Setiap tahun, sekitar dua miliar Muslim di seluruh dunia melakukan sesuatu yang, dalam logika ekonomi modern, terlihat agak aneh. Bahkan kalau dipikir dengan kacamata pebisnis startup yang terlalu sering membaca buku motivasi Silicon Valley, tradisi ini mungkin tampak seperti keputusan finansial yang tidak masuk akal.
Dalam waktu tiga hari, jutaan hewan disembelih dan dagingnya dibagikan gratis. Tidak ada transaksi lanjutan, tidak ada profit, tidak ada invoice, tidak ada keuntungan finansial yang tercatat di laporan tahunan perusahaan mana pun.
Bayangkan kalau ada orang datang ke forum investor lalu berkata, “Kami punya sistem ekonomi besar. Triliunan rupiah berputar. Tapi hasil akhirnya dibagikan cuma-cuma.”
Mungkin dia akan langsung dianggap tidak paham bisnis.
Namun justru di situlah letak uniknya. Idul Adha adalah salah satu mekanisme redistribusi kekayaan paling besar, paling tua, dan paling bertahan lama dalam sejarah manusia. Ia tidak lahir dari teori ekonomi modern, tidak dirancang lembaga keuangan global, dan tidak disusun dalam seminar pembangunan internasional di hotel berbintang. Sistem ini lahir dari nilai spiritual, tetapi diam-diam bekerja seperti mesin sosial yang sangat canggih.
Dan yang lebih menarik: ia masih berjalan sampai sekarang.
Di saat banyak program bantuan sosial modern terus berubah nama setiap pergantian rezim, Idul Adha tetap hidup selama lebih dari empat belas abad. Tidak perlu rebranding. Tidak perlu kampanye iklan. Tidak perlu influencer TikTok yang menjelaskan manfaatnya dengan musik dramatis di belakang video.
Ia tetap berjalan karena manusia percaya ada nilai yang lebih penting daripada sekadar untung-rugi ekonomi.
Ketika seseorang membeli sapi untuk kurban di Jakarta, yang bergerak sebenarnya bukan hanya seekor sapi. Ada rantai ekonomi panjang di belakangnya yang sering kali tidak terlihat.
Ada peternak kecil di Nusa Tenggara Timur yang selama berbulan-bulan merawat ternaknya sambil berharap musim kurban datang lebih cepat. Ada pedagang pengumpul yang berkeliling desa. Ada sopir truk ternak yang mengangkut sapi lintas pulau dengan perjalanan berhari-hari. Ada mandor pasar hewan, tukang timbang, hingga tukang jagal profesional yang hidup dari momentum ini.
Dan seperti biasa, ekonomi Indonesia selalu punya kemampuan luar biasa untuk membuat hal kecil ikut bergerak, Plastik pembungkus mendadak laris, Tali rafia dicari orang. Penjual arang tersenyum, Tukang es batu kebanjiran pesanan. Bahkan orang yang menjual tusuk sate pun ikut menikmati perputaran ekonomi tahunan ini.
Dalam ilmu ekonomi, fenomena seperti ini disebut backward linkage, yaitu ketika satu permintaan akhir mampu menggerakkan aktivitas ekonomi hingga ke lapisan paling hulu. Bahasa sederhananya: satu sapi kurban ternyata bisa menghidupi sangat banyak orang yang bahkan tidak pernah muncul di layar televisi.
Dan menariknya, efek ekonomi Idul Adha tidak berhenti di pemilik modal besar. Ia turun sampai ke bawah. Sangat bawah.
Bagi banyak daerah, Idul Adha bukan cuma hari raya keagamaan. Ia adalah musim panen. Di sejumlah wilayah peternakan, terutama di NTT, musim kurban bisa menjadi sumber pemasukan terbesar sepanjang tahun.
Ada keluarga yang biaya sekolah anaknya bergantung pada laku tidaknya sapi saat Idul Adha tiba. Ada peternak yang akhirnya bisa memperbaiki rumah. Ada yang melunasi utang. Ada yang untuk pertama kalinya punya tabungan setelah berbulan-bulan hidup pas-pasan. Dan semua itu terjadi bukan karena subsidi negara, Bukan pula karena program bantuan sosial yang namanya berubah setiap pergantian menteri. Tetapi karena jutaan orang secara sukarela membeli hewan kurban sebagai bagian dari ibadah.
Kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya agak luar biasa. Negara modern dengan birokrasi raksasa saja sering kesulitan membuat distribusi bantuan berjalan rapi. Harus ada database nasional, verifikasi penerima, rapat lintas kementerian, sistem digital, hingga anggaran besar untuk administrasi. Setelah semua itu pun, kadang tetap muncul masalah: bantuan tidak tepat sasaran, data ganda, distribusi lambat, atau kebocoran anggaran.
Sementara Idul Adha berjalan dengan cara yang hampir absurd sederhana. Orang membeli hewan, Masjid mengatur distribusi.
Warga membagikan daging, Selesai.
Tidak ada pusat komando tunggal. Tidak ada lembaga superbesar yang mengendalikan semuanya. Tidak ada server nasional yang mendadak down karena terlalu banyak traffic. Distribusi dilakukan langsung di tingkat lokal oleh orang-orang yang mengenal lingkungannya sendiri.
Dan justru di situlah kekuatannya.
Mengutip BAZNAS, syariat mengatur bahwa daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, kerabat dan tetangga, amil atau panitia, musafir, serta diri sendiri. Ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan sistem distribusi yang sudah berjalan lebih dari empat belas abad. Jauh sebelum dunia modern mengenal konsep welfare state, bantuan sosial nasional, atau subsidi pangan.
Yang menarik, mekanismenya bersifat desentralisasi. Jutaan keputusan distribusi dilakukan langsung di tingkat lokal oleh orang-orang yang memahami kondisi lingkungannya sendiri. Mereka tahu siapa tetangga yang jarang makan daging. Mereka tahu keluarga mana yang benar-benar kesulitan ekonomi. Mereka tahu siapa janda tua yang tinggal sendirian atau buruh harian yang penghasilannya habis sebelum akhir bulan.
Artinya, informasi sosial tidak menumpuk di pusat birokrasi, tetapi tersebar langsung di masyarakat.
Lucunya, konsep seperti ini baru dijelaskan panjang-lebar oleh ekonom Friedrich Hayek pada abad modern. Hayek percaya sistem desentralisasi sering lebih efektif karena informasi tersebar di masyarakat, bukan terkumpul di pusat kekuasaan. Namun tanpa sadar, masyarakat Muslim sudah mempraktikkan pola distribusi seperti itu jauh sebelum teori tersebut ditulis dalam buku ekonomi.
Bedanya, Hayek membuat teori, Sementara masyarakat menjalankannya setiap tahun.
Ada dimensi lain yang sering luput dari percakapan publik ketika membahas Idul Adha: soal gizi. Indonesia sampai hari ini masih menghadapi masalah stunting, dan salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya konsumsi protein hewani pada keluarga berpenghasilan rendah.
Masalahnya sederhana sekaligus menyakitkan: daging terlalu mahal.
Harga daging sapi di pasar bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram. Bagi kelas menengah kota, itu mungkin masih bisa dibeli sesekali. Tetapi bagi jutaan keluarga miskin, angka itu terasa seperti barang mewah. Ada banyak rumah tangga di Indonesia yang mungkin hanya makan daging sapi sekali atau dua kali dalam setahun.
Dan salah satu momen itu adalah Idul Adha.
Karena itulah, Idul Adha sebenarnya bekerja seperti subsidi protein terbesar tahunan di Indonesia. Dalam hitungan hari, jutaan keluarga mendapatkan akses terhadap protein hewani berkualitas secara gratis.
Kalau dihitung dari nilai gizinya saja—protein, zat besi, kalori, vitamin B12—skalanya mungkin sangat besar.
Kita terlalu sering melihat sapi kurban hanya sebagai simbol ibadah, sampai lupa bahwa bagi sebagian anak kecil di kampung-kampung, daging kurban bisa menjadi sumber nutrisi penting yang jarang mereka dapatkan sepanjang tahun.
Ironisnya, negara sampai harus membuat berbagai program makan bergizi untuk mengatasi stunting, sementara distribusi protein terbesar justru sudah lama berjalan melalui tradisi sosial keagamaan yang hidup di masyarakat.
Tentu saja, ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen pernah mengenalkan istilah conspicuous consumption, yaitu konsumsi untuk menunjukkan status sosial. Dalam konteks Indonesia, gejala itu kadang terlihat jelas saat musim kurban datang. Semakin besar sapi, kadang semakin besar pula dorongan untuk memotretnya lalu mengunggahnya ke media sosial dengan caption sok rendah hati seperti, “Hanya titipan Allah.” Padahal sapinya hampir sebesar kamar kos.
Dalam logika ekonomi murni, membeli sapi puluhan juta rupiah lalu membagikannya gratis memang bisa dianggap tidak efisien. Tetapi melihat kurban hanya sebagai ajang pamer status juga terlalu menyederhanakan persoalan.
Karena ada sesuatu yang lebih besar sedang bekerja di baliknya: kepercayaan sosial.
Ilmuwan politik Robert Putnam menyebutnya sebagai social capital, modal sosial yang terbentuk dari rasa percaya, solidaritas, dan gotong royong. Orang yang menerima daging kurban bukan hanya menerima makanan. Mereka juga merasakan bahwa lingkungan mereka masih peduli. Bahwa mereka masih dianggap bagian dari komunitas.
Dan di zaman ketika banyak orang bahkan tidak kenal tetangganya sendiri, rasa seperti itu mahal sekali.
Idul Adha membuat orang berkumpul lagi. Masjid kembali ramai. Warga yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing mendadak bekerja bersama membungkus daging, mengangkat kardus, atau memasak sate di pinggir jalan. Ada percakapan kecil. Ada tawa. Ada rasa kebersamaan yang mungkin perlahan hilang di kota-kota modern.
Kadang masyarakat tidak bertahan hanya karena uang, Masyarakat bertahan karena ada rasa saling memiliki.
Mungkin itu sebabnya sistem ini mampu hidup sangat lama.
Banyak program redistribusi modern gagal karena masalah insentif. Orang cenderung menghindari pajak. Donasi biasanya musiman. Bantuan sosial sering bergantung pada situasi politik.
Tetapi Idul Adha bekerja dengan cara berbeda. Redistribusi tidak dibangun di atas ancaman hukum atau kewajiban administratif, melainkan ditanamkan ke dalam nilai spiritual.
Orang rela mengeluarkan uang puluhan juta bukan karena takut didenda negara, tetapi karena merasa itu bagian dari ibadah dan ketaatan kepada Tuhan. Dan secara psikologis, motivasi seperti ini jauh lebih kuat dan konsisten.
Idul Adha memang sering dipahami sebagai kisah ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhan. Dan memang itu inti utamanya. Namun di balik pembagian daging kurban, antrean warga, dan peternak NTT yang akhirnya bisa membiayai sekolah anaknya, ada sebuah sistem ekonomi yang bekerja dengan sangat manusiawi.
Sistem ini tidak lahir dari teori ekonomi modern, tetapi dari nilai spiritual yang mampu menggerakkan distribusi, gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial selama ratusan tahun.
Di balik suara takbir, asap sate, dan kantong plastik berisi daging yang dibawa warga pulang ke rumah masing-masing, ada satu hal yang diam-diam bekerja sangat rapi: ekonomi yang tidak hanya memikirkan pertumbuhan, tetapi juga manusia.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






