Kita hidup pada zaman ketika sebuah video dengan durasi kurang dari satu menit dapat menjangkau jutaan orang. Satu unggahan bahkan mampu membuat seseorang terkenal dalam semalam, mendatangkan penghasilan, sekaligus memengaruhi cara publik memahami sebuah persoalan.
Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan penting: apakah setiap orang yang mampu menarik perhatian publik juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang disampaikannya benar dan tidak merugikan?
Pertanyaan ini relevan ketika media sosial semakin dipenuhi konten yang dibuat bukan semata-mata karena memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan, melainkan karena berpotensi viral. Jumlah penonton, komentar, pengikut, dan keuntungan ekonomi perlahan menjadi ukuran keberhasilan. Dalam ekonomi perhatian, konten yang paling sensasional sering kali memperoleh keuntungan lebih besar daripada konten yang paling akurat.
Editorial Kompas belum lama ini menyoroti persoalan etika dalam industri kreator konten. Saya melihat persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan imbauan agar kreator lebih bermoral. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana ekosistem digital memberikan insentif kepada perilaku kreator.
Bukan Sekadar Masalah Moral
Ketika seorang kreator menyampaikan informasi keliru, melakukan promosi yang menyesatkan, atau mengeksploitasi kehidupan pribadi demi mendapatkan penonton, kita cenderung menyalahkan kreatornya. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Kreator memang harus bertanggung jawab atas konten yang diproduksinya.
Namun, persoalannya menjadi lebih kompleks jika melihat cara kerja ekonomi digital. Platform bekerja dengan ekonomi perhatian. Semakin lama seseorang menonton, berinteraksi, dan kembali menggunakan platform, semakin besar nilai ekonominya. Akibatnya, konten yang memancing emosi, kontroversi, rasa ingin tahu, bahkan kemarahan dapat memperoleh jangkauan lebih besar.
Karena itu, krisis etika kreator tidak semata-mata persoalan moral individu. Ada struktur digital yang ikut membentuk perilaku tersebut. Ketika sensasi lebih mudah menghasilkan perhatian daripada akurasi, kreator menghadapi insentif untuk memproduksi apa yang disukai algoritma.
Tidak Semua Kreator Bisa Disamakan
Dorongan untuk mengatur kreator konten tentu perlu dipertimbangkan. Namun, regulasi tidak boleh dilakukan secara serampangan. Kreator konten bukan kelompok yang homogen. Ada yang membuat konten hiburan, membagikan pengalaman pribadi, melakukan review produk, menjadi afiliator, hingga membahas kesehatan, investasi, hukum, politik, dan pendidikan.
Menyamakan seluruh kategori tersebut dalam satu aturan justru dapat menimbulkan masalah baru. Kreator yang membuat video memasak tentu tidak dapat disamakan dengan kreator yang memberikan nasihat investasi kepada jutaan pengikut. Kreator yang menceritakan pengalaman pribadi juga tidak dapat diperlakukan sama dengan seseorang yang menyampaikan klaim kesehatan yang berpotensi memengaruhi keputusan masyarakat.
Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah regulasi berbasis risiko dan dampak. Semakin besar potensi sebuah konten menimbulkan kerugian publik, semakin besar pula tuntutan tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Konten komersial harus transparan mengenai keterkaitannya dengan pengiklan. Konten kesehatan harus memiliki dasar informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Promosi investasi harus menghindari klaim menyesatkan. Konten yang melibatkan anak juga harus memberikan perlindungan terhadap hak dan privasi mereka. Regulasi dengan pendekatan demikian tidak menentukan siapa yang boleh menjadi kreator, melainkan menentukan tanggung jawab ketika seseorang memiliki pengaruh terhadap publik.
Regulasi Saja Tidak Cukup
Meski demikian, regulasi bukan jawaban untuk seluruh persoalan. Aturan yang terlalu kaku dapat berubah menjadi sekadar kepatuhan administratif. Kreator mungkin hanya belajar mencantumkan label iklan atau mengikuti pelatihan tanpa memahami substansi tanggung jawab etik.
Regulasi yang terlalu luas juga berpotensi membatasi kebebasan berekspresi. Media sosial justru membuka ruang bagi masyarakat biasa untuk menyampaikan gagasan yang sebelumnya sulit memperoleh tempat di media konvensional. Karena itu, regulasi harus berjalan bersama edukasi.
Kreator perlu memahami etika digital, transparansi iklan, perlindungan data pribadi, perlindungan anak, verifikasi informasi, hak cipta, serta dampak sosial dari konten yang mereka produksi.
Namun, edukasi tidak boleh berhenti pada kreator. Audiens juga harus memiliki kemampuan untuk bertanya: siapa yang membuat informasi ini, apa kepentingannya, dari mana sumbernya, dan apakah konten tersebut merupakan informasi atau sebenarnya iklan yang dikemas sebagai rekomendasi?
Audiens yang kritis merupakan bentuk pengawasan pasar yang penting. Jika masyarakat berhenti memberikan perhatian kepada konten manipulatif, insentif ekonomi untuk memproduksinya juga akan berkurang.
Tanggung Jawab Platform
Ada satu pihak lain yang tidak boleh luput, yaitu platform digital. Selama ini, tanggung jawab sering dibebankan kepada kreator dan pengguna. Padahal platform memiliki kekuasaan besar dalam menentukan konten apa yang memperoleh distribusi luas. Algoritma bukan sekadar alat teknis. Ia ikut menentukan apa yang dilihat masyarakat, apa yang menjadi tren, dan jenis konten seperti apa yang memperoleh perhatian.
Karena itu, platform harus menjadi bagian dari solusi. Mekanisme pelabelan konten komersial, perlindungan anak, penanganan informasi berbahaya, dan koreksi terhadap konten menyesatkan perlu diperkuat. Pada saat yang sama, transparansi mengenai cara kerja distribusi konten harus terus didorong.
Menjaga Kebebasan, Membangun Tanggung Jawab
Pada akhirnya, persoalan etika kreator konten bukan pertarungan antara kebebasan dan regulasi. Keduanya seharusnya berjalan beriringan. Kita membutuhkan regulasi yang proporsional, edukasi yang berkelanjutan, audiens yang kritis, dan platform yang bertanggung jawab.
Negara tidak perlu menentukan siapa yang boleh menjadi kreator. Namun, negara perlu memastikan bahwa aktivitas digital yang berpotensi merugikan masyarakat memiliki batas dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Kreator tidak harus diperlakukan seperti profesi yang wajib memiliki sertifikat sebelum boleh berbicara. Tetapi semakin besar pengaruh dan dampak kontennya, semakin besar pula tanggung jawab etik yang harus dipikul.
Jangan sampai kita membangun ruang digital di mana yang paling berharga bukan lagi apa yang benar, melainkan apa yang paling ramai. Sebab ketika viral selalu lebih berharga daripada kebenaran, yang kehilangan bukan hanya etika kreator, tetapi juga kualitas ruang publik kita.
Artikel Lain :
Hoaks makin Halus, Literasi saja tidak Cukup
Kebisingan Media Sosial
Kolam Keruh Kebohongan dan Masyarakat yang Berhenti Peduli pada Kebenaran
Penulis : Paimal Andri
Editor : Devis Mamesah






