Demonstran ke Rutan Salemba: Catatan Seorang Tahanan Politik

| PENAMARA . ID

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 02:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi | Sumber : Okezone.com

Ilustrasi | Sumber : Okezone.com

Pengalaman pribadi penulis:
Mansurni Abadi, seorang tahanan politik pasca demonstrasi Agustus 2025 di Rutan Salemba

Setelah waktu buka puasa, tanggal 3 Maret 2026, saya dipindahkan dari Blok A, Rumah Tahanan (Rutan) Kriminal Khusus Polda Metro (PMJ), tempat saya mendekam selama 4 bulan sejak 3 desember 2025 ke Rumah Kelas Satu, Salemba, Jakarta Pusat.

Dalam istilah perpenjara perpindahan dari rutan kepolisian ke rutan permasyarakatan disebut “terbang”. Namun sebelum ke Salemba, terlebih dulu saya menuju ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat untuk menjalani proses pelimpahan berkas dan intrograsi.

Sesampainya saya pada jam 8 malam, waktu setempat, di Kejari Jakarta Pusat. Saya dimasukkan dalam sel kejaksaan, menunggu lebih sejam sebelum akhirnya dibuka untuk proses berkas acara penyelidikan dengan pihak jaksa yang didampingi oleh pengacara saya.

Setelahnya, saya baru dilimpahkan ke Salemba, menggunakan mobil tahanan berukuran kecil — berangkat dengan pengawalan 2 petugas kejaksaan, termasuk yang menyetir mobil.

Selama di Salemba pada malam hari jam 11, saya mengjalani serangkaian proses administrasi dan cek kesehatan meskipun sifatnya hanya formalitas. Kemudian saya dimasukkan di blok penampungan yang seperti aula namun over kapasitas sehingga tidur harus bergantian — selama sebulan.

Blok penampungan itu diisi oleh para tahanan baru atau dengan diistilahkan “OT”, sebelum akhirnya mendapat kamar diblok-blok Rutan Salemba yang proses itu juga punya istilah “turun blok”. Tahanan baru pasti akan merasakan pemalakan dari tahanan lama, terutama dari para “kepala lapak”.

Dalam lapak rasanya seperti nusantara kecil. Beberapa lapak didasarkan kesukuan dan daerah, seperti Lapak Korea untuk orang Sumatera bagian utara, Lapak Plg untuk orang Lampung dan Sumatera Selatan, Lapak Cebokan untuk orang Jakarta, sedangkan untuk orang Jakarta Barat dan Jakarta Pusat disebut Lapak Bar-Pus.

Lalu ada Lapak Cengkareng untuk Banten dan Jawa Barat, Lapak Are untuk orang Jawa, Lapak Boncos untuk orang Timur, sampai Lapak Pengurus untuk yang bertanggung jawab terhadap semua lapak, dan ada Lapak Buaya yang diisi tahanan yang tidak tergabung dalam lapak-lapak yang disebutkan tadi — mereka jadi orang suruhan sesama tahanan.

Saya sendiri sempat dimintai 6 juta, yang tentu saya tolak dan laporkan kepada petugas, setelahnya saya mendapat ancaman pengeroyokan meski tidak sempat terjadi. Pos adalah cara tahanan mendapatkan uang, disana mereka menghubungi kerabat agar ditransfer sejumlah uang menggunakan handphone petugas.

Setelah “turun blok”, saya nenempati kamar B3 di Blok B tipe 7, tipe yang lebih besar dibanding tiga lainnya — tipe 5,3, dan 1. Satu kamar berisi 22 orang, dan ada praktik pungutan liar berupa “uang kamar”, mirip bayar kos namun mingguan.

Praktik yang membuat kamar terbagi dalam dua kelompok, yaitu “anak lorong” bagi tahanan yang tak sanggup bayar kamar, dan “anak kamar” untuk tahanan yang sanggup bayar. Entah beruntung atau tidak, saat itu saya menjadi anak kamar karena dibantu sesama tahanan yang berkemampuan.

Anak kamar dan anak lorong dibedakan oleh fasilitas yang bisa digunakan. Anak kamar bisa mandi di dalam kamar, tetap berada di kamar setelah apel pagi, dan tidur di kasur. Sementara anak lorong harus mandi di WC umum, keluar saat pintu kamar dibuka, dan tidur tanpa kasur.

Besaran uang kamar juga bervariasi di tiap blok. Blok saya sendiri tarif kamarnya 120 ribu per minggu — terkadang mampu dibayar, terkadang tidak. Status sebagai tahanan politik menjadikan saya diperlakukan tidak semena-mena oleh petugas.

Besaran uang kamar bervariasi ditiap bloknya,  diblok saya sendiri untuk tarif kamar seharga 120 ribu perminggu, terkadang saya bayar terkadang juga tidak.  Status sebagai tahanan politik menjadikan saya diperlakukan tidak semena-mena oleh para petugas.

Perjalanan ke persidangan bersama tahanan politik lain jadi hal paling menyiksa bagi saya. Dengan mobil kecil berisi lebih dari 30 orang, membuat kami berdesakan dalam udara pengap dan minim oksigen. Sekali lagi entah untung atau tidak, jarak dari Rutan Salemba ke Kejadi Jakarta Pusat tidak jauh. Jika jaraknya jauh, pasti akan jadi siksaan berat.

Meski begitu, ada cara untuk mendapatkan kenyamanan di dalam kendaraan tahanan, yaitu dengan membayar “cordi tumpangan”. Mereka yang membayar biasanya mendapat tempat duduk yang lebih lega di bagian depan atau belakang mobil.

Rutan Salembat memberitahu kita, dalam penjara, kenyamanan paling sederhana diukur dengan uang, yang tak punya tanggung derita. Dan dari penindasan itu, menjelaskan bagaimana rumah pemasyarakatan betul memperbaiki manusia, atau membuatnya justru semakin buruk.

Artikel Lain :

Sambut HUT Banten ke-26; Banten Bergerak untuk Elite namun Semu bagi Rakyat

Long March ke DPR: WALHI dan Korban Geothermal Banten Suarakan Keadilan Ekologis

Penulis : Mansurni Abadi

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Kegagalan Bagian dari Manusia, Bukan untuk Dihindari
Secangkir Kopi, Sejuta Cerita: Membaca Kepribadian dari Cara Kita Menyeduh
Konsep Anarkisme : hal yang mustahil atau masa depan umat manusia ?
Melihat “Moral Luck” dan Penilaian Publik terhadap Argentina di Piala Dunia 2026
Warmindo – Ruang Ketiga yang Lahir dari Kebutuhan Bukan Gaya Hidup
Risiko Bernama Pernikahan
Guns N’ Roses Akan Konser di Jakarta! Ini Jadwal War Tiket dan Daftar Harganya
Keberuntungan Anak Tunggal Perempuan yang Tak Pernah Diceritakan

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 02:11 WIB

Demonstran ke Rutan Salemba: Catatan Seorang Tahanan Politik

Minggu, 27 September 2026 - 00:16 WIB

Kegagalan Bagian dari Manusia, Bukan untuk Dihindari

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:39 WIB

Secangkir Kopi, Sejuta Cerita: Membaca Kepribadian dari Cara Kita Menyeduh

Rabu, 5 Agustus 2026 - 04:45 WIB

Konsep Anarkisme : hal yang mustahil atau masa depan umat manusia ?

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:13 WIB

Melihat “Moral Luck” dan Penilaian Publik terhadap Argentina di Piala Dunia 2026

Berita Terbaru

Ilustrasi | Sumber : Okezone.com

Penjeda

Demonstran ke Rutan Salemba: Catatan Seorang Tahanan Politik

Sabtu, 10 Okt 2026 - 02:11 WIB