Banyak Orang Besar Lahir dari Jurnalistik, STISNU Gembleng Mahasiswa Jadi Generasi Kritis

| PENAMARA . ID

Rabu, 20 Mei 2026 - 22:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah zaman ketika orang lebih gampang percaya postingan “katanya” daripada berita yang jelas sumbernya, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang malah memilih jalan yang agak melawan arus: ngajarin mahasiswa jadi kritis lewat jurnalistik.

Rabu (20/5/2026), Aula Kampus STISNU Nusantara Tangerang dipenuhi ratusan mahasiswa yang ikut Pelatihan Jurnalistik garapan Senat Mahasiswa. Temanya lumayan serius: “Kritis dalam Nalar dan Profesional dalam Karya.” Tapi jangan bayangin acaranya kaku kayak sidang skripsi. Atmosfernya justru hidup karena banyak mahasiswa penasaran gimana caranya bikin karya yang nggak cuma rame di media sosial, tapi juga punya isi.

Maklum, sekarang semua orang bisa bikin konten. Tapi nggak semua orang bisa bikin informasi yang benar.

Ketua Forum Wartawan Tangerang (Forwat), Andi Lala, yang jadi salah satu pemateri, langsung menohok persoalan paling dekat dengan anak muda hari ini: banjir informasi dan hoaks.

Menurut dia, mahasiswa nggak boleh cuma jadi generasi yang jago repost dan share tanpa mikir panjang. Rasa penasaran dan sikap kritis harus diolah jadi karya jurnalistik yang sehat dan berguna buat masyarakat.

“Saya ingin menumbuhkan kepada kawan-kawan mahasiswa bagaimana rasa ingin tahu dan rasa kritis itu bisa diimplementasikan menjadi karya jurnalistik yang memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Andi Lala juga mengingatkan kalau media sosial dan jurnalistik itu dua dunia yang beda tipis, tapi jangan disamakan mentah-mentah. Sebab, tidak semua yang viral otomatis benar.

“Karya jurnalistik harus bisa dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, produk media sosial tidak bisa langsung dijadikan produk jurnalistik,” tegasnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi di era ketika orang lebih percaya caption random ketimbang cek fakta, omongan tadi jadi relevan banget.

Sementara itu, Koordinator Daerah Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Banten, M Diponegoro, membawa sudut pandang yang lebih dekat dengan dunia anak muda hari ini: media kreatif dan content creator.

Menurut pria yang akrab disapa Dipo itu, mahasiswa sekarang punya peluang besar buat berkembang di industri kreatif digital. Tapi syaratnya satu: jangan cuma ikut tren, harus punya identitas.

“Terkait inovasi, tadi kita sudah tanamkan bagaimana membangun sebuah brand media kreatif dengan nilai konsistensi dan mengikuti tren yang ada,” katanya.

Dipo bahkan punya rencana membangun komunitas kreator konten di Tangerang supaya mahasiswa punya ruang buat berkembang, bukan cuma jadi penonton algoritma.

Di sisi lain, Ketua Senat Mahasiswa STISNU Nusantara Tangerang, Ilham Farulah, berharap pelatihan ini bikin mahasiswa lebih cerdas dalam memilah informasi. Sebab, mahasiswa idealnya bukan cuma sibuk bikin tugas kuliah dan nongkrong di kantin, tapi juga punya kesadaran sosial lewat media.

“Mahasiswa harus bisa menyaring informasi dan membuat karya jurnalistik yang benar untuk masyarakat,” ujarnya.

Yang menarik, pelatihan ini nggak berhenti di acara seremonial dan foto-foto panitia doang. Pihak kampus juga berencana membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik sebagai ruang belajar dan berekspresi bagi mahasiswa yang tertarik di dunia media dan konten kreatif.

Rektor STISNU Nusantara Tangerang,  M. Qustulani, bahkan menegaskan kalau dunia jurnalistik bukan sekadar urusan nulis berita. Lebih dari itu, jurnalistik adalah tempat lahirnya gagasan besar.

“Kampus ingin mengingatkan bahwa banyak orang besar lahir dari dunia jurnalistik,” ujarnya.

Dan memang benar. Banyak tokoh besar lahir dari kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis—sesuatu yang sekarang mulai kalah cepat dibanding kebiasaan scroll video 15 detik.

Lewat pelatihan ini, STISNU tampaknya ingin mengingatkan satu hal sederhana: di tengah dunia yang makin bising, kemampuan berpikir kritis justru jadi barang mahal.

Penulis : Ari Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Catat! Festival Maulid di Tangerang Digelar 5 Hari, Ada Gunungan 3 Masjid
HMI Tangerang Tegaskan Independensi dalam Dinamika Pemilihan Ketua DPRD Kota Tangerang
Kesbangpol Satukan 91 Organisasi dalam Forum Kebangsaan Kota Tangerang
Tak Ada Hari Libur bagi Penjaga Cisadane, Saat Warga Merayakan Kemerdekaan RI
Siswa SMAN 14 Tangerang Diminta Keluar, Dosen Unis Buka Suara
Rektor UMT Dukung Asrul Haruna Maju sebagai Calon Koordinator BEM PTMAI
174 Hutan Adat Ditetapkan, tapi 135 Kasus Perampasan Wilayah Masih Terjadi
HUT RI, Warga Kota Tangerang Bisa Pasang Air Bersih Cuma Rp237 Ribu, Diskon 81 Persen

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 07:16 WIB

Catat! Festival Maulid di Tangerang Digelar 5 Hari, Ada Gunungan 3 Masjid

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:54 WIB

HMI Tangerang Tegaskan Independensi dalam Dinamika Pemilihan Ketua DPRD Kota Tangerang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:38 WIB

Kesbangpol Satukan 91 Organisasi dalam Forum Kebangsaan Kota Tangerang

Senin, 17 Agustus 2026 - 20:56 WIB

Tak Ada Hari Libur bagi Penjaga Cisadane, Saat Warga Merayakan Kemerdekaan RI

Senin, 10 Agustus 2026 - 02:43 WIB

Siswa SMAN 14 Tangerang Diminta Keluar, Dosen Unis Buka Suara

Berita Terbaru

Ilustrasi: CapstoneFi.com / Tyler Stone

Sosial

Ketika Viral Mengalahkan Etika Kreator Konten

Selasa, 18 Agu 2026 - 02:25 WIB