Index Animi Sermo: Revisi Tatib DPR yang Berpotensi Merusak Hukum Tata Negara

| PENAMARA . ID

Kamis, 6 Februari 2025 - 22:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi | Pembuat: Emma/Kredit: Getty Images/iStockphoto.com

Ilustrasi | Pembuat: Emma/Kredit: Getty Images/iStockphoto.com

Dilakukannya revisi atas Pasal 228 Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Tertib (Tatib) oleh DPR memunculkan kontroversi yang mendalam. DPR berdalih bahwa perubahan ini bertujuan meningkatkan fungsi pengawasan terhadap pejabat negara yang dipilih melalui rapat paripurna, seperti pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), juga—

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), serta hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). Namun, langkah tersebut dinilai sebagai tindakan fatal yang berpotensi merusak sistem ketatanegaraan Indonesia.

Pada dasarnya, Peraturan Tata Tertib DPR hanya berfungsi untuk mengatur proses internal DPR, termasuk mekanisme pemilihan dan penetapan pejabat negara (fit and proper test). Mengubah pasal ini agar DPR dapat mengevaluasi kinerja pejabat yang telah terpilih justru melewati batas kewenangan legislatif.

Evaluasi yang bersifat mengikat sebagaimana diamanatkan revisi tersebut berpotensi membuka celah bagi DPR untuk menerapkan kendali penuh atas pejabat negara, sesuatu yang seharusnya berada di luar lingkup otoritasnya.

Adagium “Index Animi Sermo” dalam Perspektif Hukum

Istilah index animi sermo  yang berarti “perkataan mencerminkan pikiran seseorang” sering digunakan dalam praktik hukum untuk menilai pola pikir dan maksud di balik suatu pernyataan. Dalam konteks revisi Pasal 228 Tatib DPR ini, penjelasan yang diberikan beberapa anggota DPR tampak tidak logis dan sulit diterima sebagai alasan yang sah.

Jika tujuan DPR benar-benar ingin meningkatkan efektivitas kerja lembaga legislatif, semestinya yang perlu direvisi adalah ketentuan mengenai absensi dan ketidakhadiran anggota DPR dalam rapat-rapat komisi, bukan memperluas pengawasan terhadap pejabat yang mereka pilih sendiri.

Implikasi Penguatan Otoritas DPR

Revisi ini menunjukkan indikasi bahwa DPR berupaya memperkuat otoritasnya secara sepihak. Dengan adanya evaluasi yang mengikat, pejabat negara yang tidak mengikuti keinginan DPR berpotensi mudah diganti atau dipersulit dalam pelaksanaan tugasnya. Hal ini jelas berbahaya bagi independensi lembaga negara dan prinsip check and balance dalam sistem demokrasi Indonesia.

Adapun bunyi hasil revisi Pasal 228 Tatib DPR adalah sebagai berikut:

    • Pasal 228A Ayat (1) : “Dalam rangka meningkatkan fungsi pengawasan dan menjaga kehormatan DPR terhadap hasil pembahasan komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 227 Ayat (2), DPR dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap calon yang telah ditetapkan dalam rapat paripurna DPR.”
    • Pasal 228A Ayat (2) : “Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) bersifat mengikat dan disampaikan oleh komisi yang melakukan evaluasi kepada Pimpinan DPR untuk ditindaklanjuti sesuai dengan mekanisme yang berlaku.”

Ketentuan ini berpotensi mengaburkan pemisahan kekuasaan antara legislatif dan lembaga-lembaga negara lainnya. Jika tidak segera dikoreksi, perubahan ini dapat menjadi preseden buruk yang melemahkan institusi negara yang seharusnya bebas dari intervensi politik.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi, DPR seharusnya lebih fokus pada evaluasi internal dan meningkatkan produktivitas anggotanya ketimbang merambah kewenangan yang bukan menjadi haknya. Revisi ini bukan sekadar persoalan aturan, tetapi cerminan niat dan kepentingan yang patut dipertanyakan.


Artikel Lain : Vetokrasi di Kota Tangerang [tentang] Kekuasaan Vs Moralitas

Penulis : Santo Nainggolan

Editor : Boy Dowi

Berita Terkait

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam
Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan
Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?
Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan
Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar
Teror Menguji Keberanian Demokrasi
Kritik Dibalas Serangan Fisik
Bagaimana kalau Ternyata yang Paling Indah dari Kehidupan adalah Kematian?

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 19:44 WIB

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 April 2026 - 19:02 WIB

Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 - 02:30 WIB

Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?

Senin, 30 Maret 2026 - 23:45 WIB

Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan

Senin, 23 Maret 2026 - 00:14 WIB

Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar

Berita Terbaru

Foto: Tribrata News-Polri

Kirim Tulisan

Antara Kepatuhan dan Kesadaran; Dilema Risiko di Indonesia

Selasa, 28 Apr 2026 - 00:16 WIB

Nasional

Reshuffle kabinet, Prabowo Lantik 6 Pejabat di Istana Negara

Senin, 27 Apr 2026 - 19:38 WIB

Istimewa

Banten

Pegawai SPPG Kabupaten Serang Dursila Bocah SD

Sabtu, 25 Apr 2026 - 19:16 WIB