PENAMARA.ID — Baru saja saya melewati sebuah daerah di lereng Gunung Sumbing karena saya sedang berada di Magelang dan saya terbesit untuk bercerita tentang Sumbing dan iming-imingnya. Di sana, para petani tembakau sedang menjemur hasil panen nya. Daun-daun tembakau terbentang di bawah matahari, sementara kehidupan berjalan dengan kesederhanaannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, saya melihat pemandangan dari ketinggian. Rumah-rumah, jalanan, dan hamparan tanah di bawah sana seolah terlihat begitu jelas. Gunung Sumbing berdiri dengan megah, mengingatkan saya bahwa dari tempat yang lebih tinggi, kita memang bisa melihat lebih banyak hal.
Saya kemudian teringat sebuah filosofi tentang kepemimpinan. Semakin tinggi posisi seseorang, harusnya semakin luas pandangannya. Namun, saya kira ada satu hal yang kerap luput, yaitu tentang melihat lebih banyak tidak selalu berarti memahami lebih dalam.
Dari atas, semuanya tampak indah. Kita bisa melihat petani menjemur tembakau tanpa merasakan teriknya matahari. Kita bisa menyaksikan jalanan yang ramai tanpa mengetahui kesulitan orang-orang yang setiap hari melewatinya. Ada jarak antara menyaksikan dan merasakan, antara mengetahui dan benar-benar peduli.
Barangkali, itulah salah satu iming-iming dari sebuah kedudukan. Ia menawarkan tempat yang lebih tinggi, pandangan yang lebih luas, dan kenyamanan untuk menikmati segala sesuatu dari kejauhan. Kita bahkan bisa merasa telah memahami keadaan hanya karena mampu melihatnya dari atas.
Padahal, ada banyak hal yang tidak akan tampak jelas jika kita hanya mengandalkan pandangan. Ada persoalan yang tertutup oleh laporan, ada keluhan yang kalah nyaring dari pujian, dan ada kenyataan yang perlahan menjadi biasa hanya karena terlalu sering dibiarkan terjadi.
Kita mungkin sudah terbiasa mendengar kabar tentang hutan yang terbakar, udara yang memburuk, atau lingkungan yang kehilangan daya dukungnya. Berita datang, perhatian menguat, pernyataan disampaikan, lalu perlahan semuanya kembali seperti semula. Sampai suatu hari, persoalan yang sama hadir lagi, seolah-olah ingatan kita memang dibuat untuk bertahan hanya selama berita itu masih ramai dibicarakan.
Saya tidak tahu apakah ini soal kurangnya kemampuan, terbatasnya perhatian, atau terlalu banyak kepentingan yang harus dijaga. Namun, terkadang saya merasa bahwa sesuatu yang terus berulang bukan hanya membutuhkan solusi, melainkan juga keberanian untuk berhenti menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Sebab, tidak semua yang terlihat dari atas benar-benar sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Mungkin, masalahnya bukan karena mereka yang berada di atas tidak mampu melihat. Barangkali, mereka sudah melihatnya sejak lama. Hanya saja, tidak semua yang terlihat dianggap cukup penting untuk segera ditangani. Apalagi jika dampaknya masih jauh, suaranya belum terdengar sampai ke tempat kita berdiri, dan kenyamanan belum benar-benar terusik.
Betapa mudahnya sebuah persoalan terasa kecil ketika kita hanya melihatnya sebagai bagian dari pemandangan.
Dari Sumbing, saya belajar bahwa ketinggian memang memberikan keluasan pandangan, tetapi tidak otomatis menghadirkan kebijaksanaan. Untuk memahami kehidupan di bawah, seseorang tetap perlu mendekat, mendengar, dan sesekali meninggalkan tempat nyaman yang selama ini membuatnya merasa baik-baik saja.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa jauh ia bersedia melangkah untuk memahami apa yang dilihatnya.
Sebab, gunung yang menjulang tidak pernah meminta kita untuk menjadi lebih tinggi darinya. Ia hanya berdiri, sementara kita yang sibuk mencari tempat terbaik untuk menikmati pemandangan.
Dan mungkin, di antara indahnya Sumbing dan iming-iming ketinggian, ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang:
“Jika dari atas kita bisa melihat begitu banyak hal, mengapa terkadang begitu sedikit yang benar-benar berubah di bawah sana?”
Warmindo – Ruang Ketiga yang Lahir dari Kebutuhan Bukan Gaya Hidup
Penulis : Adamas Hafizh Addin
Editor : Redaktur






