Bagi sebagian orang, kegagalan bukan lagi sekadar tentang sebuah usaha yang tidak berhasil. Ada saat ketika kegagalan terasa jauh lebih dalam, seolah-olah ia mulai mengatakan sesuatu tentang siapa diri kita. Satu kegagalan mungkin masih bisa kita terima sebagai bagian dari proses. Kita kecewa, merasa sedih, lalu mencoba memahami apa yang salah.
Kendati demikian, di dalam rasa kecewa itu biasanya masih ada sedikit rasa ingin tahu. Masih ada keinginan untuk mencoba sekali lagi, bekerja lebih keras, memperbaiki kesalahan, dan membuktikan bahwa keadaan bisa berubah.
Kegagalan kedua mungkin masih bisa kita sebut sebagai pengalaman. Kegagalan ketiga pun demikian. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa setidaknya kita telah belajar sesuatu. Kita menjadi lebih tahu apa yang harus dilakukan, apa yang sebaiknya dihindari, dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Tetapi ketika kegagalan terus datang, semuanya mulai terasa berbeda.
Pada percobaan berikutnya, kita mungkin tidak lagi berkata, “Aku belum berhasil.” Perlahan, kalimat itu berubah menjadi, “Aku selalu gagal.” Perubahan kecil dalam kalimat tersebut sebenarnya membawa beban yang besar. “Belum berhasil” berbicara tentang keadaan. Sementara “selalu gagal” mulai berbicara tentang identitas.
Kita tidak lagi hanya melihat kegagalan sebagai sesuatu yang terjadi kepada kita, tetapi mulai merasa bahwa kegagalan adalah sesuatu yang melekat pada diri kita. Dari sana, pertanyaan-pertanyaan lain mulai bermunculan. Apakah aku memang tidak cukup mampu? Apakah selama ini aku salah mengambil keputusan? Apakah semua usaha yang kulakukan memang tidak akan pernah membawa hasil? Bahkan, dalam keadaan tertentu, kita bisa sampai mempertanyakan tujuan hidup sendiri.
Apa sebenarnya peranku dalam hidup ini jika berkali-kali aku tidak berhasil? Apakah aku hanya seseorang yang ditakdirkan untuk mencoba, gagal, lalu mencoba lagi tanpa pernah sampai ke tempat yang ingin kutuju? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak muncul begitu saja. Sering kali ia tumbuh dari suara yang terlalu lama kita dengarkan di dalam kepala.
Suara yang terus mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang sudah kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak berjalan sesuai harapan. Suara yang mengatakan bahwa waktu terus berjalan, sementara kita seolah-olah masih berada di tempat yang sama. Lebih berat lagi ketika kita mulai merasa bahwa kegagalan kita tidak hanya berdampak kepada diri sendiri.
Ada orang tua yang kita pikir telah berbuat terlalu banyak untuk kita. Ada keluarga yang mungkin telah mengorbankan banyak hal agar kita memiliki kesempatan yang lebih baik. Ada kebutuhan mereka sendiri yang mungkin mereka kesampingkan. Ada keinginan yang mereka tahan agar kita bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dahulu kita perlukan. Tidak semua pengorbanan itu pernah mereka ceritakan.
Mungkin mereka tidak pernah mengatakan berapa banyak yang telah mereka korbankan. Mungkin mereka juga tidak pernah meminta kita membalas semuanya. Tetapi ketika kita merasa gagal, kebaikan-kebaikan itu terkadang justru berubah menjadi rasa bersalah. Kita mulai berpikir, “Kalau pada akhirnya aku tetap seperti ini, untuk apa semua yang telah mereka berikan?”
Perasaan menjadi beban bagi orang tua bisa muncul bukan karena mereka pernah mengatakan bahwa kita adalah beban. Justru kadang-kadang perasaan itu muncul karena kita tahu mereka telah melakukan begitu banyak hal untuk kita. Kita tahu ada harapan di balik setiap pengorbanan mereka. Dan bukankah orang tua memang wajar memiliki harapan?
Mereka mungkin ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi seseorang yang mandiri, memiliki kehidupan yang baik, dan mampu berdiri dengan kaki sendiri. Mereka mungkin membayangkan masa depan tertentu untuk anak-anaknya. Dalam perjalanan waktu, mungkin mereka pernah bertanya mengapa kita belum menjadi seperti yang mereka bayangkan. Mungkin mereka kecewa. Mungkin mereka juga khawatir. Semua itu mungkin benar.
Menerima kenyataan tersebut tidak selalu mudah. Sebab ketika kita sedang merasa gagal, kekecewaan orang lain bisa terasa jauh lebih besar daripada yang sebenarnya. Kita membawa semua kemungkinan itu ke dalam kepala, lalu mengubahnya menjadi tuduhan terhadap diri sendiri. Di sisi lain, hidup tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena kita sedang gagal.
Hari-hari tetap berjalan. Pagi tetap datang. Orang-orang tetap pergi bekerja, belajar, bertemu teman, membangun kehidupan mereka, dan mengejar tujuan masing-masing. Dunia tidak menyediakan waktu khusus bagi kita untuk berhenti sejenak dan berkata, “Aku sedang kehilangan keberanian. Aku membutuhkan waktu untuk memahami semua ini.”
Tidak ada jeda panjang yang otomatis diberikan kepada seseorang hanya karena rencananya tidak berjalan sesuai harapan. Kita tetap harus bangun. Tetap harus makan. Tetap harus menjalani pekerjaan dan tanggung jawab. Tetap harus menjawab pertanyaan orang lain, meskipun di dalam diri sendiri kita bahkan belum tahu apa yang sedang terjadi. Itulah salah satu bagian paling melelahkan dari kegagalan.
Kita tidak ingin membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja ketika kenyataannya tidak demikian. Ada hal-hal yang memang menyakitkan. Ada harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Ada usaha yang telah menghabiskan waktu, tenaga, dan keberanian, tetapi tidak menghasilkan apa yang kita inginkan. Ada hari-hari ketika motivasi terasa begitu jauh.
Pada hari-hari seperti itu, mungkin kita tidak perlu memaksa diri untuk segera merasa lebih baik. Tidak semua luka harus langsung disembuhkan. Tidak semua kegagalan harus segera diberi makna. Kadang-kadang, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima bahwa hari ini terasa berat, lalu tetap menjalani hari tersebut sebisanya.
Pelan-pelan, kita mulai belajar membedakan dua hal yang selama ini sering tercampur: mengalami kegagalan dan menjadi seorang yang gagal. Kita bisa gagal dalam sebuah pekerjaan tanpa menjadi manusia yang gagal. Kita bisa salah mengambil keputusan tanpa berarti seluruh hidup kita adalah sebuah kesalahan.
Kita bisa kehilangan kesempatan tanpa berarti semua kesempatan telah berakhir. Dan kita bisa tertinggal dari orang lain tanpa berarti kita tidak akan pernah sampai ke mana-mana. Mungkin kita belum menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu sekarang. Mungkin kita belum tahu akan menjadi siapa beberapa tahun dari hari ini. Tidak apa-apa.
Kita tidak selalu harus memiliki gambaran lengkap tentang masa depan untuk mengambil satu langkah berikutnya. Yang penting, kita masih di sini. Masih ada hari yang bisa dijalani. Masih ada keputusan yang bisa dibuat. Masih ada kemungkinan untuk mengubah arah. Masih ada jalan yang belum kita lihat karena selama ini kita terlalu sibuk melihat jalan yang telah gagal kita tempuh.
Mungkin hidup memang tidak berjalan sesuai dengan rencana yang pernah kita buat. Mungkin perjalanan kita ternyata jauh lebih panjang. Mungkin ada bagian-bagian yang harus kita ulang, lepaskan, atau mulai kembali dari awal. Tetapi panjangnya perjalanan tidak menentukan nilai diri kita.
Untuk sementara, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya mengapa kita belum berhasil. Kita hanya perlu terus berjalan, meskipun langkahnya kecil. Kita boleh kecewa. Kita boleh lelah. Kita boleh mengakui bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Jangan biarkan satu bagian dari perjalanan mengambil alih seluruh cerita tentang diri kita. Kegagalan adalah sesuatu yang kita alami. Ia bukan seluruh diri kita. Mungkin keberanian untuk memulai lagi tidak selalu muncul dalam bentuk keyakinan besar. Kadang-kadang keberanian itu hanya berupa keputusan sederhana untuk bangun keesokan harinya dan mencoba menjalani satu hari lagi. Satu langkah. Satu keputusan. Satu kesempatan. Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup.
Sebab hidup kita tidak kehilangan nilainya hanya karena beberapa rencana gagal. Kita tidak menjadi manusia yang kurang berharga hanya karena perjalanan kita lebih lambat daripada orang lain. Kita tidak kehilangan hak untuk berharap hanya karena pernah berkali-kali kecewa. Kita masih memiliki kesempatan untuk mencoba dengan cara yang berbeda.
Kita masih bisa menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Kita masih bisa menjadi seseorang yang belum kita kenal hari ini. Jadi, mungkin kita tidak perlu mengetahui seluruh jawabannya sekarang. Mungkin kita hanya perlu percaya bahwa cerita kita belum selesai. Dan selama cerita itu belum selesai, kegagalan hari ini tidak berhak menentukan siapa kita selamanya.
Artikel Lain :
Ekofeminisme dan Kepemimpinan Perempuan dalam Keadilan Ekologis Indonesia
Resensi Buku: Cantik Itu Luka – Sejarah Kelam Indonesia dalam Balutan Sastra
Penulis : T. H. Hari Sucahyo
Editor : Devis Mamesah






