Oleh: Wahyuono | Warga Primitif Nahdliyin
Sebagai warga Nahdliyin, tidak sekadar selisah melihat situasi terkini organisasi masyarakat yang di klaim terbesar di Indonesia. Jelang Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tampakberas, Jombang, Jawa Timur — tempat bagi lahir dan tumbuh besarnya organisasi Nahdatul Ulama (NU), dan juga sebagai tempat kelahiran nenek moyang penulis.
Tentu begitu kental keterkaitan dan kecintaan terhadap NU, tidak hanya ajarannya. Namun, segala pola laku dan fikir hampir sepenuhnya diterapkan dan tertanam. Al Fatihah untuk para pendiri NU, dan istigfar yang banyak memohon keampunan Allah subhanahu wa ta’ala, atas semrawutnya organisasi Nahdatul Ulama, terutama dikalangan priyayi atas kasta tertinggi di NU.
Situasi dan dinamika menjelang Muktamar ke-35, mengingatkan penulis terhadap situasi di Era Majapahit, bagaimana para bersaudara saling menikam demi memperebutkan kekuasaan, baik itu kekuasaan keamanan, maupun kekuasaan ekonomi. Kerajaan “yang runtuh” akibat kombinasi konflik internal, perang saudara, dan tekanan dari kekuatan luar.
Walau mungkin dianggap “tidak nyambung”. Penulis hanya melihat bahwa kebesaran NU, jangan sampai kandas, dan warga Nahdliyin kehilangan pegangan.
Jika memang ada perpecahan, penulis beropini untuk idealnya harus berakhir dengan persatuan. Kusruh di internal Pengurus Besar (PB) NU, harus diwaspadai, apakah ada campur tangan pihak lain, atau memang kisruh demi perbaikan PBNU kedepan. Jika ditapak tilas perjalanan PBNU pasca Reformasi, tidak ada yang bisa mengingkari bahwa kebesaran NU adalah di era Gus Dur.
Seluruh kyai, pondok pesantren, santri, para bu nyai, dan bahkan organisasi-organisasi termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), menjadi ikut besar dan mendapatkan peluang untuk masuk dan ikut aktif dalam isu-isu skala nasional hingga internasional, mulai mengisi pos-pos di eksekutif, mengisi pos di legislatif, sampai menjadi target partai politik untuk dijadikan alat klaim legitimasi suara dan kandidat capres-cawapres di kalangan Nahdliyin.
Harusnya NU menjadi lebih besar dan maju pasca ditinggal Gus Dur, tapi faktanya — Gedung PBNU hanya dikotak katik saja, tampal sana sini, seolah berkembang dan bertambah — sampai saat ini, sebagai warga Nahdiyin, tidak pernah lagi melihat peresmian gedung baru NU, tidak melihat ada pertambahan atas aset.
Yang berkembang hanyalah kejayaan personal tokoh-tokoh NU. Menempati berbagai posisi strategis di eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga lingkar kekuasaan pemerintah, tetapi kemajuan itu belum berbanding lurus dengan perkembangan NU sebagai “rumah besar” bagi warga Nahdliyin.
Situasi negara yang tidak sedang baik-baik saja, dan PBNU seolah tidak hadir, sibuk dengan urusannya sendiri. Lalu untuk apa ada PBNU, jika warga Nahdliyin-nya justru terlantar? Dipanggil bersholawat, diundang menghadiri berbagai kegiatan, namun tidak emong, tidak benar-benar diperhatikan.
Kisruh di tubuh PBNU yang diisi para Kyai kasta tertinggi, cendekiawan, dan pejabat publik, tentu membuat warga Nahdliyin tercengang. Apa yang mereka ributkan? Apa yang sesungguhnya menjadi persoalan?
Karena pada akhirnya, warga Nahdliyin-lah yang menanggung dampak nyata dari setiap kebijakan — dikejar pajak, dihimpit biaya hidup. Jika boleh bicara apa adanya: lebih besar angka Nahdliyin yang berada di bawah garis menengah, bahkan di ambang kemiskinan. Yang menjabat dan hidup di atas rata-rata hanyalah segelintir, tidak lebih dari satu persen.
Idealnya, dengan besarnya jumlah warga Nahdliyin, mereka jangan hanya dijadikan komoditas saat Pemilu, dijual atas nama demokrasi, lalu dilupakan. Mereka seharusnya diberdayakan, diangkat derajatnya. Sebab PBNU sesungguhnya memiliki bargaining yang sangat besar untuk ikut menentukan arah jalannya pemerintahan dan bangsa ini.
Artinya, ketika PBNU tidak mampu bersatu, tidak sanggup mengesampingkan ego masing-masing, maka PBNU akan hancur dan tenggelam, bersama negara ini. Tulisan ini adalah pendapat saya, sebagai bentuk kecintaan. Saya terlahir, terdidik, dan berdialektika sebagai warga Nahdliyin di PMII.
Terima kasih, Gus Dur. Al-Fatihah.
Artikel Lain :
Baru Dilantik, Pemuda Muslim Indonesia Banten Langsung Buka Posko Aduan Sekolah Gratis
Zilenial, Fenomena Penolakan Istilah Milenial dan Generasi Z
Penulis : Wahyuono TP
Editor : Devis Mamesah






