Asap hio mengepul pelan di ruang tengah sebuah rumah di Kampung Kebon Teki, Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Kamis siang, 9 Juli 2026. Di tengah ruangan, sebuah peti jenazah dipenuhi rangkaian bunga. Yang segera mencuri perhatian bukanlah bunga-bunga itu, melainkan selembar kain lima warna yang menutupi bagian atas peti.
Di sekelilingnya, anggota keluarga mengenakan pakaian merah. Sebagian menyambut tamu, sebagian lain berbincang pelan sembari sesekali tersenyum. Suasana itu terasa ganjil bagi siapa pun yang terbiasa melihat rumah duka identik dengan pakaian putih atau hitam. Di rumah itu, kesedihan tidak menghilang, tetapi berdampingan dengan rasa syukur.
Rumah duka tersebut milik keluarga almarhumah Lie Nari. Perempuan berusia 98 tahun itu wafat setelah sempat menyaksikan lima generasi keturunannya hidup dalam satu garis keluarga. Dalam tradisi masyarakat Cina Benteng, kondisi itu menjadi syarat utama dilaksanakannya upacara adat Ngohtay, sebuah penghormatan yang sangat jarang diselenggarakan.
Di sudut ruangan, seorang balita digendong mendekati peti jenazah. Perlahan ia didudukkan di atas peti selama beberapa saat. Tidak ada raut terkejut dari para pelayat. Mereka menyaksikan prosesi itu dengan tenang. Balita tersebut adalah canggah, generasi kelima dari almarhumah.
Bagi masyarakat Cina Benteng, kehadiran canggah bukan sekadar bagian dari silsilah keluarga. Ia menjadi penanda bahwa kehidupan seseorang telah mencapai puncak yang dianggap paling sempurna: menyaksikan anak, cucu, cicit, hingga canggah lahir semasa hidupnya. Karena itu, kematian dalam tradisi Ngohtay tidak hanya dimaknai sebagai kehilangan, melainkan juga sebagai ungkapan syukur atas kehidupan yang panjang dan keturunan yang terus bertumbuh.
Simbol itu kembali terlihat pada kain lima warna yang membentang di atas peti jenazah. Setiap warna melambangkan satu generasi dalam garis keturunan keluarga. Kain tersebut menjadi penanda bahwa almarhumah telah meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa kenangan, tetapi juga kehidupan yang terus berlanjut hingga generasi kelima.
Prosesi kemudian berlangsung perlahan. Anggota keluarga berdiri membentuk barisan sebelum berjalan mengelilingi peti jenazah. Mereka melangkah tiga putaran, kemudian mengulanginya hingga seluruh rangkaian menjadi enam putaran. Tidak terdengar aba-aba maupun iringan musik yang riuh. Yang terdengar hanya langkah kaki, suara doa, dan denting perlengkapan sembahyang yang sesekali memecah keheningan.
Dalam budaya Cina Benteng, enam putaran itu merupakan simbol penghormatan terakhir kepada orang tua dan leluhur. Setiap langkah menjadi ungkapan bakti sekaligus doa agar nilai-nilai yang diwariskan mendiang tetap hidup di tengah keluarga.
Di luar rumah, kehidupan Kampung Kebon Teki berjalan seperti biasa. Sepeda motor berlalu-lalang di jalan sempit. Anak-anak bermain di gang. Sesekali pesawat yang lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta melintas rendah di langit Teluknaga. Namun, di dalam rumah duka itu, waktu seolah bergerak lebih lambat.
Tradisi Ngohtay memang tidak mudah dijumpai. Tidak banyak keluarga yang memiliki kesempatan menghadirkan lima generasi dalam satu masa. Karena syarat itulah, masyarakat Cina Benteng memandang upacara ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi seseorang yang dianggap telah menuntaskan perjalanan hidupnya dengan umur panjang, keluarga yang lestari, dan garis keturunan yang tetap menyambung.
Bagi keluarga Lie Nari, prosesi itu menjadi perpisahan terakhir. Namun bagi masyarakat Cina Benteng, Ngohtay juga merupakan pengingat bahwa kehidupan seorang manusia tidak berhenti pada akhir usianya. Ia diteruskan oleh anak-anak, cucu-cucu, cicit, hingga canggah yang kelak akan membawa cerita keluarga itu ke generasi berikutnya.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






