Krisis Kapitalisme Global di Depan Mata, Sudah Saatnya Membakar

| PENAMARA . ID

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Canva

Canva

PENAMARA.ID — Dunia hari ini sedang terjangking penyakit krisis kapitalisme global yang nyata. Krisis yang datang tanpa jeda mulai dari perang, PHK massal, inflasi, kelaparan, krisis iklim, hingga naiknya biaya hidup membuat manusia harus bekerja lebih keras hanya untuk bertahan hidup beberapa hari kedepan.

Kapitalisme global selalu memberikan paradoks tentang kemajuan. Ketika segelintir miliarder mampu membeli pulau pribadi dan membangun roket wisata luar angkasa disaat yang bersamaan jutaan buruh di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dipaksa bekerja dalam upah murah, terikat pada kontrak yang tidak pasti, dan kehidupan yang semakin rapuh.

Kapitalisme modern telah berubah menjadi mesin penindas raksasa yang memakan manusia dan bumi secara bersamaan. Ia tidak lagi sekadar sistem ekonomi, melainkan agama baru yang memuja profit di atas kehidupan.

Nilai manusia hanya diukur dari tingkat keproduktivitasannya dan bukan lagi kemanusiaannya. Alam dihitung hanya sebagai komodita dan bukan ruang hidup bersama. Dalam logika kapitalisme, hutan harus ditebang untuk menguntungkan dalam konteks pertambangan.

Laut harus dieksploitasi untuk memperbesar pertumbuhan ekonomi. Bahkan tubuh manusia pun dijadikan pasar bebas melalui tenaga kerja yang murah, industri kecantikan yang memanfaatkan tubuh, hingga eksploitasi data digital.

Krisis kapitalisme global bukanlah kecelakaan sejarah. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem yang berdiri di atas akumulasi keuntungan tanpa batas. Karl Marx sejak lama telah menjelaskan bahwa kapitalisme memiliki kontradiksi internal, dimana ia membutuhkan buruh untuk menghasilkan keuntungan, tetapi pada saat yang bersamaan ia harus terus menekan upah buruh murah demi memperbesar laba.

Akibatnya, daya beli masyarakat melemah sementara produksi harus terus meningkat. Krisis overproduksi pun terjadi, dimana barang-barang melimpah tetapi manusia yang membuat barang tersebut tak mampu membeli. Gudang penuh dan perut tetap kosong.

Namun, kapitalisme pada abad ke-21 ini jauh lebih brutal dibanding masa revolusi industri. Hari ini eksploitasi tidak hanya terjadi di pabrik, tetapi juga di ruang digital. Platform seperti aplikasi transportasi, marketplace, hingga media sosial terus-terusan menciptakan ilusi kebebasan kerja, padahal sebenarnya mereka sedang melahirkan bentuk baru dari perbudakan yang fleksibel.

Buruh kini tidak lagi disebut dengan buruh, melainkan mitra. Mereka dipaksa menanggung risiko sendiri tanpa jaminan kesehatan, tanpa kepastian kerja, dan tanpa perlindungan sosial yang layak. Kapitalisme digital berhasil menyamarkan eksploitasi menjadi kebebasan individual.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, wajah kapitalisme global tampak nyata. Sumber daya alam dijual murah kepada korporasi multinasional, sementara rakyat sekitar tambang hidup dalam kerusakan ekologis berkepanjangan.

Tanah adat dirampas atas nama investasi, kota-kota dipenuhi apartemen dan pusat perbelanjaan, namun rakyat kecil semakin sulit membeli rumah. Negara asik menjaga iklim investasi dibanding menjaga kehidupan rakyatnya sendiri. Pemerintah menjadi manajer kapital dan tak pernah menjadi pelindung masyarakatnya.

Jika melihat situasi hari ini, kita juga harus melihat struktur kekuasaan yang menopang negara seperti militerisme, dan birokrasi yang korup. Negara modern sering kali tampil netral padahal mereka bekerja untuk memastikan akumulasi kapital berjalan lancar.

Ketika buruh mogok, polisi datang. Ketika rakyat menolak tambang, tentara menjadi garda terdepan atas nama negara. Ketika oligarki merusak lingkungan, hukum mendadak menjadi tumpul keatas dan tajam kebawah. Negara dan kapitalisme menikah sebagai sepasang kekasih yang saling melindungi.

Karena itu, krisis hari ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan reformasi kecil atau pergantian elite politik lima tahunan. Kapitalisme selalu mampu menyerap kritik lalu menjualnya kembali sebagai produk baru. Bahkan perlawanan pun dapat dijadikan estetika pasar, kaos revolusi diproduksi massal, budaya alternatif yang dijadikan tren konsumsi, sampai kemarahan publik yang dimonetisasi menjadi konten media sosial.

Sudah saatnya membakar semangat revolusi dan bukan semata-mata seruan destruksi literal, melainkan metafora untuk menghancurkan cara berpikir lama yang menganggap kapitalisme sebagai satu-satunya masa depan.

Membakar berarti menolak tunduk pada logika bahwa manusia harus terus bersaing demi bertahan hidup. Membakar berarti menghancurkan ketakutan untuk membayangkan dunia tanpa eksploitasi. Membakar berarti menciptakan solidaritas baru di luar negara dan pasar.

Anarkisme menawarkan imajinasi politik yang berbeda tentang bagaimana masyarakat tanpa dominasi hierarkis, ekonomi berbasis kebutuhan bersama, produksi yang dikendalikan komunitas, serta hubungan sosial yang dibangun atas solidaritas dan bukan kompetisi.

Dalam masyarakat seperti ini, kerja tidak lagi menjadi alat penindasan, melainkan aktivitas kolektif untuk memenuhi kebutuhan bersama. Pendidikan tidak diarahkan untuk mencetak tenaga kerja murah, tetapi manusia yang bebas dan kritis. Alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Tentu banyak yang akan mengatakan bahwa gagasan seperti ini utopis. Tetapi kapitalisme sendiri sedang menunjukkan kegagalannya setiap hari. Apa yang lebih utopis daripada percaya bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa batas dapat berlangsung di planet yang terbatas? Apa yang lebih absurd daripada sistem yang membutuhkan kemiskinan agar keuntungan tetap berjalan?

Krisis global hari ini memperlihatkan satu hal penting dimana kapitalisme tidak akan runtuh dengan sendirinya. Ia akan terus hidup melalui perang, utang, nasionalisme sempit, dan eksploitasi baru jika manusia tidak membangun perlawanan kolektif.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian rakyat biasa yang menolak hidup dalam ketidakadilan.

Mungkin yang harus dibakar pertama kali bukan gedung atau kota, melainkan rasa takut dalam diri kita sendiri takut untuk melawan, takut untuk berbeda, dan takut membayangkan dunia yang lebih bebas.

Selama kita masih percaya bahwa tidak ada alternatif selain kapitalisme, selama itu pula rantai penindasan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.


Doktrin Eksploitatif Kapitalis; Akal-akalan Busuk Kapitalisme

Pernikahan dalam Mental Kapitalisme, Perzinahan jadi Perlarian

 

Penulis : Serena Tomira

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan
Menyerah Bukan Kelemahan, Tapi Keberanian yang Tak Diajarkan
Momentum Hari Kartini, Instruktur Perempuan KP3I Pimpin Pelatihan Keselamatan Selam
Mimpi Masa Kecil Bukan Tujuan, Melainkan Petunjuk
Maknai Hari Perempuan Internasional BEM PTNU Banten Ruang Aman bagi Perempuan
Ruang Kecil dengan Mimpi Besar Anak-Anak Karanganyar
Hidup Bermakna dalam Relativitas: Etika dan Kemanusiaan ala Einstein
Ancaman pada Tubuh Perempuan di Ruang Digital

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 02:58 WIB

Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:13 WIB

Menyerah Bukan Kelemahan, Tapi Keberanian yang Tak Diajarkan

Selasa, 21 April 2026 - 12:30 WIB

Momentum Hari Kartini, Instruktur Perempuan KP3I Pimpin Pelatihan Keselamatan Selam

Rabu, 8 April 2026 - 17:36 WIB

Mimpi Masa Kecil Bukan Tujuan, Melainkan Petunjuk

Minggu, 8 Maret 2026 - 15:07 WIB

Maknai Hari Perempuan Internasional BEM PTNU Banten Ruang Aman bagi Perempuan

Berita Terbaru