Bagaimana kalau Ternyata yang Paling Indah dari Kehidupan adalah Kematian?

| PENAMARA . ID

Selasa, 10 Maret 2026 - 14:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

freepik.com

freepik.com

PENAMARA.ID — Pernakah kita berfikir atau terbesit sepintas dalam pikiran kita, tentang bagaimana kalau ternyata yang paling indah dari kehidupan ini adalah justru kematian itu sendiri?

Kita terlalu bising sebenarnya untuk selalu membicarakan tentang masa depan yang tak jelas. Terlalu sibuk mendengarkan hal yang tidak seharusnya kita dengar, terlalu memberikan perhatian penuh terhadap sesuatu hal yang hanya memberikan kita kebahagiaan semu semata.

Harapan yang tak pernah kunjung datang, berikut dengan kesedihan yang terus bergulir ke permukaan kulit wajah, serta kehampaan yang seringkali menusuk jiwa sehingga terasa seperti kematian mendadak di dada, rasa sakit yang tak tertahankan..

Detak jantung yang terus berirama seakan-akan menunjukkan bahwa, kau masih akan terus hidup, setidaknya untuk beberapa jam kedepan, pikiran yang penuh dengan kebingungan akan masa depan yang buram, asa yang terus dipaksa terus ada guna memperkuat kita, tapi dari semua itu, dimana kita mendapat balasannya?

Berapa pula harga yang harus dibayar lunas untuk menyelesaikan kehidupan ini? Apa harga yang setimpal untuk dipertaruhkan setelah kita semua sudah melewati masa pedih di dalam kehidupan kita?

Kematian, seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang gelap, kelam, atau bahkan tempat paling terdalam, siksaan yang begitu dahsyat, kosong, takut, hampa, sampai-sampai kita kadang merasa ketakutan berlebih terhadap sesuatu hal yang niscaya? Tapi disaat yang bersamaan kita dapat percaya terhadap suatu hal yang tak pasti?

Bagaimana kalau dari semua ketakutan kita itu, kematian adalah sesuatu yang paling indah diantara seluruh tawaran kebahagiaan di dalam kehidupan? Bagaimana kalau kematian ternyata lebih membahagiakan, melegakan, membebaskan manusia, dari penderitaan berkepanjangan bernama kehidupan?

Mengapa kita tak pernah memposisikan kematian seindah kehidupan? Padahal, kalau kita melihat lebih dalam lagi, untuk mengakhiri penderitaan berkepanjangan bernama kehidupan adalah dengan kematian. Kita sering dengan yakin bahwa kehidupan akan membawa kita kepada sebuah kebahagiaan, yang sebenarnya juga kebahagiaan yang fana. Bagaimana kalau kita perlakukan hal yang sama terhadap sebuah kematian?

Bagaimana kalau kematian dapat membebaskan manusia dari penderitaan? Bagaimana kalau kematian adalah sesuatu hal yang ternyata membawa berkah yang berkepanjangan terhadap manusia?

Terdengar paradoks namun bukankah cara kerja dunia memang selalu mengandung paradoksal? Dan ternyata, paradoksal itulah yang memperkuat kita terhadap hal-hal yang sebelumnya kita percaya sebagai sesuatu hal yang gelap, pada akhirnya memiliki makna ‘terang’ begitupun sebaliknya.

Pada akhirnya, semua tergantung bagaimana kita mau membangun persepsi terhadap kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, terang dan gelap, semua berjalan beriringan dan menempati tempatnya masing-masing, atau dapat mengisi satu sama lain..


Zaman Manusia Ingin Menjadi Bukan Memahami

 

Penulis : Agnes Monica

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Tokoh NU Makin Berjaya — Warga Nahdliyin Tetap di Sana
Penerapan Etika dalam Fungsi Perusahaan sebagai Pilar Keberhasilan Bisnis Berkelanjutan
Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah
Lemahnya Komunikasi Pemerintah Soal MBG Membuat Opini Publik Terbelah
“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin
Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia
Bahaya Tersembunyi di Balik Revisi UU Polri bagi Demokrasi
Kolam Keruh Kebohongan dan Masyarakat yang Berhenti Peduli pada Kebenaran

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 23:44 WIB

Tokoh NU Makin Berjaya — Warga Nahdliyin Tetap di Sana

Senin, 29 Juni 2026 - 19:34 WIB

Penerapan Etika dalam Fungsi Perusahaan sebagai Pilar Keberhasilan Bisnis Berkelanjutan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:58 WIB

Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:33 WIB

Lemahnya Komunikasi Pemerintah Soal MBG Membuat Opini Publik Terbelah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:50 WIB

“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin

Berita Terbaru