Belajar Hidup dalam Kesulitan dan Kenikmatan

| PENAMARA . ID

Kamis, 14 Mei 2026 - 02:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi : Linkedin

Ilustrasi : Linkedin

“Hidup adalah pilihan yang sulit, antara kesulitan dan kenikmatan,” kutipan Aristoteles saat membahas eudaimonia (kebahagiaan). Sebelumnya, kutipan legendaris “Tujuan hidup adalah untuk hidup dengan bijaksana dan merenung,” juga ditulis Plato. Kedua pandangan dengan makna luas — dan telah menjadi landasan berbagai pemikiran.

Kita bahas ini, dimulai dari kata “hidup” yang rasanya sulit bagi manusia modern menentukan satu definisi tunggal dan universal — dewasa ini, hidup telah menjadi hak setiap individu untuk memaknainya sendiri.

Sebagai contoh, ketika pertanyaan tentang makna hidup diajukan kepada seseorang yang tekun beribadah dan kepada seorang penjudi, maka jawaban yang diberikan tentu akan berbeda. Begitu pula dalam hal kenikmatan, ketika ditanya kenikmatan apa yang paling utama, setiap orang akan memiliki jawaban yang tidak sama, sesuai dengan pengalaman dan sudut pandangnya masing-masing.

“Hidup adalah pilihan yang sulit antara kesulitan dan kenikmatan”. Jika dijadikan pilihan — ini tentang pilihan berarti menentukan satu di antara berbagai kemungkinan yang ada. Ketika dihadapkan pada dua opsi — seseorang bisa memilih salah satunya, memilih keduanya, bahkan tidak memilih pun tetap merupakan sebuah pilihan.

Kutipan Aristoteles ini dapat menegaskan bahwa setiap pilihan hidup selalu mengandung tantangan, dan selalu dihadapkan pada pertimbangan yang kontras yang tidak sederhana. Memilih kesulitan tentu bukan perkara mudah, sejak awal yang dihadapi sudah jelas adalah sesuatu yang berat. Berbeda dengan kenikmatan, yang secara pengalaman menghadirkan keindahan, kesenangan, dan hal-hal yang menyenangkan.

Namun, bagaimana jika kenikmatan tidak selalu berakhir pada hal baik dan malah menjebak dengan rasa nyaman. Atau, sebaliknya kesulitan justru diikuti hasil atau pelajaran yang akan memudahkan? Ibarat roda motor bergerak maju ia melewati rangkaian kenikmatan dan kesulitan, dan ketika mundur pun tetap menghadapi kesulitan dan kenikmatan dalam urutan yang berbeda. Sebab, roda tidak selalu bergerak ke depan; ada kalanya harus mundur ketika menemui hambatan di depan.

“Tujuan hidup adalah untuk hidup dengan bijaksana dan merenung” — kutipan ini tak perlu dimaknai secara rumit, cukup berpatok pada kata “tujuan” yang tersirat jelas ada “usaha dan kegiatan” untuk dilakukan. Bukan “keinginan” semata tetapi refleksi atas kehidupan.

Maknanya menjadi utuh, dengan tambahan Plato, yakni hidup dengan “bijaksana”. Dari sini dapat ditafsirkan bahwa hidup dengan bijaksana berarti menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya dan penuh kehormatan. Artinya, setiap tindakan dituntut untuk berhati-hati, mempertimbangkan dampak, serta bersikap rendah hati dalam menjalani setiap aspek kehidupan.

Sementara itu, “merenung” dapat dipahami sebagai proses batin yang melibatkan pikiran dan perasaan secara mendalam untuk mempertimbangkan suatu hal. Merenung tidak hanya tentang memikirkan masa depan, tetapi juga tentang mengolah pengalaman, beban, dan persoalan hidup guna menemukan jalan keluar yang lebih baik. Dalam proses ini, pikiran terus bergerak dan mengalir, membayangkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Hidup yang Seimbang dan Bermakna

Apa yang disampaikan Plato menunjukkan bahwa hidup tidak cukup hanya dijalani dengan kebijaksanaan saja, tetapi juga perlu disertai dengan perenungan. Perenungan membuat seseorang mampu berpikir lebih dalam, bahkan seperti “berpikir berkali-kali”, sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih matang.

Sebagai contoh, ketika seseorang memiliki hutang, jika hanya mengandalkan kebijaksanaan tanpa merenung, mungkin ia hanya fokus pada keputusan praktis. Namun, dengan merenung, ia akan lebih mempertimbangkan berbagai aspek, seperti sebab terjadinya hutang, dampaknya, serta langkah terbaik untuk menyelesaikannya. Sehingga solusi yang diambil menjadi lebih bijak dan menyeluruh.

Kedua pernyataan tersebut jadi cahaya untuk hidup yang lebih sederhana dan mudah dijalani, mengarahkan pada cara hidup yang damai dan tenteram. Dalam posisi ini kehidupan berjalan pada porosnya, seimbang antara memilih, bersikap bijaksana, dan merenung.

Secara sederhana, prinsip hidup yang dapat diambil adalah tidak merugikan orang lain, namun justru berusaha memberi manfaat. Jika sesuatu bukan untuk saya, maka tidak akan saya ambil darimu; dan jika itu milikmu namun sulit untuk kamu jalani, maka saya akan berusaha membantu agar menjadi lebih mudah. Prinsip ini mencerminkan kehidupan yang harmonis, penuh kesadaran, serta saling menghargai antar sesama.

Namun, sebelum sampai pada sikap tersebut, diperlukan proses merenung terlebih dahulu, terutama ketika menghadapi hal-hal yang terasa sulit. Meskipun tidak semua persoalan dapat diselesaikan secara sempurna, selalu ada jalan keluar yang bisa ditemukan. Hasil akhirnya bisa berupa kepasrahan maupun kemenangan.

Dalam hal ini, kepasrahan bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan bentuk penerimaan setelah melalui proses berpikir dan perjuangan. Begitu pula dengan kekalahan, yang pada sisi lain dapat menjadi kemenangan, karena menghadirkan pelajaran, kedewasaan, dan pemahaman baru. Dengan demikian, baik kepasrahan maupun kemenangan sejatinya merupakan bagian dari jawaban atas proses merenung dan usaha yang telah dijalani.

Pada intinya, dua pernyataan tersebut merupakan sebuah asumsi yang perlu direnungkan berulang kali untuk memahami hidup secara bijaksana. Dari pemaknaan itu, kita bisa melihat bahwa kehidupan adalah proses yang terus berulang, bertemu dengan berbagai problematika, lalu menelaahnya secara menyeluruh: apakah harus mencari jalan keluar atau justru sejenak berdiam dalam persoalan. Dari proses itulah lahir pemahaman, bahkan semacam “kesempurnaan” dalam melihat kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti.

Substansi utamanya terletak pada kemampuan memilih dan menyeimbangkan antara kebijaksanaan dan perenungan, di tengah realitas kesulitan dan kenikmatan. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Sebab, menjalani hidup tanpa kebijaksanaan akan kehilangan arah, dan tanpa perenungan akan kehilangan kedalaman. Oleh karena itu, hidup seharusnya dijalani dengan keduanya, agar setiap pilihan memiliki makna dan setiap pengalaman memberikan pelajaran.

Artikel Lain :

Mimpi Masa Kecil Bukan Tujuan, Melainkan Petunjuk

Bagaimana kalau Ternyata yang Paling Indah dari Kehidupan adalah Kematian?

Memahami Sholat dalam Perspektif Muhammadiyah

 

Penulis : Ach. Atikul Ansori

Editor : Devis Mamesah

Berita Terkait

Kemiskinan Struktural Hasilkan Sandwich Generation — Terjepit Untuk Hidupi Dua Generasi
Pelepasan Murid SMPN 3 Teluknaga, Guru dan Wali Murid Dapat Hadiah Umrah
Mahasiswa UNIS Turut Semarakkan Hari Pancasila
Hidup Mandiri di Usia Muda: Tantangan dan Kesehatan Mental Generasi Sandwich
Dampak Perceraian pada Psikologis Anak: Dari Rasa Bersalah hingga Kemarahan yang Terpendam
Pentingnya Self Awareness [Kesadaran Diri] untuk Mengenal Potensi Diri
Anak Seperti Mobil yang Gasnya Nyala Terus? Ini yang Perlu Ortu Tahu
Pendapat Tiyo BEM UGM soal SPPG: Benar Keberanian atau Berani Jadi Sensasi?

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 23:23 WIB

Kemiskinan Struktural Hasilkan Sandwich Generation — Terjepit Untuk Hidupi Dua Generasi

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:14 WIB

Pelepasan Murid SMPN 3 Teluknaga, Guru dan Wali Murid Dapat Hadiah Umrah

Selasa, 2 Juni 2026 - 02:50 WIB

Mahasiswa UNIS Turut Semarakkan Hari Pancasila

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:04 WIB

Hidup Mandiri di Usia Muda: Tantangan dan Kesehatan Mental Generasi Sandwich

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:38 WIB

Dampak Perceraian pada Psikologis Anak: Dari Rasa Bersalah hingga Kemarahan yang Terpendam

Berita Terbaru

Tren generate foto dengan AI saat Masa Kecil dan Dewasa | Gambar : Cover Website DreaminaAi

Penjeda

Yang Hilang Bukan Kebahagiaan, Tapi Cara Kita Memperhatikan

Selasa, 9 Jun 2026 - 11:25 WIB