Refleksi Hari Kartini; Perempuan, Emansipasi, dan Jalan Revolusi Sosial

| PENAMARA . ID

Selasa, 22 April 2025 - 03:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Arsip Penulis

Foto : Arsip Penulis

Oleh: Saras Sandriyanti

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April tidak boleh berhenti sebagai sebatas seremoni kultural atau rutinitas tahunan yang terjebak pada simbol kebaya dan citra perempuan yang “lembut dan anggun.” Bagi kita, terutama kader progresif, Hari Kartini harus menjadi ruang kontemplasi kritis untuk memaknai kembali esensi perjuangan perempuan dalam sejarah bangsa serta dalam konstelasi perjuangan rakyat hari ini. Maka, dalam momen ini, refleksi Hari Kartini tentang perempuan, emansipasi, serta jalan revolusi sosial harus segara dikumdangkan.

Kartini adalah simbol semangat emansipasi, bukan dalam kerangka liberalisme individualistik ala Barat, tetapi dalam konteks perjuangan kebangsaan yang lebih luas. Ia lahir dan hidup dalam masyarakat feodal, patriarkal, dan kolonial, yang secara struktural menindas perempuan pribumi. Dalam keterbatasannya, Kartini menunjukkan perlawanan melalui jalan pendidikan dan pemikiran. Surat-suratnya menjadi bukti bahwa kebebasan berpikir dan hak perempuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah bentuk awal perlawanan terhadap sistem yang menindas.

Namun perjuangan belum selesai. Dalam masyarakat hari ini, bentuk penindasan terhadap perempuan telah berubah wujud, ia menjadi lebih subtil, sistemik, dan terinstitusionalisasi. Kapitalisme modern mengeksploitasi tubuh dan tenaga perempuan dalam dunia kerja, meminggirkan perempuan dari ruang pengambilan keputusan, bahkan menggiring perempuan pada standar-standar ideal yang dibentuk oleh pasar.

Sebagai Sarinah, perempuan revolusioner yang menjadi bagian dari gerakan rakyat, kita tidak boleh terjebak dalam romantisasi tokoh, tetapi harus menjadikan Hari Kartini sebagai momentum untuk menguatkan kembali garis perjuangan. Emansipasi sejati hanya dapat terwujud apabila perempuan turut terlibat aktif dalam perjuangan kelas, dalam membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik.

Sebagaimana Bung Karno menegaskan bahwa perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya kuat, maka kokohlah bangsa. Maka menjadi tugas historis kita untuk memastikan bahwa perjuangan perempuan tidak tercerabut dari akar Nasionalisme, anti-imperialisme, dan Marhaenisme.

Hari Kartini adalah ajakan untuk bangkit. Menjadi perempuan yang sadar, terdidik, serta revolusioner. Perempuan yang bukan hanya mampu membaca nasibnya, tetapi juga menulis sejarah baru bersama rakyat tertindas. Sehingga, makna refleksi Hari Kartini yang berbicara soal perempuan dan emansipasi, dapat melahirkan jalan revolusi sosial yang nyata bagi seluruh perempuan.


Artikel Lainnya: Mewarisi serta Merawat Semangat Perjuangan Kartini

Penulis : Saras Sandriyanti

Editor : Agnes Monica

Berita Terkait

Serangan DDoS ke Media Independen
Tokoh NU Makin Berjaya — Warga Nahdliyin Tetap di Sana
Karya Jurnalistik, Antara Royalti dan Suara Warga
Penerapan Etika dalam Fungsi Perusahaan sebagai Pilar Keberhasilan Bisnis Berkelanjutan
Resensi Buku: Pendidikan Kaum Tertindas – Suatu Jalan Peradaban Akal
Tidak Ada Kemerdekaan di Bawah Imperialisme
Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah
Bagaimana Filsafat Mengajarkan Cara Mengelola Uang?

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 18:19 WIB

Serangan DDoS ke Media Independen

Kamis, 23 Juli 2026 - 23:44 WIB

Tokoh NU Makin Berjaya — Warga Nahdliyin Tetap di Sana

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:56 WIB

Karya Jurnalistik, Antara Royalti dan Suara Warga

Senin, 29 Juni 2026 - 19:34 WIB

Penerapan Etika dalam Fungsi Perusahaan sebagai Pilar Keberhasilan Bisnis Berkelanjutan

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:52 WIB

Resensi Buku: Pendidikan Kaum Tertindas – Suatu Jalan Peradaban Akal

Berita Terbaru