Pegawai SPPG Kabupaten Serang Dursila Bocah SD

| PENAMARA . ID

Sabtu, 25 April 2026 - 19:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Istimewa

Istimewa

PENAMARA.ID — Dalam kasus pegawai SPPG di Kabupaten Serang ini bukan hanya soal pelakunya, tetapi juga tentang pertanyaan bagaimana struktur dari program MBG. Dalam hal ini, ruang sekolah dan pengelolaannya telah dinilai gagal total dalam melindungi anak.

MBG sering diposisikan sebagai program “baik” yang hadir untuk membantu, mendampingi, atau memberi layanan. Tapi narasi “baik” itu justru sering jadi tameng, karena dianggap membawa manfaat tapi pengawasannya jadi longgar. Orang-orang yang terlibat diasumsikan sebagai orang yang aman. Padahal, banyak ruang yang sering mengklaim bahwa dirinya aman tetapi justri adalah ruang paling rawan, karena kritik di dalamnya dibungkam.

Dalam kasus ini, pelaku bisa keluar-masuk ruang kelas, berinteraksi dengan anak, bahkan melakukan kekerasan berulang tanpa diketahui. Pertanyaan sederhananya adalah dimana sistem kontrolnya? Dimana mekanisme pencegahannya? Kalau seorang pegawai dapur MBG bisa memiliki akses yang paling dekat dengan anak tanpa pengawasan ketat, berarti dari awal desainnya memang bermasalah.

Ini bukan sekadar kelalaian teknis tapi juga kegagalan struktural. Kita harus melihat program MBG sebagai bagian dari institusi yang mereproduksi relasi kuasa yang timpang. Orang dewasa diberi otoritas penuh, sementara anak ditempatkan sebagai pihak yang harus patuh. Tidak ada ruang aman bagi anak untuk menolak, apalagi melapor. Bahkan ketika kekerasan terjadi, sistem pun tidak hadir untuk mendeteksi, melindungi, atau bahkan menghentikan.

Lebih parah lagi, tidak adanya mekanisme pengawasan yang menunjukkan bahwa keselamatan anak bukan prioritas utama. Prioritas utama justru operasional program seperti kegiatan berjalan, administrasi beres, dan citra tetap baik. Sementara aspek paling mendasar seperti perlindungan terhadap tubuh anak justru diabaikan.

Terlebih, institusi ini seringkali lebih fokus pada damage control dibanding pencegahan. Kasus seperti ini baru dianggap serius setelah viral atau setelah korban akhirnya bicara. Artinya sistemnya reaktif, bukan preventif. Dan dalam konteks kekerasan seksual, pendekatan seperti ini selalu datang terlambat.

Kita juga perlu curiga pada budaya internalnya. Apakah ada pelatihan soal kekerasan seksual? Apakah ada standar interaksi antara staff dan anak? Apakah ada kanal pelaporan yang benar-benar aman dan berpihak pada korban? Kalau jawabannya tidak jelas, maka program ini bukan hanya lalai tapi ikut menciptakan kondisi yang memungkinkan kekerasan itu terjadi.

Masalahnya, institusi seperti ini sering lolos dari kritik karena dianggap punya “niat baik”. Padahal niat tidak pernah cukup. Tanpa sistem yang ketat, pengawasan yang serius, serta perspektif perlindungan korban, niat baik justru bisa berubah jadi ruang yang membahayakan.

Jadi, kalau mau jujur, ini bukan hanya sekedar kasus kriminal di dalam tubuh program MBG. Ini adalah kegagalan program MBG secara struktural. Gagal memastikan siapa yang diberi akses ke anak, gagal membangun sistem perlindungan,dan gagal memahami bahwa dalam konteks relasi kuasa, tanpa kontrol yang kuat apalagi tentang kekerasan, ini semua bukan kemungkinan tapi jadi konsekuensi.

Selama program MBG tidak dibenahi dari akarnya, selama itu juga ruang-ruang seperti ini akan tetap menyimpan potensi bahaya yang sama. Dan anak-anak akan terus jadi pihak yang paling dirugikan.


Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Penulis : Dadang Suzana

Editor : Redaktur

Berita Terkait

100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp
Bendera 400 Meter Menjadi Penanda: Nilai Gotong Royong Masih Hidup di Kota Tangerang
CGMT Kecam Mutasi 102 Pejabat Pemkot Tangerang Yang Sarat Kompromi Elite
GMNI Pertanyakan Dasar Pengeluaran Siswa SMAN 14, Minta Dindik Banten Bertindak
Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan
Siswa SMAN 14 Mengaku Diminta Mengakui Tuduhan sebagai Ketua Gengster
Pengeluaran Siswa SMAN 14 Tangerang Berpijak pada Tata Tertib, Dasarnya Dipersoalkan
MTQ Kota Tangerang Bikin Pedagang Ketiban Rezeki, Omzet UMKM di Ciledug Melonjak Tajam

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:50 WIB

100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:43 WIB

Bendera 400 Meter Menjadi Penanda: Nilai Gotong Royong Masih Hidup di Kota Tangerang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:44 WIB

CGMT Kecam Mutasi 102 Pejabat Pemkot Tangerang Yang Sarat Kompromi Elite

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:36 WIB

GMNI Pertanyakan Dasar Pengeluaran Siswa SMAN 14, Minta Dindik Banten Bertindak

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:54 WIB

Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan

Berita Terbaru