Upaya menghidupkan tradisi sastra di Kota Tangerang mulai digerakan melalui keterlibatan generasi muda. Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tangerang meluncurkan buku antologi puisi karya masyarakat Tangerang.
KNPI juga membuka ruang pembelajaran sastra sastra sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Pemuda dan Bulan Berbahasa. Peluncuran buku berlangsung di Gedung Pemuda KNPI Kota Tangerang pada Jumat (9/10) siang.
Di balik perilisan antologi ini berangkat dari kegelisahan mengenai rendahnya kebiasaan membaca, terbatasnya ruang bagi penulis muda untuk memublikasikan karya, sampai jauhnya kegiatan kesusastraan dari kehidupan sehari-hari bagi para pelajar.
PENAMARA yang menerima tulisan dari para pembaca, klik link ini : PENJEDA
Sebanyak 127 puisi berhasil dihimpun dalam antologi tersebut dari awalnya sekitar 290 karya yang masuk. Puisi yang dikumpulkan berasal dari karya masyarakat yang sebelumnya dibukan KNPI melalui forum Lesehan Sastra Pemuda pada Juli lalu.
Budayawan Banten, Trip, menyambut kegiatan ini dengan optimis. Ia memandang langkah KNPI dapat menjadi pintu masuk bangkitnya budaya sastra di Kota Tangerang. Dia mengajak masyarakat “mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh KNPI, [dan] mudah-mudahan ini langkah awal,” ujar Trip sesuai acara perilisan itu.
Sastra Kembali ke Sekolah
Trip juga menilai, salah satu persolan penting dalam upaya membangkitkan kesusastraan adalah keterputusan ruang pembinaan antara pelaku sastra dengan lingkungan pendidikan. Sekolah, menurut dia, semestinya jadi tempat awal bagi anak-anak untuk mengenal, membaca, mengapresiasi, sekaligus “menciptakan” karya sastra.
Ia juga menekankan, pengembangan sastra tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan bersar ataupun penerbitan buku yang membutuhkan biaya. Sekolah dapat menghidupkan kembali kegiatan menulis dengan menyediakan media publikasi sederhana yang muda dijangkau masyarakat, terutama para pelajar.
Keberadaan majalah sekolah, buletin, atau media publikasi lain juga dapat menjadi sarana untuk mendokumentasikan perkembangan karya pelajar dari waktu ke waktu.
Tantangan Gawai dan Akal Imitasi (AI)
Pesatnya perkembangan teknologi saat ini menjadi “tantangan terberat ya. Bukan cuma HP ya, bukan cuma AI (Akal Imitasi). Nah itu juga tentang paling berat kalau tidak diarahkan oleh guru. Jadi memang mau nggak mau kita, guru!,” ujar Trip.
Pernyataan tersebut menempatkan guru sebagai salah satu unsur penting dalam penguatan literasi dan pembinaan sastra di lingkungan sekolah. Peran pendidik tidak hanya mengajarkan kaidah bahasa, tatepi juga membimbing pelajar menggunakan teknologi dengan bijak.
Ratusan Terkumpul, Hanya 127 Masuk Antologi
Sementara itu, Sekretaris DPD KNPI Kota Tangerang, Lazuardi El Ghifary, yang biasa disapa Ega, menjelaskan, penerbitan antologi ini berangkat atas kegelisahan melihat minat literasi di masyarakat. Katanya, “kemampuan” membaca tidak beriringan dengan “kebiasaan” membaca dalam kehidupan sehari-hari.
“Launching buku ini berawal dari keresahan kita ya, teman-teman muda, pemuda di Kota Tangerang, khususnya KNPI melihat minat baca, yang sangat kurang ya. di bawah angkat 10 persen,” kata Ega.
Karya yang terkumpul dari kegiatan Lesehan Sastra Pemuda yang digelas pada Juli lalu dalam rangka memperingati hari ulang tahun KNPI Kota Tangerang. Panitia menerima 390 puisi, kemudian melalui proses penyuntingan akhirnya ditetapkan 127 puisi diterbitkan dalam antologi ini.
KNPI Ingin Tinggalkan Warisan Karya
Ketua DPD KNPI Kota Tangerang, Dede Maulana Faisal, mengatakan peluncuran antologi merupakan bagian dari upaya organisasi memberi ruang yang lebih luas bagi keterlibatan generasi muda dalam kegiatan produktif.
Ia menilai, organiasai kepemudaan tidak cukup hanya menyelenggarakan kegiatan yang bersifat seremonial. Keberadaan KNPI perlu diwujudkan melalu program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, termasuk dalam pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas pemuda.
Dede menyebut antologi itu sebagai warisan dari kepengurusannya. Ia berharap karya yang telah diterbitkan tidak hanya menjadi dokumentasi kegiatan, tetapi juga dapat memberikan dorongan bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan serupa.
“Ini adalah salah satu legacy bagi kami. Kita meyakini bahwa dengan adanya buku antologi puisi orang Tangerang ini, [dapat] menjadi kebanggaan kita semua,” ujarnya.
Bagi Dede, peluncuran buku juga menjadi pembuka rangkaian kegiatan Bulan Pemuda yang diselenggarakan KNPI sepanjang Oktober. Rangkaian tersebut mencakup kegiatan sastram olahraga, kompetisi permainan elektronik, kegiatan rekreasi, hingga peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Keberhadilan KNPI menghimpun ratusan puisi dalam sebuah antologi menunjukkan adanya masyarakat yang bersedia menyampaikan gagasan melalui karya sastra. Tantangan berikutnya adalah memastikan para penulis tetap mempunyai ruang untuk belajar, berkembangan dan menjaungkau pembaca.
Artikel Lain :
Usia 31 Tahun, Perumda Tirta Benteng Wujudkan Layanan Air Bersih Lewat 28 Aplikasi
150 Pedagang Alun-Alun Bekasi Bakal Punya Gerobak Seragam dan Koperasi Sendiri
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






