PENAMARA.ID — Pernakah kita berfikir atau terbesit sepintas dalam pikiran kita, tentang bagaimana kalau ternyata yang paling indah dari kehidupan ini adalah justru kematian itu sendiri?
Kita terlalu bising sebenarnya untuk selalu membicarakan tentang masa depan yang tak jelas. Terlalu sibuk mendengarkan hal yang tidak seharusnya kita dengar, terlalu memberikan perhatian penuh terhadap sesuatu hal yang hanya memberikan kita kebahagiaan semu semata.
Harapan yang tak pernah kunjung datang, berikut dengan kesedihan yang terus bergulir ke permukaan kulit wajah, serta kehampaan yang seringkali menusuk jiwa sehingga terasa seperti kematian mendadak di dada, rasa sakit yang tak tertahankan..
Detak jantung yang terus berirama seakan-akan menunjukkan bahwa, kau masih akan terus hidup, setidaknya untuk beberapa jam kedepan, pikiran yang penuh dengan kebingungan akan masa depan yang buram, asa yang terus dipaksa terus ada guna memperkuat kita, tapi dari semua itu, dimana kita mendapat balasannya?
Berapa pula harga yang harus dibayar lunas untuk menyelesaikan kehidupan ini? Apa harga yang setimpal untuk dipertaruhkan setelah kita semua sudah melewati masa pedih di dalam kehidupan kita?
Kematian, seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang gelap, kelam, atau bahkan tempat paling terdalam, siksaan yang begitu dahsyat, kosong, takut, hampa, sampai-sampai kita kadang merasa ketakutan berlebih terhadap sesuatu hal yang niscaya? Tapi disaat yang bersamaan kita dapat percaya terhadap suatu hal yang tak pasti?
Bagaimana kalau dari semua ketakutan kita itu, kematian adalah sesuatu yang paling indah diantara seluruh tawaran kebahagiaan di dalam kehidupan? Bagaimana kalau kematian ternyata lebih membahagiakan, melegakan, membebaskan manusia, dari penderitaan berkepanjangan bernama kehidupan?
Mengapa kita tak pernah memposisikan kematian seindah kehidupan? Padahal, kalau kita melihat lebih dalam lagi, untuk mengakhiri penderitaan berkepanjangan bernama kehidupan adalah dengan kematian. Kita sering dengan yakin bahwa kehidupan akan membawa kita kepada sebuah kebahagiaan, yang sebenarnya juga kebahagiaan yang fana. Bagaimana kalau kita perlakukan hal yang sama terhadap sebuah kematian?
Bagaimana kalau kematian dapat membebaskan manusia dari penderitaan? Bagaimana kalau kematian adalah sesuatu hal yang ternyata membawa berkah yang berkepanjangan terhadap manusia?
Terdengar paradoks namun bukankah cara kerja dunia memang selalu mengandung paradoksal? Dan ternyata, paradoksal itulah yang memperkuat kita terhadap hal-hal yang sebelumnya kita percaya sebagai sesuatu hal yang gelap, pada akhirnya memiliki makna ‘terang’ begitupun sebaliknya.
Pada akhirnya, semua tergantung bagaimana kita mau membangun persepsi terhadap kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap, semua berjalan beriringan dan menempati tempatnya masing-masing, atau dapat mengisi satu sama lain..
Zaman Manusia Ingin Menjadi Bukan Memahami
Penulis : Agnes Monica
Editor : Redaktur






