Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah

| PENAMARA . ID

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pelepasan BTN Jakarta International Marathon 2026 | Foto: Ist/MetroTVNews.com

Pelepasan BTN Jakarta International Marathon 2026 | Foto: Ist/MetroTVNews.com

“Semakin jauh larinya, semakin sehat tubuhnya.”

“Kalau mau cepat kurus, tinggal lari saja.”

Dua kalimat ini sering terdengar. Kita sering mendengarnya dari teman komunitas olahraga, konten media sosial, bahkan dari orang yang baru mulai mengikuti tren lari.

Sekilas terdengar masuk akal. Lari memang olahraga yang mudah dilakukan dan sekarang sedang digemari banyak kalangan. Fakta menunjukkan bahwa tren lari di Indonesia semakin berkembang.

GoodStats mencatat bahwa olahraga telah menjadi gaya hidup, termasuk lari cukup mudah diikuti. Dengan olahraga lagi yang menjadi tren gaya hidup telah mendorong dampak ekonomi melalui event, perlengkapan olahraga, serta komunitas.

Euforia itu semakin terasa setelah BTN Jakarta International Marathon atau BTN JAKIM 2026. Ajang ini diikuti lebih dari 45.000 pelari dari 52 negara. Angka tersebut menunjukkan bahwa lari bukan lagi sekadar olahraga pagi.

Lari telah berkembang menjadi ruang sosial, ruang pencapaian, dan bagian dari identitas masyarakat perkotaan. Namun di balik medali dan unggahan pace, ada pertanyaan yang perlu diajukan ulang: Apakah meningkatnya tren lari diiringi peningkatan literasi kesehatan?

Antara semangat dan salah kaprah

Lari memang menyehatkan. Aktivitas ini dapat menjaga kebugaran, melatih daya tahan tubuh, dan memperkuat fungsi jantung. Dalam sebuah jurnal yang terbit di JACC Journals (2014) menunjukan bahwa lari menurunkan risiko kematian dari berbagai penyebab dan penyakit kardiovaskular.

Namun manfaat itu bukan berarti semua orang bisa berlari dengan cara yang sama. Tubuh setiap orang punya batas berbeda. Ada yang baru mulai olahraga. Ada yang punya riwayat cedera. Ada juga yang ikut lari karena takut tertinggal tren.

Masalah muncul ketika lari dipahami terlalu sederhana. Seolah-olah semakin jauh dan semakin cepat pasti semakin baik. Padahal tubuh tidak bekerja sesederhana itu.

Yang lebih berbahaya justru ketika semangat berubah menjadi pemaksaan. Lari yang seharusnya menjadi jalan menuju sehat bisa berubah menjadi sumber cedera jika dilakukan tanpa persiapan dan pengetahuan yang cukup.

Jauh tidak lebih baik

Anggapan yang sering muncul adalah semakin jauh dan cepat seseorang berlari, maka semakin baik pula dampaknya bagi tubuh. Kalimat ini terdengar memotivasi. Namun kalimat itu bisa menyesatkan jika diterima mentah-mentah.

Lari jarak jauh tentu bisa bermanfaat jika dilakukan dengan latihan bertahap. Tubuh juga membutuhkan istirahat dan pemulihan yang cukup. Jika tubuh terus dipaksa tanpa recovery, risiko cedera dan kelelahan berlebihan bisa meningkat.

Dalam salah satu pembahasan dr. Tirta tentang mitos dan fakta olahraga, ia menekankan bahwa olahraga berlebihan dapat membuat tubuh stres dan lelah. Artinya rajin olahraga bukan berarti boleh mengabaikan batas tubuh.

Mitos lain juga sering muncul di sekitar lari. Ada anggapan bahwa lari bisa menyembuhkan asma. Ada juga yang percaya bahwa genetik tidak berpengaruh pada lari. Bahkan ada anggapan setelah lari cukup selonjoran saja.

Padahal lari hanya membantu meningkatkan kapasitas paru dan jantung. Asma tetap perlu dikontrol secara medis. Faktor tubuh juga dapat mempengaruhi performa meskipun latihan tetap menjadi hal penting. Setelah lari pun cooling down dan stretching tetap dibutuhkan untuk mengurangi risiko cedera.

Tidak ada kurus instan

Mitos lain yang tidak kalah populer adalah anggapan bahwa lari pasti membuat berat badan turun dengan cepat. Narasi ini membuat sebagian orang berpikir bahwa selama sudah lari, pola makan tidak perlu diperhatikan.

Faktanya penurunan berat badan tidak hanya ditentukan oleh lari. Ada banyak faktor lain yang ikut berpengaruh. Pola makan, jumlah kalori, kualitas tidur, metabolisme tubuh, dan konsistensi gaya hidup juga menentukan hasilnya.

Rafiq, Sutono, dan Wicaksana menjelaskan bahwa aktivitas fisik memang berperan dalam penurunan berat badan. Namun hasil yang lebih optimal tetap membutuhkan pengaturan pola makan dan kebiasaan hidup yang sehat. Dengan kata lain lari bisa membantu. Tetapi lari bukan satu-satunya jawaban.

Hal ini juga terlihat dari pembahasan dr. Tirta bersama Rafi Pace. Perubahan tubuh tidak hanya datang dari lari. Perubahan juga dipengaruhi pola makan, pola tidur, nutrisi, dan kebiasaan hidup yang konsisten.

Kurus juga bukan berarti otomatis lebih cepat. Lari pelan saja belum tentu cukup untuk meningkatkan performa. Tubuh tetap membutuhkan latihan yang terstruktur seperti easy run, interval, tempo, dan long run.

BTN Jatim 2026 dan euforia tren lari

BTN JAKIM 2026 menjadi salah satu gambaran kuat bahwa antusiasme masyarakat terhadap lari semakin besar. Lebih dari 45.000 pelari dari 52 negara ikut terlibat dalam ajang tersebut. Jumlah ini memperlihatkan bahwa lari telah menjadi bagian dari budaya olahraga yang semakin luas.

Kemeriahan event seperti ini tentu membawa dampak positif. Masyarakat terdorong untuk bergerak. Komunitas lari semakin berkembang. Kota juga dapat memperoleh manfaat dari sport tourism dan kegiatan ekonomi di sekitarnya.

Namun euforia event lari sebaiknya tidak hanya berhenti pada medali dan dokumentasi. Ajang besar seperti BTN JAKIM 2026 juga perlu menjadi pengingat bahwa olahraga membutuhkan literasi kesehatan. Pelari perlu memahami latihan yang aman, batas tubuh, pemanasan, pendinginan, hidrasi, dan waktu istirahat.

Finish memang membanggakan. Tetapi memahami tubuh sendiri jauh lebih penting. Lari yang baik bukan hanya soal sampai garis akhir. Lari yang baik juga soal pulang dengan kondisi tubuh yang tetap baik-baik saja.

Kekeliruan tentang lari dengan hoaks

Hoaks kesehatan tidak selalu datang dalam bentuk klaim yang terdengar aneh. Kadang ia hadir sebagai tips sederhana. Kadang ia dibungkus sebagai motivasi. Kadang ia datang dari orang yang terlihat meyakinkan.

Dalam konteks lari, informasi keliru bisa menyebar lewat banyak cara. Misalnya saran untuk terus menambah jarak tanpa memperhatikan tubuh. Ada juga anggapan bahwa pendinginan tidak penting. Ada pula keyakinan bahwa semua orang bisa langsung mengikuti latihan berat selama punya niat kuat.

Masalahnya media sosial membuat informasi seperti ini mudah berulang. Ketika seseorang sering menonton konten lari tertentu, algoritma akan terus menampilkan konten serupa. Lama-lama informasi yang belum tentu benar terasa seperti kebenaran.

Inilah yang disebut echo chamber. Kita merasa sedang belajar. Padahal bisa saja kita hanya mendengar informasi yang sama secara terus-menerus.

Saatnya jadi pelari yang kritis

Melawan hoaks tidak harus menunggu menjadi dokter atau atlet. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan berpikir kritis dan kemauan untuk mencari tahu lebih dalam.

Dalam kajian komunikasi, Banas menjelaskan inoculation theory sebagai cara membangun ketahanan terhadap misinformasi. Sederhananya orang perlu dikenalkan pada pola informasi keliru agar tidak mudah tertipu ketika menemukan klaim serupa.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, seperti mengecek sumber lain yang memang dipublikasikan dari tenaga medis, pelatih profesional, atau media yang kredibel, dapat menghindari diinformasi menyebar.

Sehat mulai dari pikiran

Lari tidak salah. Mengikuti event lari juga tidak salah. Yang perlu dibenahi adalah cara kita memahami lari. Tidak semua yang viral harus diikuti. Tidak semua pengalaman orang lain cocok diterapkan pada tubuh kita. Tidak semua nasihat yang terdengar sehat benar-benar aman.

Kesehatan bukan hanya soal tubuh yang bergerak. Kesehatan juga soal pikiran yang mampu memilah informasi. Jika informasi yang masuk keliru, keputusan yang diambil juga bisa keliru.

Karena dalam olahraga, yang terpenting bukan hanya sampai garis finis. Yang terpenting adalah memahami tubuh sendiri dan pulang dengan keadaan baik-baik saja.

Artikel Lain :

Peran Komunikasi Verbal untuk Mencegah Kesalahpahaman di Era Digital

Pentingnya Self Awareness [Kesadaran Diri] untuk Mengenal Potensi Diri

Hoaks makin Halus, Literasi saja tidak Cukup

 

Penulis : Hirzi Ash Shidiqqie

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Lemahnya Komunikasi Pemerintah Soal MBG Membuat Opini Publik Terbelah
“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin
Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia
Bahaya Tersembunyi di Balik Revisi UU Polri bagi Demokrasi
Kolam Keruh Kebohongan dan Masyarakat yang Berhenti Peduli pada Kebenaran
Soekarno dan Seni Menjelaskan Indonesia dengan Bahasa yang Dipahami Rakyat
Jangan Gaduh Karena Banpres, Ibadah Kurban Seharusnya Membawa Kebahagiaan
Dialektika Ketimpangan: Antara Akumulasi Modal Marxian dan Pengkhianatan Amanat Marhaenisme

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:58 WIB

Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:33 WIB

Lemahnya Komunikasi Pemerintah Soal MBG Membuat Opini Publik Terbelah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:50 WIB

“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin

Rabu, 10 Juni 2026 - 23:45 WIB

Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia

Rabu, 10 Juni 2026 - 03:23 WIB

Bahaya Tersembunyi di Balik Revisi UU Polri bagi Demokrasi

Berita Terbaru