Setiap tahun, pada periode Februari hingga Juli merupakan masa yang identik dengan pelaksanaan seleksi penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta. Ruang publik pun dipenuhi dengan berbagai informasi mengenai hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru, seiring dengan berakhirnya rangkaian tahapan seleksi. Para calon mahasiswa yang dinyatakan lolos kemudian akan memasuki tahap berikutnya, yaitu kegiatan orientasi atau pengenalan kehidupan kampus.
Pada masa orientasi, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, semangat para mahasiswa baru biasanya akan begitu tinggi. Mereka akan antusias menyambut babak baru dalam perjalanan akademiknya dengan mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan perkuliahan. Persiapan tersebut meliputi penyediaan perlengkapan tulis, pembelian buku-buku penunjang, hingga mulai membaca referensi yang berkaitan dengan program studi yang akan mereka tempuh.
Adapun saat memasuki awal perkuliahan, akan terjadi pula peningkatan semangat dari para mahasiswa baru. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mereka dalam mengikuti kegiatan akademik, seperti datang ke kelas lebih awal sebelum perkuliahan dimulai, aktif mengikuti proses pembelajaran, serta memanfaatkan waktu luang di antara jadwal kuliah untuk mengunjungi perpustakaan untuk menambah referensi studi.
Namun, secara faktual, semangat tersebut kerap tidak mampu dipertahankan oleh sebagian besar mahasiswa. Memasuki pertengahan semester pertama, biasanya mulai terlihat adanya penurunan motivasi belajar yang ditandai dengan meningkatnya keterlambatan hadir di kelas, berkurangnya partisipasi dalam kegiatan akademik, bahkan tidak menghadiri perkuliahan tanpa alasan yang jelas.
Penurunan semangat belajar tersebut kerap berlanjut dan semakin memburuk pada semester-semester berikutnya. Kondisi ini berdampak pada rendahnya capaian pembelajaran, sehingga mahasiswa harus mengulang mata kuliah yang belum memenuhi standar kelulusan.
Akibatnya, masa studi menjadi lebih panjang dari yang seharusnya. Pada tahap semester akhir perkuliahan, rendahnya semangat belajar juga dapat menghambat penyelesaian tugas akhir atau skripsi. Sehingga, mahasiswa berisiko tidak mampu menyelesaikan studinya tepat waktu, bahkan dapat berujung pada putus studi (Drop Out/DO).
Fenomena penurunan semangat belajar tersebut pada dasarnya merupakan bentuk nyata dari Novelty Effect, yaitu sebuah konsep yang menjelaskan adanya efek peningkatan minat, antusiasme, atau ketertarikan seseorang terhadap suatu hal karena adanya unsur kebaruan, bukan karena nilai atau manfaatnya.
Efek tersebut berkaitan erat dengan curiosity atau rasa ingin tahu seseorang yang muncul ketika dihadapkan pada suatu objek yang belum pernah dikenal sebelumnya. Rasa tersebut mendorong keinginan seseorang untuk mengeksplorasi secara lebih intensif, sehingga secara tidak langsung memicu peningkatan keterlibatan dan antusiasme dalam jangka pendek
Ciri utama dari Novelty Effect adalah sifatnya yang sementara. Antusiasme seseorang cenderung mengalami penurunan seiring berjalannya waktu ketika ia mulai terbiasa dengan hal yang sebelumnya dianggap baru. Kondisi ini berkaitan dengan cara kerja otak yang secara alami lebih responsif terhadap rangsangan baru dibandingkan sesuatu yang sudah familiar.
Secara biologis, pengalaman baru dapat memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan perasaan tertarik, senang, dan bersemangat. Namun, ketika pengalaman tersebut berubah menjadi rutinitas, rasa tersebut perlahan berkurang sehingga tingkat ketertarikan dan motivasi pun ikut menurun.
Dalam konteks mahasiswa baru, Novelty Effect dapat terlihat ketika mereka memasuki lingkungan perkuliahan. Pertemuan dengan teman-teman baru, suasana kampus yang asing, sistem pembelajaran yang berbeda, serta pengalaman akademik yang belum pernah dijalani sebelumnya dapat menciptakan rasa antusiasme yang tinggi. Oleh karena itu, pada masa orientasi hingga awal perkuliahan, banyak mahasiswa menunjukkan semangat belajar yang menggebu-gebu.
Akan tetapi, ketika lingkungan dan aktivitas tersebut mulai terasa familiar, semangat yang sebelumnya meningkat, secara perlahan dapat mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh semangat yang muncul sebagai dampak dari nuansa baru dunia perkuliahan, bukan karena kesadaran terhadap nilai maupun manfaat dari perkuliahan itu sendiri bagi perkembangan kehidupan akademiknya.
Oleh karena itu, salah satu upaya yang perlu ditanamkan dalam dunia kampus ialah memberikan pemahaman kepada mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada euforia suasana baru. Mahasiswa perlu menyadari bahwa semangat awal hanyalah pemicu untuk memulai, tetapi tidak menjamin tercapainya keberhasilan. Keberhasilan akademik tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya motivasi pada tahap awal, melainkan oleh kemampuan untuk mempertahankan konsistensi, kedisiplinan, dan komitmen terhadap proses yang telah dimulai, bahkan ketika aktivitas tersebut mulai terasa biasa atau bahkan membosankan.
Artikel Lain :
Tantangan Mahasiswa Baru: Membangun Karakter, Berpikir Kritis, dan Kesadaran Sosial
Teknik Sidang Jadi Bekal Mahasiswa UCA, Forum Organisasi Diminta Jaga Demokrasi
Penulis : Yofi Wahyu Febrian Satria Sejati
Editor : Devis Mamesah






