Donald Trump yang Terlalu Ambisius, Prabowo yang Lemah, dan Gibran yang Tak Berdaya

| PENAMARA . ID

Selasa, 3 Maret 2026 - 16:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Penamara.id
Credits :
Donald Trump: Getty Images
Prabowo Subianto: magetan.go.id
Gibran Rakabuming Raka: Kontan.co.id

Ilustrasi: Penamara.id Credits : Donald Trump: Getty Images Prabowo Subianto: magetan.go.id Gibran Rakabuming Raka: Kontan.co.id

PENAMARA.ID — Siapa yang tak geram ketika melihat kelakuan Donald Trump yang terlalu ambisius namun sangat merugikan banyak pihak? Lelahnya lagi, banyak pemimpin negara di dunia yang juga takut dengan aksi gila pemimpin negeri Paman Sam itu, huh.

Sejak kemenangan nya dalam pemilihan umum Amerika Serikat di tahun 2016, Trump secara resmi menjabat sebagai Presiden dengan pucuk kekuasaan tertinggi yang seakan tak terbatas. Ia selalu menjalankan kekuasaannya seturut dengan kehendak pribadi nya tanpa menggunakan kebijaksanaan sebagai seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan yang terkesan ‘nyeleneh’ membuat Trump menjadi bulan-bulanan warganet lokal maupun internasional yang kurang srek dengan gaya politiknya.

Amerika melalui Donald Trump memang menjadi negara yang sangat menyebalkan dengan pilihan dan gaya politik yang sangat individualistiknya. Mulai dari Board of Peace yang sangat utopis, intervensi Amerika ke Ukraina, penangkapan Presiden sah Venezuela, Nicolás Maduro yang secara paksa dijemput oleh militer Amerika hanya karena Trump ngambek soal urusan minyaknya, tarif dagang Amerika ke Indonesia yang tidak masuk akal dan sangat berwatak kapitalis dan menghisap disaat yang bersamaan, dan jangan lupa juga bagaimana Amerika memutuskan untuk menarik diri dari 31 badan PBB dan 35 organisasi internasional lainnya (total 66 entitas) guna menghentikan dukungan finansial dan partisipasi. Lelah hayati menyebutkan nya.

Dari semua ulah Trump yang menjengkelkan, kenapa sih Amerika selalu bersikap demikian ketika Trump menjadi pemimpin di Amerika? Apakah kita, negara-negara di dunia dapat hidup tenang, untuk satu hari saja, untuk tidak mendengar berita buruk yang dilakukan atau akan dilakukan oleh Amerika?

Ditengah situasi dan kondisi dunia yang memanas, disaat yang bersamaan juga ternyata negara kita, ternyata, sayang sekali, juga dipimpin oleh seorang yang ternyata cukup tidak bertanggung jawab dan bijaksana dalam mengambil keputusan politik nya.

Melalui program prioritas nasional yang didorong melalui Asta Cita Prabowo-Gibran untuk mencapai Indonesia Emas 2045 (klaim nya), program utama yang mencakup makan bergizi gratis (walaupun tak bergizi dan juga tak gratis), pembangunan 3 juta rumah (tapi rumah kucing karena sangat cocok untuk peliharaan binantang, sangking kecilnya), dan optimalisasi Koperasi Desa/Nelayan (yang pada akhirnya hanya berorientasi pada kepentingan segelintir golongan untuk kepentingan jangka panjang Prabowo Subianto).

Beberapa program diatas secara implementasi sangat tidak mewakili kebutuhan masyarakat Indonesia. Program-program ini pada akhirnya hanya dijadikan program taktis yang berbicara kepentingan sektoral politik kekuasaan untuk kedepan. Jadi, elit politik kita sibuk mengurusi perut mereka, pejabat kita sibuk korupsi, polisi kita sibuk membunuh, tentara kita sibuk mengurusi koperasi merah putih, Presiden kita sibuk ngurusin Board of Peace yang ga pernah membawa Peace bagi Palestina, dan sialnya, Wapres kita adalah Gibran, seorang anak haram Konstitusi yang lahir akibat mengangkangi Mahkamah Konstitusi hanya untuk memuluskan pencalonan nya sebagai Wakil Presiden.

Kalau kalian bertanya, “apa tidak ada lagi cara selain bersolidaritas dan bertahan?” tak ada. Karena Presiden kita seorang pelanggar HAM berat dan Wapres kita anak muda yang sangat tidak berkarismatik untuk menjadi seorang pemimpin. Bersabarlah, setidak-tidaknya sampai Pemilihan Umum di tahun 2029…

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi waras, setidak-tidaknya waras untuk beberapa hari kedepan? Mari bahu membahu, selalu menyebarkan penderitaan karena dengan merawat penderitaan kita akan selalu menjadi penyeimbang kekuasaan yang zalim. Memang terdengar sangat berat, kawan-kawan, tapi bersolidaritas adalah kunci kekuatan yang sangat menggelegar. Merawat penderitaan adalah bagian terpenting dari gerakan hari ini untuk menjadi warisan kekuatan bagi penerus bangsa masa depan, karena sejatinya tak ada kehidupan yang berharga daripada memperjuangkan keadilan dan tak menjadi bagian dari kekuasaan yang zalim.


Emansipasi yang Tak Pernah Sampai ke Dapur dan Pabrik

 

Penulis : Agnes Monica

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam
Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan
Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?
Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan
Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar
Teror Menguji Keberanian Demokrasi
Kritik Dibalas Serangan Fisik
Bagaimana kalau Ternyata yang Paling Indah dari Kehidupan adalah Kematian?

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 19:44 WIB

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 April 2026 - 19:02 WIB

Ketika Eksekutif “Membina” Legislatif; Retret DPRD dan Cermin Hegemoni Kekuasaan

Selasa, 14 April 2026 - 02:30 WIB

Neo-Imperialisme Bangkit Lagi, Dunia Mau Dibawa ke Mana Lalu Kita Harus Gimana ?

Senin, 30 Maret 2026 - 23:45 WIB

Kritik sebagai Sahabat Kekuasaan

Senin, 23 Maret 2026 - 00:14 WIB

Lebaran dalam Cengkraman Kapitalisme; Ketika Iman Dijual di Pasar

Berita Terbaru

Isitmewa

Jawa Barat

Gelombang Solidaritas HMR untuk Pelajar Korban Tambang Ilegal

Jumat, 24 Apr 2026 - 12:24 WIB