Gagasan transportasi air yang sempat digadang-gadang menjadi solusi kemacetan di Kota Tangerang kini menyisakan ironi. Dermaga apung di Jalan Kalipasir Indah, yang dahulu diproyeksikan sebagai bagian dari pengembangan waterway, kini terbengkalai. Selasa (28/4/2026), fasilitas itu bahkan berubah fungsi menjadi tempat berteduh warga.
Pantauan wartawan Satelitnews di lokasi menunjukkan setidaknya empat orang tidur di bawah konstruksi dermaga. Bagian bawah yang seharusnya menjadi ruang penopang justru dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat, dengan alas seadanya. Sementara itu, badan dermaga tampak sepi dan berkrat tanpa aktivitas yang berarti.
Warga RT01/04 Kelurahan Sukasari Kecamatan Tangerang, Amir, mengatakan, sejak awal dirinya tidak pernah melihat dermaga tersebut benar-benar difungsikan sebagai sarana transportasi air.
“Dulu katanya buat transportasi umum, dari Bogor ke Tangerang, buat ngurai macet. Tapi saya enggak pernah lihat ada perahu yang bawa penumpang,” ujar Amir saat ditemui di sekitar lokasi.
Ia mengingat, pembangunan dermaga itu sudah ada sebelum dirinya membuka usaha di kawasan tersebut sekitar empat tahun lalu. Bahkan, menurut dia, sebelumnya kondisi sungai sempat di keruk agar dermaga apung bisa berfungsi.
“Dulu ini dikeruk, dalamnya lumayan. Dermaganya juga sempat ngambang. Sekarang sudah enggak, jadi daratan lagi karena lama enggak dipakai,” katanya.
Amir memperkirakan perubahan itu terjadi sekitar 2020 hingga 2026. Seiring waktu, sedimentasi membuat permukaan air menyusut dan jarak antara dermaga dengan badan sungai semakin menjauh.
Ia menambahkan, aktivitas di dermaga saat ini nyaris tidak ada. Sesekali hanya digunakan warga untuk memancing atau pedagang saat malam hari yang menaruh kursi di atas dermaga. Pernah pula dipakai sebagai titik start-finish lomba dayung, namun tidak berlangsung rutin.
“Sekarang mah kosong. Paling orang mancing saja. Dulu sempat buat lomba, habis itu pindah, di sini enggak dipakai lagi,” ucapnya.
Padahal, menurut Amir, jika waterway benar-benar berjalan, dampaknya diyakini bisa menggerakkan ekonomi warga sekitar.
“Kalau jalan, bagus. Orang keluar-masuk, dagangan bisa laku. Dari sini juga dekat ke Stasiun Tangerang,” katanya.
Hal senada diungkapkan Makmun, warga setempat lainnya. Ia menyebut pembangunan dermaga dan fasilitas pendukung dilakukan pada masa pemerintahan Wali Kota Tangerang sebelumnya, Arief R. Wismansyah, bersama wakilnya saat itu, Sachrudin.
Namun, Makmun mengaku tidak pernah melihat adanya peresmian khusus untuk dermaga tersebut.
“Dibuat begitu saja, enggak ada peresmian. Habis itu juga enggak ada orang dinas ke sini lagi,” ujarnya.
Ia juga mengingat sempat ada rencana kunjungan Presiden Joko Widodo ke kawasan tersebut, termasuk pembangunan jembatan apung. Namun, rencana itu tidak terealisasi sepenuhnya.
“Katanya mau ke sini, tapi enggak jadi. Jembatan apung juga sempat ada, terus dicopotin lagi,” kata Makmun.
Program waterway di Kota Tangerang sebelumnya sempat mendapat perhatian sebagai alternatif transportasi perkotaan berbasis sungai. Pemerintah kota bahkan menggandeng pihak internasional untuk mendukung kajian dan pembiayaan awal.
Dalam sejumlah rencana, jalur transportasi air ini akan menghubungkan wilayah seperti Tangerang dengan kawasan hulu, termasuk arah Serpong hingga Bogor, melalui aliran Sungai Cisadane. Infrastruktur pendukung seperti dermaga apung, pengerukan sungai, hingga penyesuaian konstruksi jembatan—agar kapal dapat melintas—sempat mulai dikerjakan.
Namun, di lapangan, sebagian fasilitas itu kini tidak lagi berfungsi optimal. Di Kalipasir, misalnya, kondisi dermaga menunjukkan tanda-tanda terbengkalai, tanpa kepastian kelanjutan program.
Minimnya pemanfaatan infrastruktur tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan perencanaan transportasi air di Kota Tangerang. Di satu sisi, kebutuhan akan solusi kemacetan masih mendesak. Di sisi lain, fasilitas yang sudah dibangun justru tidak terkelola.
Bagi warga seperti Amir, harapan terhadap waterway belum sepenuhnya hilang. Namun, waktu yang terus berjalan tanpa kejelasan membuat optimisme itu perlahan memudar.
“Harusnya bagus kalau jalan. Tapi sekarang ya begini saja,” ujarnya.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






