Kalau ada pertanyaan yang usianya lebih tua daripada sebagian hubungan percintaan di Indonesia, mungkin bunyinya begini: “Kapan nikah?” Pertanyaan ini ajaib. Ia bisa muncul di mana saja. Di kondangan, di ruang tamu saat Lebaran, di grup WhatsApp keluarga, bahkan ketika kita cuma mampir lima menit buat nganterin rantang. Seolah-olah status pernikahan lebih mendesak untuk dibahas daripada harga cabai yang naiknya lebih konsisten daripada gaji.
Lucunya, perempuan dan laki-laki menerima interogasi yang berbeda. Sepupu perempuan biasanya disapa dengan, “Sudah punya pacar?” atau “Jangan kelamaan milih, nanti keburu umur.” Sementara sepupu laki-laki lebih sering dihujani pertanyaan lain: “Sekarang kerja di mana?” “Sudah jadi pegawai tetap?” “Gajinya cukup?” Tanpa sadar, keluarga besar sedang memainkan dua standar yang berbeda. Yang satu didorong agar segera menemukan pasangan. Yang satu lagi didorong agar terlebih dahulu menemukan kepastian.
Dari situlah saya mulai curiga. Jangan-jangan laki-laki memang memandang pernikahan dengan cara yang berbeda. Bukan lebih serius, bukan pula lebih santai, melainkan lebih penuh hitung-hitungan. Bagi banyak laki-laki, menikah itu mirip menandatangani kontrak jangka panjang. Yang dipikirkan bukan cuma hari akad, melainkan hari-hari setelahnya: ketika uang sekolah anak jatuh tempo, orang tua mulai sering keluar-masuk rumah sakit, harga kebutuhan pokok naik diam-diam, sementara gaji tetap berjalan santai seperti siput yang kehilangan motivasi.
Makanya saya sering tersenyum setiap mendengar kalimat, “Kalau sudah nikah, rezeki pasti mengikuti.” Kalimat itu memang menenangkan. Hanya saja, pengalaman hidup mengajarkan bahwa yang paling disiplin mengikuti setelah menikah justru tagihan. Listrik datang tanpa perlu diundang. Kontrakan tidak pernah lupa tanggal. Harga beras nyaris tak pernah berempati. Sementara rekening kadang memilih bersikap seperti mantan: ada, tetapi sulit dihubungi saat benar-benar dibutuhkan.
Steve Harvey pernah memperkenalkan istilah biological clock dan financial clock. Terlepas apakah kita sepakat atau tidak dengan penyederhanaan itu, analoginya menarik. Banyak perempuan hidup dengan kesadaran bahwa tubuh memiliki ritmenya sendiri. Waktu biologis terus bergerak, dan tidak semua hal bisa ditunda tanpa konsekuensi. Sementara di kepala banyak laki-laki, yang berdetak justru jam finansial. Bukan jam yang menunjukkan pukul berapa, melainkan jam yang terus bertanya: “Kalau menikah sekarang, apa kamu benar-benar siap menanggung hidup orang lain?”
Di sinilah dua cara memandang waktu sering bertabrakan. Perempuan merasa waktu terus berlari. Laki-laki merasa kestabilan belum juga datang. Yang satu melihat kalender, yang satu melihat saldo rekening. Yang satu takut terlambat membangun keluarga, yang satu takut gagal mempertahankan keluarga yang sudah dibangun. Dari luar, perbedaan itu sering diterjemahkan sebagai kurang cinta atau kurang komitmen. Padahal, yang sedang bekerja bukan perasaan, melainkan cara masing-masing membaca risiko.
Mungkin itu sebabnya perdebatan soal “kapan nikah” tidak pernah benar-benar selesai. Sebab yang diperdebatkan bukan tanggal di kalender, melainkan dua jam yang berdetak dengan ritme berbeda. Pernikahan akhirnya bukan soal siapa yang lebih cepat atau siapa yang lebih lambat. Ia adalah soal menemukan seseorang yang bersedia memahami bahwa setiap orang membawa cara berhitungnya sendiri sebelum berani berkata, “Ya, saya siap.”
Artikel Lain :
Tidak Ada Kemerdekaan di Bawah Imperialisme
Groupthink, Fenomena Ketika Kekompakan Malah Mengaburkan Pikiran Kritis dan Keberanian
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






