Islam, Zaman, dan Tantangan Berpikir: Bung Karno Menjawab Stagnasi Umat

| PENAMARA . ID

Minggu, 13 Juli 2025 - 18:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

“Mewarisi Api, Bukan Abu: Islam Progresif dalam Pandangan Bung Karno”

Pada mulanya, Islam lahir di tengah masyarakat sederhana yang menjadikan unta sebagai kendaraan utama dan gurun sebagai ruang hidup sehari-hari. Dalam konteks seperti itulah Nabi Muhammad menanamkan fondasi peradaban yang menakjubkan: sebuah revolusi spiritual dan sosial yang mengubah wajah Jazirah Arabia dan, kemudian, dunia. Namun, kini dunia telah berubah. Zaman bergerak cepat—masyarakat tidak lagi naik unta, melainkan terbang dengan kapal udara; dunia bukan lagi satu padang pasir yang hening, tetapi sebuah jaringan kompleks global yang saling terhubung oleh internet, satelit, dan sistem keuangan digital. Maka, pertanyaannya adalah: bagaimana Islam dapat tetap relevan dan membumi di tengah gelombang modernitas yang dahsyat ini?

Bung Karno, dalam buku Dibawah Bendera Revolusi yang legendaris di Bab “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara”, memberikan jawaban yang berani dan tajam. Ia bukan hanya sekadar membicarakan relevansi ajaran Islam dalam konteks modern, tetapi lebih jauh lagi—menggugat cara kita memahami dan mempraktikkan agama dalam dunia yang terus berubah.

Bung Karno membuka gagasannya dengan menekankan betapa Nabi Muhammad adalah seorang pembangun masyarakat yang luar biasa. Namun, Bung Karno tidak berhenti di sanjungan. Ia mengajak kita menelusuri perjalanan historis Islam dari dua fase utama: periode Mekkah dan periode Madinah. Di Mekkah, Nabi membentuk fondasi spiritual: tauhid, moral, akhlak, dan keteguhan iman. Di Madinah, Nabi mempraktikkan nilai-nilai itu ke dalam sistem sosial-politik: zakat, hukum perang, hubungan antar manusia, serta pembangunan negara.

Dengan kata lain, Islam tidak hanya agama suci yang melangit, tetapi juga sistem sosial yang membumi, yang tumbuh dari kenyataan dan kebutuhan masyarakat. Dan di sinilah kuncinya: masyarakat berubah, dan oleh karenanya, cara kita memahami ajaran juga harus berubah.

Menurut Bung Karno, akar dari problem umat Islam hari ini bukan terletak pada Islam itu sendiri, melainkan pada sikap beku dalam menafsirkan syariat. Ia menulis, “masyarakat selalu berobah, masyarakat selalu ber-evolusi. Sayang sekali ini tidak tiap-tiap hidung mengetahui.”

Ketika Nabi ditanya tentang panci yang dijilat anjing, beliau menjawab dengan petunjuk yang relevan pada zamannya: cucilah tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Namun ketika anak Bung Karno bertanya hal serupa di tahun 1940, ia menjawab dengan memakai sabun dan kreolin—alat pembersih yang lebih modern. Inilah inti dari pemikiran Bung Karno: semangat syariat itu fleksibel dan hidup, bukan beku dan kaku.

Namun apa yang terjadi? Alih-alih menggali semangat pembebasan dan kemajuan dari syariat Islam, banyak dari umat justru terjebak dalam bentuk-bentuk simbolik yang usang. Bung Karno menyindir keras: “Yang kita warisi bukan apinya, tetapi abunya. Bukan nyalanya, tetapi asapnya.”

Dalam Bukunya, Bung Karno menuding langsung kepada ijma’ ulama sebagai salah satu penyebab stagnasi umat. Ia mengutip Halide Edib Hanum yang menyatakan bahwa Nabi amat keras dalam urusan ibadah, tetapi sangat mudah dalam urusan sosial. Namun sayangnya, semangat “mudah” dan progresif itu justru dipersempit oleh warisan pikiran ulama yang terkekang oleh tradisi masa lalu. Akibatnya, syariat berubah dari alat kemajuan menjadi rantai pembatas.

Ulama yang terlalu cinta kepada bentuk lama sering kali menolak inovasi zaman, mencap segala hal baru sebagai “kafir”. Bung Karno mencela kecenderungan ini: “Sendok dan garpu – kafir. Tulisan Latin – kafir. Radio – kafir. Gadis jadi dokter – kafir.” Islam lalu bukan lagi tampak sebagai agama kemajuan, tetapi justru terlihat sebagai benteng kemunduran.

Bung Karno tidak sedang mengajak untuk membuang syariat, tetapi justru mengajak kita menyulut kembali api dari abunya. Api inilah yang dahulu membakar semangat masyarakat Arab hingga mereka menjelma menjadi pelopor peradaban. Maka, ia menegaskan, bahwa kita—umat Islam abad ke-20 (dan kini ke-21)—harus mampu menafsirkan kembali ajaran Nabi dengan cara yang sesuai zaman.

Nabi tidak sekadar memberi jawaban kepada Umar dan Zainab di bawah pohon kurma 1400 tahun lalu. Ia memberi jawaban kepada seluruh umat manusia sepanjang zaman—juga kepada kita yang hidup di dunia serba digital ini. Maka, Bung Karno menulis, “Kini bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal udara.”

Dalam kesimpulannya yang tajam dan visioner, Bung Karno berkata: “Islam is progress. Islam itu kemajuan.” Kemajuan bukanlah pilihan, tetapi kewajiban. Dan kemajuan menuntut keberanian untuk menafsir ulang, mencipta baru, dan menolak kemapanan yang membatu.

Islam bukanlah agama yang menolak zaman, melainkan agama yang menyinari zaman. Ketika Nabi berkata, “Antum a’lamu bi umuri dunyakum”—kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian—maka itu adalah mandat eksplisit untuk berpikir, bereksperimen, berinovasi.

Buku Bung Karno adalah seruan keras agar umat Islam bangun dari tidur panjangnya. Ia mengajak kita untuk menjadi umat Muhammad, bukan umat kaum faqih yang terkungkung. Ia menyerukan Islam yang bergerak, berpikir, dan menciptakan. Islam yang menyalakan obor peradaban, bukan yang memeluk abu dari kejayaan masa lalu.

Kini, ketika kita berada di tengah arus besar revolusi teknologi dan pergeseran sosial, pertanyaan Bung Karno kembali menggema: apakah kita masih mau menjadi masyarakat onta, ataukah sudah siap menjadi masyarakat kapal udara?

Jawabannya terletak pada keberanian kita untuk berpikir. Dan berpikir, dalam Islam, adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.


baca juga : Membaca Ulang Peta Ideologi Politik Indonesia

Penulis : Ari Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu
Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia
Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme
8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster
IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan
Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki
Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”
Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 18:00 WIB

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu

Rabu, 15 April 2026 - 01:15 WIB

Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia

Rabu, 8 April 2026 - 09:18 WIB

Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme

Kamis, 5 Maret 2026 - 23:54 WIB

8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster

Senin, 2 Maret 2026 - 14:27 WIB

IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan

Berita Terbaru

Freepik.com

Opini

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 Apr 2026 - 19:44 WIB

Global

Hormuz Ditutup Lagi, Iran Tantang Blokade AS

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:16 WIB

Nasional

BBM Nonsubsidi Melonjak: Pertamax Turbo Tembus Rp19.400

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:09 WIB