Komunikasi telah jadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga berinteraksi, era digital saat ini komunikasi melalui media sosial dan email, bukan hal asing.
Dibalik kemudahan komunikasi digital ini tidak terhindar dari potensi munculnya kesalahpahaman oleh siap orang. Maka, menjadi sangat penting komunikasi verbal yang benar dan efektif sebagai kunci untuk menciptakan hubungan berkualitas.
Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku Human Communication menjelaskan bahwa komunikasi verbal melibatkan satu atau lebih kata yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal menjadi alat utama manusia dalam menjalin hubungan sosial dan mencapai sebuah pemahaman.
Bahasa juga menjadi salah satu elemen vital dalam komunikasi. Bahasa digunakan untuk menyusun dan menyampaikan pesan yang berupa simbol untuk digunakan oleh tiap individu. Melalui Hipotesis Sapir-Whorf, Edward Sapir dan Benjamin Lee, menyatakan bahwa bahasa memengaruhi cara seseorang memandang dan memahami realitas sekitar.
Ini berarti bahwa masing-masing orang punya cara yang berbeda dalam merespons dan memahami pesan yang diterima. Situasi tersebut makin jelas terlihat di era digital, yang mana pesan teks sering kali dirafsirkan dengan berbeda oleh penerimanya.
Dalam buku “You Just Don’t Understand: Women and Men in Coversation“, Deborah Tannen mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan cenderung memiliki cara yang berbeda juga dalam berkomunikasi, terkadang dapat menyebabkan perbedaan pemahaman dalam suatu hubungan.
Pandangan Tannen menekankan komunikasi tidah hanya bergantung pada “isi” pesan, tetapi juga dipengaruhi oleh cara penyampaian dan latar belakang si komunikator. Inilah sebabnya komunikasi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi “isi” (apa yang disampaikan) dan dimensi hubungan (bagaimana cara menyampaikan).
Kita dapat melihat kesalahpahaman komunikasi dapat terjadi karena setiap individu memiliki cara berbeda dalam menafsirkan pesan, dipengaruhi oleh latar belakang bahasa dan pengalaman masing-masing. Era digital memperparah situasi ini karena pesan teks kehilangan elemen nonverbal seperti intonasi dan ekspresi, sehingga lebih mudah disalahartikan.
Selain itu, perbedaan gaya komunikasi, baik karena gender maupun cara penyampaian, menunjukkan bahwa memahami pesan bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini mengakibatkan kalimat yang mungkin dimaksudkan sebagai lelucon bisa ditangkap sebagai sindiran atau bahkan penghinaan.
Karakteristik komunikasi verbal juga juga dapat memengaruhi keberhasilan penyampaikan pesan, seperti pemilihan kosakata yang mudah dimengerti, paham makna konotatif dan denotatif, kecepatan berbicara, serta penggunaan humor. Pemahaman kata jadi sangat penting dalam komunikasi digital agar pesan tidak mendatangkan ambigu atau konflik.
Dengan demikian, komunikasi lisan yang efektif sangat berperan dalam mengurangi kesalahan paham di zaman digital. Memilih kata yang sesuai, memahami konteks, serta kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan jelas akan mendukung terciptanya interaksi yang lebih baik dan menjaga hubungan sosial tetap seimbang.
Dalam tengah kemajuan teknologi yang cepat, setiap orang perlu meningkatkan keterampilan komunikasi lisan mereka agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan tepat dan tidak menimbulkan perbedaan tafsir.
Artikel Lain :
Yang Hilang Bukan Kebahagiaan, Tapi Cara Kita Memperhatikan
Cerita Ibu Nursiah Tuntaskan Janji Cinta Naik Haji Untuk Mendiang Suami
Dari Demokrasi Delegatif ke Nekropolitik jadi Wajah Demokrasi Indonesia
Penulis : Rafa Az-Zahri
Editor : Agsel Jesisca






