PENAMARA.ID — Dalam dunia modern, doktrin eksploitatif kapitalis dalam pekerjaan adalah menganggap bahwa manusia harus mampu bersaing secara ketat dalam berkarir. Gaji, jabatan, dan berbagai pengalaman, semua digadai hanya untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita mampu bersaing dan kita semua hanyut dalam doktrin bertahan hidup dalam keadaan yang eksploitatif dan pada akhirnya mengaburkan nilai kolektif kita sebagai makhluk sosial.
Inilah era kapatalisme yang tak terbantahkan karena setiap kita selalu mengamini apa yang menjadi doktrin para kapital. Kita dicengkram oleh sistem bermuatan eksploitatif nan diskriminatif sehingga kerapkali kita merasa bahwa tak ada jalan lain selain daripada mengabdi pada kekuasaan besar perusahaan.
Padahal, pengusaha tak dapat berjalan dengan lancar tanpa kontribusi para pekerja di dalam nya. Namun, dalam kacamata kapitalisme, para pekerja hanyalah seorang yang hanya memiliki tenaganya untuk dijual sehingga cengkraman tajam itu terus menusuk ke saubari kelas pekerja.
Para pekerja yang bekerja di perusahaan dengan merek terkenal sekalipun yang menghasilkan jutaan miliar pendapatan dari hasil penjualan pun tak akan pernah sanggup untuk membeli produk yang ia hasilkan sendiri. Inilah yang disebut alienasi oleh Marx.
Manusia akhirnya teralienasi dari pekerjaannya. Ia kehilangan jati dirinya melalui kerja-kerja yang dilakukannya, padahal menurut Marx kerja bukan hanya sekedar kerja. Dari kerja itu, manusia harusnya dapat mengembangkan pribadi dan kapasitas kemampuan nya. Namun dalam dunia kapitalisme, semua hanya berbicara seberapa banyak keuntungan yang dapat di akumulasi dari hasil keringat para pekerja.
Kata-kata yang seakan-akan mendorong semangat kita dalam bekerja dijadikan dalih perusahaan untuk membuat kelas pekerja terjerumus dalam kebohongan paling picik di dunia. Padahal disaat yang bersamaan mereka tak pernah peduli kepada kelas pekerja, mereka hanya peduli pada akumulasi kapital yang mereka dapatkan dari hasil kerja keras kelas pekerja.
Akumulasi kapital yang dihasilkan berangkat dari kerja-kerja berkepanjangan yang dilakukan kelas pekerja sehingga sampai mati pun kelas pekerja tak akan pernah dapat membeli kapal pesiar seperti para kelas kapital. Padahal, seluruh waktu dalam hidup para kelas pekerja sudah ditempatkan pada kerja-kerja yang ternyata sungguh eksploitatif.
Nilai lebih yang kerap disebutkan oleh Marx mengingatkan kita semua untuk lebih dalam melihat bagaimana cara kerja picik para kapital dalam memperoleh keuntungan yang sebegitu besar dan tak pernah adil untuk kelas pekerja.
Penetrasi kapital juga kian merombak tatanan sosial serta menyemai nilai-nilai baru di dalam kehidupan masyarakat melalui berbagai lembaga seperti pendidikan, politik, perekonomian, dan keagamaan modern.
Contohnya dalam dunia pendidikan. Kita semua bisa melihat bahwa pendidikan hari ini hanya berfokus untuk menciptakan tenaga kerja yang akan dijual ke dalam ‘pasar‘ kapitalisme. Karena lembaga pendidikan sudah masuk dalam komoditi, maka pendidikan harus ‘mencetak‘ tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar dalam berbagai corak produksi tertentu.
Hubungan yang begitu transaksional lambat laun mencabut manusia dari kehidupan sosialnya sehingga kita seringkali menjadi individualis dan hanya berorientasi pada keberhasilan pribadi sehingga kita seakan-akan tidak memiliki waktu untuk mengurus hal diluar dari kepentingan pribadi. Sekali lagi kita perlu berhati-hati pada doktrin eksploitatif kapitalis yang mensandera kita untuk hanyut dalam buaian busuk demi kepentingan akumulasi mereka semata.
Pada akhirnya kerja-kerja kita direngut sewenang-wenang oleh para kapitalis dan kita hanya menjadi penonton dan penyumbang terbesar keberhasilan mereka. Tamatlah riwayat kita jika kita tetap hanyut dalam lautan kapitalisme. Namun Marx menyerukan kepada seluruh kelas pekerja di penjuru dunia untuk: “bersatulah kaum buruh di dunia!” ujar Marx…
Bacaan Relevan: Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?
Penulis : Agnes Monica
Editor : Redaktur






