Ancaman pada Tubuh Perempuan di Ruang Digital

| PENAMARA . ID

Sabtu, 17 Januari 2026 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi | Sumber : Mortons-Solicitors.co.uk

Ilustrasi | Sumber : Mortons-Solicitors.co.uk

Sosial media sebagai ruang untuk berekspresi; tempat untuk bisa berbagi cerita, gagasan, foto, atau hal lain, belakangan ini justru terasa makin tidak ramah – terutama bagi perempuan. Bukan karena mereka terlalu sensitif, tapi karena teknologi berkembang tanpa landasan etis untuk penggunanya.

Kemunculan Grok (Artificial Intelligence/kecedasan buatan yang dikembangkan platform X/Twitter) dapat dengan mudah memberikan akses kepada setiap orang untuk memanipulasi gambar tanpa dapat dipertanggungjawabkan oleh siapapun.

Hanya dengan prompthey grok, hilangkan pakaian orang dalam gambar ini,” dan dalam sekejap tubuh perempuan dan anak bisa direkayasa, dibuka, diseksualisasi, dan disebarkan; tanpa izin, tanpa meminta persetujuan, atau tanpa peringatan kepada tubuh yang menjadi objeknya.

Jelas bukan sekadar masalah fitur AI yang kebablasan tapi ini adalah bentuk kekerasan berbasis teknologi. Polanya juga sama seperti biasa, hanya saja alatnya yang baru. Perempuan kembali diposisikan sebagai objek visual yang bisa dimodifikasi sesuai keinginan orang lain.

Bedanya, sekarang pelecehan itu tidak perlu kontak fisik, tidak perlu bertatap muka, dan sering kali tidak meninggalkan jejak yang mudah dilacak. Yang membuat situasi ini berbahaya adalah betapa mudah dan cepatnya semua itu terjadi.

Siapa pun bisa melakukannya tidak perlu kemampuan yang sangat canggih, tidak perlu niat yang begitu besar, bahkan ini semua bisa saja dibungkus sebagai “iseng” atau “eksperimen AI”. Tapi bagi korban, dampaknya tidak pernah ringan dan membekas. Ketika foto diri diubah menjadi konten seksual, yang hilang bukan hanya privasi, tapi juga kendali atas tubuhnya sendiri.

Bagi banyak perempuan, ini mengubah cara kami berekspresi di ruang digital. Mengunggah foto jadi penuh pertimbangan. Takut berbagi cerita yang hingga pada akhirya berisiko. Hadir sebagai diri sendiri di media sosial justru memunculkan kecemasan.

Pelan-pelan, ruang digital yang katanya demokratis malah mendorong perempuan untuk membatasi diri, menyensor diri, atau bahkan bisa menghilang sama sekali. Apalagi anak-anak berada di posisi yang jauh lebih rentan.

Mereka belum sepenuhnya mengerti dunia digital, tapi sudah harus menanggung konsekuensi dari teknologi yang gagal melindungi privasi seseorang. Ketika tubuh anak bisa dimanipulasi oleh AI menjadi konten seksual, ini bukan lagi soal kebebasan berekspresi atau etika teknologi semata. Ini bicara soal kegagalan sistemik dalam melindungi kelompok paling rentan.

Sering kali, diskusi tentang AI yang selalu digaungkan hanya pada kekaguman yang dibicarakan hanya seberapa canggih, seberapa cepat, seberapa pintar. Tapi jarang benar-benar bertanya tentang siapa yang paling mungkin jadi korban? Teknologi itu tidak pernah netral. Ia lahir dari sistem sosial yang masih timpang, dan ketimpangan itu ikut terbawa ke dalam desain, dan kebijakan pengamanannya.

Dalam konteks ini, perempuan dan anak kembali jadi kelompok yang harus “beradaptasi”. Disuruh lebih hati-hati, lebih waspada, lebih bijak menggunakan media sosial. Padahal masalahnya bukan pada kehadiran perempuan di ruang digital, tapi pada sistem yang membiarkan tubuh perempuan itu menjadi bahan eksperimen sosial.

Jika hanya dengan satu kalimat sederhana seseorang bisa merampas tubuh orang lain secara digital, maka kita perlu bertanya ulang tentang arah kemajuan teknologi.
Kemajuan untuk siapa? Siapa yang diuntungkan ketika AI dibiarkan longgar tanpa perlindungan yang jelas? Dan siapa yang harus menanggung dampak atas kerampasan hak tubuh para korban di media sosial? Ini bukan sekadar soal individu yang dilecehkan, tapi soal ruang publik digital yang semakin bias dan tidak setara.

Tanpa etika yang kuat, regulasi yang tegas, dan keberpihakan nyata pada korban, AI tidak bisa disebut alat pembebasan. Ia justru berpotensi menjadi mesin baru untuk melanggengkan kekerasan lama tapi dengan wajah yang lebih modern dan jangkauan yang jauh lebih luas.

Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah teknologi ini bisa dihentikan. Tapi apakah kita mau mengakui bahwa tanpa perlindungan terhadap tubuh dan hak perempuan serta anak, kemajuan teknologi hanyalah kemunduran kemanusiaan.

Artikel Lain :

Melawan Kekerasan Seksual dan Budaya Diam di Indonesia

Emansipasi yang Tak Pernah Sampai ke Dapur dan Pabrik

 

Penulis : Agsel Jesisca

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Ruang Kecil dengan Mimpi Besar Anak-Anak Karanganyar
Hidup Bermakna dalam Relativitas: Etika dan Kemanusiaan ala Einstein
Panen Raya Jagung Hasil Inovasi dan Aplikasi Pupuk Organik.
Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham
Koalisi Progresif Mahasiswa UNTARA Lebih Maju : Farhan Rafiqi dan Mohammad Yusup Menang Pemira.
HMI Cabang Kabupaten Tangerang Gandeng Komunitas Hijaukan Pesisir Mauk.
Simak Cara Mencegah Bullying di Sekolah ala Mahasiswa UNPAM
Bullying dan Kesehatan Mental; Ini yang Dilakukan PKM UNPAM

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 21:16 WIB

Ruang Kecil dengan Mimpi Besar Anak-Anak Karanganyar

Kamis, 22 Januari 2026 - 22:44 WIB

Hidup Bermakna dalam Relativitas: Etika dan Kemanusiaan ala Einstein

Sabtu, 17 Januari 2026 - 18:04 WIB

Ancaman pada Tubuh Perempuan di Ruang Digital

Sabtu, 17 Januari 2026 - 17:39 WIB

Panen Raya Jagung Hasil Inovasi dan Aplikasi Pupuk Organik.

Sabtu, 6 Desember 2025 - 00:31 WIB

Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham

Berita Terbaru