Semangat Perjuangan Mewarisi serta Merawat
Mewarisi serta merawat semangat perjuangan Kartini adalah salah satu jalan pembebasan kaum perempuan dari keterbelengguan serta keterbelakangan perempuan yang belum memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki atau bahkan sering mengalami diskriminasi hanya karena ia seorang perempuan. Sosok Kartini merupakan salah satu tokoh perempuan yang mempunyai andil besar dalam mempengaruhi peradaban perempuan. Kartini juga dianggap berpengaruh dalam kancah internasional pada saat itu karena kepintarannya serta kegigihannya melawan ketertindasan perempuan, walaupun ia hanya menempuh pendidikan sampai dengan umur 12 tahun karena selanjutnya ia dengan terpaksa harus dipingit.
Melihat ruh perjuangan seorang Kartini, tentang kegelisahan terhadap keadaan yang menimpa dirinya dan kegelisahan itu menjadi semangat perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan dimana sampai hari ini, semangat itu terus digaungkan, terus mengalir dalam diri setiap perempuan bahwa perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki. Semangat itu akhirnya terus terpelihara dan terus terawat sehingga setiap tahunnya kita sebagai anak bangsa Indonesia selalu memperingati perjuangan-perjuangan Kartini.
Kegelisahan yang dialami oleh seorang Kartini adalah tentang keadaan yang menimpa perempuan yang terbelenggu dalam jerat ketidakadilan. Dalam keterkungkungan serta ketertindasan yang dialami oleh perempuan maka ia tidak dapat memilih jalan hidup sesuai dengan kemauannya sendiri karena adanya konstruksi sosial yang sangat merugikan perempuan. Maka Kartini bangkit dari keadaan itu, ia melihat bahwa ketika perempuan bangkit dan mempunyai semangat untuk mendobrak konstruksi sosial yang ada maka perempuan itu dapat merdeka, bahkan adil sejak dalam pemikirannya.
Kemudian semangat itulah yang akan terus diwarisi, yang akan terus ditanam di dalam jiwa setiap penerus anak bangsa terkhusus perempuan bahwa perempuan dapat mengambil keputusan untuk kehidupannya sendiri tanpa adanya intervensi dari siapa pun dan semangat itulah yang membawa perempuan hari ini dapat merasakan pendidikan sama hal nya dengan laki-laki yang pada zaman Kartini, perempuan tidak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengenyam bangku pendidikan. Bahkan sampai hari ini, masih banyak stigma yang melekat kepada setiap perempuan seperti tentang untuk apa perempuan berpendidikan tinggi yang kemudian itu menjadi hal yang lumrah ketika perempuan tidak mempunyai kesempatan untuk ber-pendidikan karena akhirnya ia akan menjadi ibu rumah tangga.
Konstruksi sosial yang mengakar terhadap diri perempuan ini sebenarnya ingin dipatahkan oleh seorang Kartini, bahwa perempuan berhak untuk memilih langkah apa yang ingin dia ambil di dalam setiap keputusan menyangkut dengan hidupnya, perempuan juga dapat mengisi tempat yang memang selama ini dinilai perempuan hanya cocok di dalam rumah yang pasti berujung pada pernikahan. Perlawanan inilah yang diperjuangkan untuk mendapatkan penghidupan yang layak, terkhusus dalam bidang pendidikan. Melihat semangat perjuangan Kartini yang akhirnya berdampak terhadap perubahan konstruksi sosial yang berkembang dalam masyarakat mengenai perempuan yang berpendidikan, perempuan akhirnya dapat merasakan bangku pendidikan sama hal nya dengan laki-laki yang dengan sangat mudah memiliki akses terhadap pendidikan.
Pendidikan adalah Arena Pembebasan
Karena bagaimanapun, pendidikan merupakan salah satu faktor utama yang akan sangat mempengaruhi seseorang mulai dari cara berfikir sampai dengan bagaimana pada akhirnya seseorang memaknai kehidupan ini. Kesempatan itu akhirnya dapat kita semua rasakan khusus nya para perempuan di seluruh Indonesia, dimana kita dapat menempuh pendidikan sama hal nya dengan laki-laki dan itu merupakan pilihan pribadi kita untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam masing-masing pribadi kita.
Jika berbicara konteks pada masa Kartini dan masa kini, perempuan zaman sekarang sudah tidak perlu melakukan perjuangan yang sedemikian berat seperti yang Kartini lakukan. Mengingat bahwa hak yang diperjuangkan oleh Kartini sudah dapat kita rasakan dampaknya. Namun, melihat pergerakan perempuan hari ini khusunya perempuan yang sudah mendapatkan pendidikan yang dicita-citakan oleh seorang Kartini, bagaimana akhirnya kita mewarisi api semangat yang dimiliki nya yang kemudian kita rawat. Meskipun pendidikan itu sudah dirasakan oleh perempuan, tidak semua perempuan pada akhirnya merasakan kebebasan dari berpendidikan. Masih banyak pula perempuan yang sampai hari ini masih terjebak dalam konstruksi sosial yang dibangun dan kemudian mereka tidak sanggup untuk melawan itu, jadi perjuangannya hanya sampai mencapai pendidikan itu sehingga seringkali kehilangan esensi dari seorang yang berpendidikan. Tidak jarang bahwa ia memilih untuk melanjutkan pendidikan hanya karena sebatas agar dipandang lebih terhormat oleh oranglain, sehingga pada akhirnya pendidikan sebagai sarana pembebasan setiap orang kehilangan makna dan menjadikan perempuan itu sendiri tetap terjebak dalam konstruksi sosial yang sebenarnya masih menjerat mereka.
Padahal jika kita melihat perjuangan pergerakan perempuan pada masa lampau terkhusus Kartini, sudah cukup jelas bagaimana penderitaan yang ia alami sampai bagaimana langkah yang harus diambil untuk lepas dari jerat belenggu yang merenggut salah satu hak nya sebagai manusia. Ternyata semangat itu tidak seluruhnya diwarisi dan dirawat oleh perempuan itu sendiri sehingga ketika mereka sudah mencapai pendidikan yang diharapakan, mereka tidak dapat menempatkan diri dalam masyarakat bahkan dalam tatanan rumah tangga nantinya karena sebenarnya mereka belum tuntas memaknai pendidikan yang sebenarnya membebaskan mereka dari segala belenggu termasuk konstruksi sosial.
Patut di apresiasi bahwa perempuan sudah mendapat pendidikan yang diharapkan seperti hal nya seorang laki-laki yang mendapat pendidikan. Namun seiring berjalannya waktu tantangan zaman itu pasti ada dan itu nyata terpampang di depan mata yang terkadang kita sendiri tidak sadar, bahwa ketika perempuan sudah mencapai pendidikan yang di-idamkan nya itu, bukan berarti ia dapat menempatkan dirinya sebagaimana para pejuang pergerakan perempuan dahulu memperjuangkannya. Maka pentingnya tetap mewarisi serta merawat semangat perjuangan Kartini menjadi kunci kebebasan bagi para perempuan untuk keluar dari belenggu dan kemudian menjadi para pejuang pergerakan perempuan.
Tingkat kepekaan perempuan terpelajar atau yang sudah dicerahkan ini dalam melihat kondisi yang ternyata masih banyak perempuan yang hidup dalam bayang-bayang konstruksi sosial bahwa ketika mereka menempuh pendidikan, itu hanya sebagai alat formalitas untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa mereka sudah tuntas menempuh pendidikan minimal sarjana, tapi kehilangan makna dan esensi dari pendidikan itu sendiri. Maka akan kembali kepada pertanyaan yang sering terlontar bahwa “untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya balik lagi kan ngurusin rumah tangga?” tanpa ada jawaban yang konkrit sebagai antitesis dari konstruksi sosial itu sehingga yang diharapkan adalah sintesis dari ruang itu, bahwa perempuan menempuh pendidikan bukan hanya serta merta agar sama dengan laki-laki, ataupun hanya serta merta agar dipandang masyarakat bahwa dia sudah selesai menempuh sarjananya. Tetapi ketika perempuan menempuh pendidikan bagaimana caranya agar pandangannya terhadap dunia ini luas, bagaimana akhirnya seorang perempuan tidak lagi di diskreditkan atau dipandang sebelah mata hanya karena ia seorang perempuan.
Tantangan itulah yang sebenarnya nyata. Gagasan apa yang akhirnya dapat kita bawa dan tawarkan sebagai perempuan yang sudah terpelajar untuk kemajuan masyarakat sehingga dapat menopang kepribadian bangsa dan negaranya sendiri. Peningkatan kapabilitas dan kapasitas para perempuan pada akhirnya akan menghapus konstruksi sosial yang selama ini melekat pada perempuan terutama soal pertanyaan terkait dengan “untuk apa pendidikan bagi kaum perempuan?” karena selalu dibenturkan dengan urusan rumah tangga yang seakan-akan tujuan akhir seorang perempuan selalu mengenai urusan rumah tangga yang sebenarnya perempuan dapat mengembangkan pribadinya sendiri dengan prestasi-prestasi yang ia raih untuk kemajuan dirinya.
Pentingnya bagaimana memahami esensi dari pendidikan akan membawa setiap orang memiliki kebebasan untuk menetukan pilihan hidupnya sesuai dengan keinginannya atau dengan kata lain pendidikan dapat membentuk setiap kita untuk menjadi orang yang adil sejak dalam pemikiran karena terpenuhi dan tercapai nya esensi dari pendidikan.
Warisan Semangat
Pada akhirnya, ketika perempuan itu sudah secara mahkluk otonom dapat memilih jalan hidupnya, sudah dapat melepaskan diri dari kosntruksi sosial yang selama ini menghantui, bahwa sebenarnya pendidikan merupakan salah satu hal yang fundamental dalam keberlangsungan kehidupan. Perlu diingat dan selalu ditekankan pula, bahwa ketika perempuan berpendidikan dan kembali menjadi ibu rumah tangga tidak ada yang salah akan hal itu namun ketika perempuan itu dengan kesadaran dan sudah melakukan apa yang ia mau sebelum akhirnya untuk mengurus rumah tangga. Tidak ada yang salah akan pilihan itu, karena pendidikan yang ditempuh perempuan pada akhirnya akan bermafaat pula untuk generasi penerus bangsa, yaitu anak-anak yang akan dilahirkan, dimana akhirnya ketika kita menjadi ibu kita mempunyai andil yang cukup besar untuk perubahan pemikiran penerus bangsa dan sudah tercerahkan karena kita sudah mempunyai kapasitas dan kapabilitas untuk itu.
Dan itulah yang harus selalu diwarisi dan selalu dirawat bagaimana akhirnya perjuangan pergerakan perempuan pada masa lampau, yang kita ambil contoh yaitu Kartini pada akhirnya dapat membuat perempuan memiliki pendidikan yang esensi nya dapat diteruskan dalam kehidupan selanjutnya untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkompeten serta memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mampu membangun bangsa dan negara nya. Maka, penting bagi kita kaum perempuan untuk mewarisi serta merawat semangat perjuangan Kartini agar tidak usang dimakan waktu.
Jadilah perempuan yang merdeka, merdeka dalam arti berani untuk mengambil keputusan bagi kemajuan diri sendiri. Jadilah perempuan yang bahagia, bahagia dalam setiap pilihan yang diambil. Jadilah perempuan yang sadar, sadar akan peran dan fungsi nya di dalam masyarakat sehingga dapat menjadi perempuan bebas berbicara apa saja dengan kapasitas dan kapabilitas yang mengiringi sehingga mampu menempatkan dirinya dimana saja, dan jadilah ibu (jika berkenan) untuk penerus bangsa yang berkemampuan tinggi dalam memaknai kehidupan sehingga teranglah jalan dan arah bangsa ini kedepan seperti yang sering disebutkan oleh bung Karno, bahwa perempuan adalah tiang negeri, manakala baik perempuan itu maka baiklah suatu negeri. Selamat merayakan Hari Kartini yang sesungguhnya.
Artikel Lainnya: Resensi Buku: Politik – Aristoteles
Penulis : Agnes Monica
Editor : Redaktur






