Ada kalimat yang terdengar agak nyelekit, bahkan bisa bikin orang tersinggung.
“Anak zaman sekarang kalau bodoh itu pilihan.”
Kalimat itu meluncur santai dari mulut Sabrang MDP—lebih dikenal sebagai anak dari Emha Ainun Nadjib atau akrab di sapa Cak nun atau anak 2000an mengenalnya sebagai vokalis Letto—di hadapan ratusan pemuda yang memadati Gedung KNPI Kota Tangerang, Kamis (9/7/2026) malam. Bukan umpatan. Bukan pula penghakiman. Ia sedang mengingatkan sesuatu yang sering luput di tengah derasnya arus informasi: di zaman ketika pengetahuan tinggal sejauh sentuhan jari, yang paling langka justru kemampuan untuk berpikir.
Ironisnya, kita hidup pada masa ketika orang bisa mengetahui apa saja, tetapi justru semakin sulit membedakan mana informasi, mana propaganda, mana ilmu, dan mana sekadar amarah yang diketik terburu-buru. Linimasa media sosial dipenuhi pendapat, tetapi tak selalu dipenuhi pertimbangan.
Mungkin karena itulah DPD KNPI Kota Tangerang memilih menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Wa Wajadaka Dāllan Fa Hadā: Menguatkan Nalar Kritis dan Spiritualitas Pemuda.” Tema yang terdengar berat itu sejatinya membicarakan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana agar anak muda tidak gampang dipermainkan.
Malam itu ruangan di Gedung KNPI dipenuhi mahasiswa, aktivis organisasi kepemudaan, hingga perwakilan kelompok Cipayung. Hadir pula Asisten Daerah II Kota Tangerang Ruta Ireng Wicaksono, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kaonang, serta jajaran pengurus KNPI. Namun, perhatian peserta nyaris tak lepas dari sosok Sabrang yang berbicara tanpa banyak jargon.
Ia tidak mengajak peserta menghafal teori politik atau filsafat yang rumit. Yang ia tekankan justru sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi semakin mahal harganya: membangun kebiasaan berpikir.
Menurutnya, setiap zaman selalu menghadirkan tantangan baru. Karena itu, bangsa ini membutuhkan “pabrik” yang terus memproduksi manusia-manusia yang mampu mengolah persoalan dengan berpikir dengan murni.
“Perkumpulan pemuda yang mau berpikir untuk kebaikan bangsa itu selalu baik. Selalu menjadi inisiatif yang baik agar kita bisa lebih dewasa menghadapi situasi. Tantangan pasti akan terus ada, dan kita harus membangun ‘pabrik’ untuk menghadapinya setiap saat,” ujar Sabrang.
Yang paling ia khawatirkan bukanlah pemuda yang berisik. Justru sebaliknya. Ia khawatir ketika energi besar anak muda dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan sesaat.
Pemuda, katanya, memiliki tenaga, keberanian, dan idealisme. Sayangnya, tiga hal itu bisa berubah menjadi alat yang berbahaya jika tidak dibarengi kemampuan berpikir kritis.
“Yang paling saya takutkan adalah energi luar biasa para pemuda dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu, bukan untuk kepentingan bangsa.”
Kalimat itu terasa relevan jika melihat bagaimana media sosial bekerja hari ini. Algoritma lebih menyukai kemarahan dibanding penjelasan. Orang berlomba menjadi yang tercepat berkomentar, bukan yang paling memahami. Banyak orang membaca judul tanpa isi, lalu merasa sudah cukup tahu untuk menghakimi.
Dalam situasi seperti itu, berpikir kritis bukan lagi sekadar kemampuan akademik. Ia berubah menjadi keterampilan bertahan hidup.
Karena itulah Sabrang mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menjadi alat siapa pun.
“Kalau mereka tidak memiliki kebiasaan berpikir kritis, mereka akan mudah ditunggangi. Jangan sampai mahasiswa ditunggangi.”
Pesan itu mungkin terdengar klasik. Tetapi sejarah menunjukkan, mahasiswa selalu berada di titik strategis setiap perubahan besar. Persoalannya, perubahan menuju ke mana? Untuk kepentingan publik atau sekadar menjadi bahan bakar ambisi segelintir orang?
Sabrang tampaknya memilih jalan yang sederhana: sebelum berteriak, belajarlah lebih banyak.
“Learn more,” katanya.
Baginya, keputusan seseorang semestinya lahir dari pemahaman terhadap situasi, bukan dari cerita yang diterima setengah-setengah atau kabar yang hanya lewat di layar ponsel.
Di sinilah kemudian lahir kalimat yang menjadi penutup sekaligus tamparan bagi siapa pun yang hadir malam itu.
“Anak zaman sekarang kalau bodoh itu pilihan.”
Bukan karena semua orang harus menjadi profesor. Melainkan karena akses terhadap pengetahuan kini terbuka lebar. Buku tersedia dalam bentuk digital. Kuliah bisa ditonton gratis. Diskusi berlangsung hampir setiap hari. Bahkan kecerdasan buatan dapat menjelaskan konsep rumit dalam hitungan detik.
Yang sering tidak tersedia justru kemauan untuk belajar.
Ketua pelaksana kegiatan, Baim, berharap dialog seperti ini tidak berhenti sebagai acara seremonial yang selesai ketika kursi-kursi dilipat dan pengeras suara dimatikan.
Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan bahwa ruang diskusi semacam ini masih dibutuhkan oleh anak muda Kota Tangerang.
Ia berharap para peserta membawa pulang lebih dari sekadar catatan seminar. Ada kebiasaan baru yang tumbuh: membaca lebih banyak, mempertanyakan lebih dalam, lalu mengambil sikap dengan kepala yang tetap dingin.
Sebab, bangsa ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Yang lebih langka adalah orang yang bersedia berpikir sebelum bereaksi.
Dan mungkin, seperti yang diingatkan Sabrang malam itu, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita mendapatkan informasi, melainkan oleh seberapa serius kita mengolahnya.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






