Langen Budaya Hadilangu ajak Lestarikan Budaya Tradisional dengan Tembang Dolanan

| PENAMARA . ID

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Istimewa

Istimewa

PENAMARA.ID — Langen Budaya Hadilangu kembali hadir dengan semangat melestarikan budaya tradisional melalui kegiatan yang berfokus pada tembang dolanan di Pendopo Notobratan Kadilangu, Sabtu (24/10). Kegiatan ini menghadirkan konsep berbeda dengan memadukan tembang dolanan dan gerak tari yang dibawakan oleh anak-anak usia dini.

Selama ini, Langen Budaya Hadilangu umumnya menghadirkan dua bagian pertunjukan, yakni tembang dolanan dan tari tradisi. Namun, pada penyelenggaraan kali ini, tembang dolanan dikemas lebih menarik melalui perpaduan nyanyian dan gerakan tari. Konsep tersebut menjadi pembeda dari kegiatan sebelumnya, ketika tembang dolanan lebih banyak diperkenalkan melalui praktik secara langsung, bukan dalam bentuk pertunjukan.

Sejumlah tembang dolanan tradisional yang ditampilkan antara lain Cublak-Cublak Suweng, Numpak Sepur, Jago Kate, Kidang Talun, Jamuran, Jaranan, Ilir-Ilir, dan Serayu. Melalui penampilan anak-anak usia dini, tembang-tembang tersebut tidak sekadar dilantunkan, tetapi juga dihidupkan melalui gerakan yang menggambarkan keceriaan dan kedekatan anak-anak dengan permainan tradisional.

Kehadiran anak-anak sebagai penampil menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Selain memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya sejak dini, konsep ini juga menjadi upaya mengenalkan kembali tembang dolanan sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Suasana pertunjukan semakin semarak dengan kehadiran Komunitas Tatal Jati Kota Wali yang turut menyuguhkan tari Wirataya. Penampilan tersebut berhasil memukau penonton sekaligus menambah keberagaman sajian seni tradisional dalam kegiatan Langen Budaya Hadilangu.

Ketua Pelaksana, Ika Febriani Laksananingtyas, berharap kegiatan ini dapat terus berlangsung secara konsisten setiap tiga bulan sekali. Ia juga berharap Langen Budaya Hadilangu dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan seniman lokal maupun seniman dari luar daerah.

Konsistensi penyelenggaraan dan kolaborasi antarseniman diharapkan mampu menjadikan Langen Budaya Hadilangu sebagai ruang pertemuan, pembelajaran, sekaligus apresiasi bagi pelaku seni dan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang bersama untuk menjaga keberlangsungan budaya tradisional.

Melalui pengemasan tembang dolanan yang lebih atraktif, Langen Budaya Hadilangu menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan semata-mata tentang mewariskan tradisi kepada generasi berikutnya, melainkan juga memastikan masyarakat masa kini tetap mengenal, mencintai, dan merasa memiliki warisan budayanya sendiri. Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh melalui pertemuan antara seniman, generasi muda, dan masyarakat luas.


Secangkir Kopi, Sejuta Cerita: Membaca Kepribadian dari Cara Kita Menyeduh

 

Penulis : Adamas Hafizh Addin

Editor : Agnes Monica

Berita Terkait

Pendidikan di Negara Lain Sudah Punya Arah, Pendidikan Indonesia Mau Mencetak Apa?
Intelektual kok Egois?
Sumbing dan Iming-imingnya
Bolehkah Dua Orang Berbeda, Berjalan ke Arah yang Sama?
Demonstran ke Rutan Salemba: Catatan Seorang Tahanan Politik
Kegagalan Bagian dari Manusia, Bukan untuk Dihindari
Secangkir Kopi, Sejuta Cerita: Membaca Kepribadian dari Cara Kita Menyeduh
Konsep Anarkisme : hal yang mustahil atau masa depan umat manusia ?

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:17 WIB

Langen Budaya Hadilangu ajak Lestarikan Budaya Tradisional dengan Tembang Dolanan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 04:24 WIB

Pendidikan di Negara Lain Sudah Punya Arah, Pendidikan Indonesia Mau Mencetak Apa?

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:03 WIB

Intelektual kok Egois?

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Sumbing dan Iming-imingnya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 06:23 WIB

Bolehkah Dua Orang Berbeda, Berjalan ke Arah yang Sama?

Berita Terbaru