Kepulangan jemaah haji Kloter I, Kota Tangerang, Selasa, (2/6/26) dipenuhi riuh tangis bahagia keluarga penjemput. Namun, di tengah hiruk-pikuk Bus 6 yang membawa rombongan, ada satu sosok lansia tangguh yang menarik perhatian. Namanya Bu Nursiah (65), warga RT 01/RW 03, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper.
Di usia kepala enam, Bu Nursiah membuktikan diri sebagai definisi independent woman yang sesungguhnya di jalur religi. Beliau berangkat haji sendirian: tanpa suami, tanpa anak, bahkan tanpa memegang handphoneselama di Tanah Suci.
Namun, di balik ketangguhan fisiknya yang sanggup menyeret koper sendiri, ada sebuah romansa luar biasa yang melintasi batas kematian. Haji Bu Nursiah bukanlah perjalanan tentang kesendirian, melainkan tentang menuntaskan janji cinta sehidup semati yang sempat tertunda.
Plot Twist di Samping Piring Nasi Kondangan
Cerita ini bermula tiga belas tahun lalu, tepatnya pada tahun 2013. Bu Nursiah dan suaminya, Pak Nasrul, memantapkan niat mendaftar haji bareng. Mereka mulai menabung sepeser demi sepeser. Perjalanan haji ini awalnya dirancang sebagai puncak romansa masa tua mereka: berpegangan tangan menatap Ka’bah setelah puluhan tahun hidup bersama.
Namun, mengantre haji di Indonesia adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Ketika mereka masih menanti kepastian jadwal pemberangkatan, takdir mendadak melakukan plot twist yang memilukan pada tahun 2021.
Kepergian Pak Nasrul terjadi begitu mendadak dan sangat dekat dengan keseharian warga lokal: di sebuah acara kondangan (walimatul arus). Setelah selesai melantunkan rawi, Pak Nasrul bersiap mengambil makanan.
“Kata saya, ‘Pak Nasrul, itu baca rawinya error?’ ‘Kagak, Mpok, beres,’ kata dia gitu. Terus dia mau nyendok nasi, tiba-tiba dia begitu, ngusruk. Gitu, akhirnya meninggal,” kenang Bu Nursiah dengan logat Betawi-Tangerang yang kental.
Nasi belum sempat tersendok ke piring, tapi jatah usia di dunia sudah habis. Pak Nasrul berpulang tanpa sempat tahu kalau antrean mereka sebenarnya dijadwalkan berangkat tahun 2026.
“Kita niat baik, Allah berkehendak lain,” ujar Bu Nursiah, mencoba ikhlas menerima kenyataan bahwa kursinya kini kosong sebelah.
Ketika Anak-Anak Absen Jadi “Pemain Pengganti”
Setelah Pak Nasrul tiada, kursi kosong pendamping haji otomatis lowong. Bu Nursiah yang memiliki lima anak—dengan si sulung perempuan dan si bontot laki-laki—sempat menawarkan kursi porsi sang ayah kepada mereka. Beliau berharap ada satu anaknya yang bisa menemani sang ibu yang sudah lansia.
Namun, realita hidup sering kali tidak seindah drama televisi. Kelima anaknya kompak melambaikan tangan ke kamera.
“Udah saya tanya, apa yang paling tua, yang pernah, yang mau nemenin gua nggak? Kalau nemenin nggak, nambahin doang kan? Nggak pada mau,” ceritanya blak-blakan.
Alasannya sangat realistis bagi masyarakat kelas pekerja: perkara uang pegangan dan bekal tambahan untuk hidup di Arab Saudi selama sebulan lebih. Bu Nursiah, alih-alih ngambek atau mengancam mencoret mereka dari Kartu Keluarga, justru sangat berbesar hati memahami kondisi ekonomi anak-anaknya.
“Mungkin kali belum ada buat pegangan kali, belum ada bekal tambahan ya kali,” tuturnya maklum.
Melihat antrean haji yang sudah lunas dibayarnya sejak 2022 (senilai Rp51 juta dari hasil menabung Rp9 juta hingga Rp15 juta per bulan), Bu Nursiah ogah mundur. Jiwa mandirinya berontak.
Apalagi pada tahun 2023, anak-anaknya sempat menyuruh beliau umrah duluan karena mengira jadwal haji masih lama. Di momen umrah itulah Bu Nursiah melakukan test drive kemandiriannya. “Sendiri juga. Tapi alhamdulillah bisa bawa koper sendiri, tawaf sendiri saya,” katanya bangga.
Maka, ketika panggilan haji itu akhirnya dipercepat datang, Bu Nursiah langsung memantapkan hati: Nggak ada suami, anak nggak bisa ikut, ya udah berangkat sendiri!
“Spiritual Beast Mode” dan LDR Beda Alam di Makkah
Bagi anak muda zaman sekarang, pergi ke toilet mall atau jajan boba saja kadang harus ditemani teman. Tapi Bu Nursiah? Beliau terbang melintasi samudra ke negeri orang tanpa didampingi siapa pun, bahkan tanpa membawa HP. Komunikasi dengan anak di rumah hanya mengandalkan kebaikan hati teman sekamar yang sudi meminjamkan ponselnya.
Hebatnya lagi, alih-alih luntang-lantung kesepian, Bu Nursiah di Tanah Suci justru masuk ke mode ibadah tingkat tinggi, atau kalau meminjam istilah anak game: Spiritual Beast Mode.
Selama di Madinah, fisiknya yang tanpa kursi roda sukses melahap 40 waktu salat Arbain tanpa putus, ditambah bonus khatam Al-Qur’an sebanyak 11 kali! Pindah ke Makkah, meski sempat tumbang kena serangan pilek khas cuaca gurun, beliau tidak mengendurkan gas tadarusnya dan berhasil khatam lagi 4 kali. Total 15 kali khatam Al-Qur’an dalam satu musim haji.
Sebuah angka yang bikin kita yang khatam Quran cuma setahun sekali pas Ramadan jadi merasa remah-remah rengginang.
Namun, di balik semua keintiman ibadahnya dengan Sang Pencipta, Bu Nursiah tidak pernah sedetik pun meninggalkan Pak Nasrul di Tangerang. Setiap kali beliau melangkah di jalur Thawaf dan Sa’i, nama almarhum suaminya selalu didekap erat dalam doa. Beliau melakukan LDR beda alam dengan cara paling romantis yang bisa dilakukan seorang muslimah.
“Saya tawaf sunah, tawaf wajib, sai sunah, sai wajib. Itu yang sunah saya niatin bakal suami,” ungkap Bu Nursiah.
Fisiknya memang sendirian berdesakan dengan jutaan manusia dari seluruh dunia, tapi hatinya tetap berjalan berdua, menggandeng jiwa Pak Nasrul yang sudah beristirahat tenang. Janji tahun 2013 itu akhirnya lunas dibayar tuntas.
Pulang dengan Koper Berfoto dan Perut Mual
Satu-satunya momen Bu Nursiah “menyerah” pada fisik justru terjadi saat rukun haji sudah selesai semua. Setelah sukses menyelesaikan Thawaf Ifadhah hingga Thawaf Wada’ dengan kaki sendiri, tubuh lansianya mulai kelelahan akibat cuaca ekstrem.
Saat hendak naik pesawat di Bandara Kertajati, beliau mulai muntah-muntah.
“Dikasih pisang sama suster, muntah semua, kalau saya punya lambung,” katanya.
Efek mual itu berlanjut hingga di atas awan, tepat dua jam sebelum pesawat mendarat di tanah air. Di bandara kepulangan pun, kepalanya yang puyeng dan badannya yang demam membuat beliau akhirnya pasrah meminta bantuan kursi roda berbayar demi bisa keluar.
Namun, dasar Bu Nursiah, tidak ada kata mengeluh yang keluar dari mulutnya. Beliau menutup obrolan dengan rasa syukur yang meluap-luap karena semua prosesi haji berhasil diselesaikan dengan rapi di usianya yang sudah senja.
Saat diwawancarai, Bu Nursiah sedang duduk menanti jemputan bus yang akan membawanya ke titik kumpul. Beliau tidak cemas meski tanpa HP, karena beliau tahu anak-anaknya pasti sedang menunggu di sana. Beliau hanya berpesan dengan teliti tentang ciri-ciri barang bawaannya: “Koper saya namanya Ibu Nursiah, yang kecil ada fotonya, yang gede ada fotonya.”
Kisah Bu Nursiah mengajarkan kita sisi lain dari arti ketulusan cinta. Bahwa mencintai seseorang yang telah tiada bukan melulu soal meratapi kuburan, melainkan tentang bagaimana kita melanjutkan hidup dengan tangguh, sembari terus mengirimkan “hadiah” terbaik ke alam sana.
Selamat datang kembali di Batuceper Kota Tangerang, Bu Haji Nursiah. Semoga mabrur, dan terima kasih sudah mengajarkan anak muda zaman sekarang cara mencintai dan cara menjadi mandiri yang sesungguhnya.
Artikel Lain :
Mengenal Diri atau Sekadar Membuat Cerita?
Perempuan yang Mengukir Sejarah Kepemimpinan
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






