane Pasar Baru Senin (17/8/26)
”Kalau pas hari libur terus kita kebetulan masuk shift, ya mau enggak mau. Orang-orang pagi-pagi ke masjid atau ikutan lomba, kita berangkat kerja,” tutur Sobirin tenang. Ada rasa getir yang tersembunyi halus di balik senyumnya, namun tertutupi oleh besarnya rasa tanggung jawab yang ia pikul di pundaknya.
Ritme Presisi 24 Jam
Pengelolaan Bendung Pasar Baru bukanlah urusan sepele yang bisa ditinggal sambil lalu. Di bawah naungan instansi pengelola DAS Cisadane, operasional bendungan dijaga ketat dalam sistem 24 jam penuh tanpa henti.
Sebanyak empat regu digilir dalam tiga rotasi shift kerja. Setiap regu beranggotakan empat orang petugas yang bahu-membahu mengawal denyut sungai.
Ritme kerja di sini amat presisi. Setiap satu jam sekali, petugas wajib mencatat dan melaporkan Tinggi Muka Air (TMA) serta menghitung alokasi debit air dalam buku log harian. Ketelitian ini menjadi benteng utama Kota Tangerang dari ancaman ganda: bencana banjir bandang di musim hujan atau krisis air bersih di musim kemarau.
”Jadi kita mau shift malam juga kita enggak tidur. Laporan kita per satu jam. Kalaupun mau istirahat, paling nyolong-nyolong gantian satu jam,” jelas Sobirin. Dalam kegelapan malam, ancaman bukan hanya rasa kantuk. Hujan deras, kilatan petir, hingga hempasan angin kencang di atas bentangan bendungan menjadi kawan bertukar sapa yang tak jarang memicu sakit badan.
Antara Otomatisasi dan Taruhan Bencana
Bekerja di struktur bersejarah yang mengandalkan tombol kendali di puncak bendungan mengharuskan fisik tangguh. Sobirin dan rekan-rekannya harus bolak-balik memanjat tangga fisik yang lumayan menguras stamina. Ketika ditanya mengapa sistem pengoperasian pintu air berat tersebut tak sepenuhnya diubah menggunakan remote control jarak jauh dari bawah, Sobirin menjelaskan pertimbangan teknisnya.
“Memang ada titik lain seperti Intake Timur yang sudah pakai remote. Tapi untuk pintu bendung berbeban sangat berat di sini, kalau pakai sistem otomatis jarak jauh dan terjadi kendala teknis atau mati listrik mendadak, risikonya jauh lebih besar,” terangnya. Setiap keputusannya melibatkan keselamatan jutaan jiwa di hilir sungai.
Jika debit air kiriman meluap dari kawasan Batu Belah di hulu, Sobirin adalah orang pertama yang harus merespons cepat: membuka pintu untuk membuang kelebihan air. Sebaliknya, jika debit menyusut, pintu disesuaikan agar pasokan air baku untuk industri dan rumah tangga di Tangerang tetap terjaga aman.
Sunyi di Balik Kehidupan Kota
Tanpa pengawalan ekstra dari petugas POB seperti Ahmad Sobirin, dinamika Sungai Cisadane bisa berujung petaka. Ketiadaan petugas di gardu pantau dapat membuat stabilitas air kacau dalam hitungan jam—menyebabkan banjir bandang yang merendam pemukiman atau kelangkaan air bersih yang melumpuhkan kota.
Namun, di balik baju seragam yang diterpa hujan dan petir, Sobirin memandang tugasnya bukan sekadar rutinitas mencari nafkah. Ada dimensi pengabdian yang lebih mendalam yang terus menyalakan semangatnya.
”Kami bersyukur bertugas di sini. Sebab lelah ini saya tafsirkan sebagai ibadah untuk menjaga sumber kehidupan manusia,” pungkas Sobirin mantap. Di balik keheningan malam dan deru air Cisadane yang tak pernah berhenti mengalir, Ahmad Sobirin dan kawan-kawan terus setia bersiaga—menjadi pahlawan sunyi yang memastikan Kota Tangerang tetap bernapas lega.
Artikel Lain :
Green Ribbon dan Perjuangan Merebut Kembali Agenda Ekologis
HUT RI, Warga Kota Tangerang Bisa Pasang Air Bersih Cuma Rp237 Ribu, Diskon 81 Persen
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






