“Tunjukkan kepada tiap-tiap orang Indonesia yang cinta akan kemerdekaan tentang arti kemerdekaan Indonesia dalam hal ‘materi dan ide’. Panggil dan himpunkanlah orang-orang yang berjuta-juta dari kota dan desa, pantai dan gunungm ke bawah panji revolusioner,” tulisan Tan Malaka, bapak Republik yang dibunuh oleh bangsanya (1949) sendiri dalam bagian penutup bukunya, Aksi Massa (terbit 1926).
Istilah “aksi massa” seringkali di asosiasikan dengan karya Tan yang menginspirasi banyak tokoh setelah masuk Dwi Tunggal Proklamator, yang mana Bung Karno mensyarakatkan aksi masa harus mempunyai “kesadaran” (bewust atau insyaf), berpendirian radikal, serta —
Revolusioner yang ditempa melalui organisasi dan teori perjuangan untuk membongkar struktur kekuasaan yang menindas melalui machtvorming atau pembentukan kekuataan yang selaras dengan pendapat Bung Hatta yang menegaskan aksi massa itu harus membangun kepercayaan diri dan kesadaran solidaritas nasional guna melawan penindasan.
Pasti ada dinamika dalam aksi sama dengan aksi langsung, meskipun keduanya perlu diterapkan dan terkadang tumpang tindih. Tapi tetap ada perbedaan dimana aksi massa bertujuan untuk memberi legitimasi, skala serta daya tekan publik.
Sementara aksi langsung lebih bersifat mengganggu sistem tanpa mengandalkan perantara seperti blokade jalan, pendudukan gedung, boikot, atau sabotase yang bisa dilakukan oleh banyak orang maupun sekelompok kecil yang bertujuan untuk memberi dampak simbolik, gangguan material, dan mematikan keberanian moral yang tidak selalu bisa dicapai oleh aksi massa.
Generasi muda selalu memainkan peran penting dan terlibat aktif menjadi objek sekaligus subjek dalam aksi masa, namun juga menjadi paradoks yang menempatkan mereka pada posisi strategis dalam dialektika kekuasaan. Sayangnya, status mereka sebagai “objek” sering kali dieksploitasi oleh elit politik dengan berbagai maksud.
Menurut Aristoteles dalam Retorika Volume 2, kelompok muda tereksploitasi, karena “mereka cepat berharap”. Sisi lain, kesadaran kristis, semangat, dan idealisme yang melekat pada mereka juga memungkinkan mereka bertransformasi menjadi subjek yang mendobrak struktur hegemonik.
Pada banyak kajian untuk menjawab kenapa generasi muda melalukan aksi masa, salah satunya atas pengaruh filsafat Yunani. Selama menjadi tahanan politik pasca aksi demonstrasi agustus 2025 di Rutan Salemba, penulis tekun mendalami filsafat, salah satunya filsafat Yunani disertai belajar bahasanya.
Pada dasarnya generasi muda melalukan aksi massa berdasarkan penilaian dari keresahan yang dikolektifkan berdasarkan ide (ho kosmos ton ideon) dan membaca fenomena (ho kosmon ton phainomenon) yang tidak selaras — berdasarkan struktur gagasan Plato — lalu akal budi (logos) menangkap keresahan tersebut agar segera “melalukan sesuatu” (draomai).
Keresahan kolektif muncul dari disonansi kognitif yang tajam antara “apa yang seharusnya” (ide-al) dan “apa yang senyatanya” (fenomenal). Aksi massa adalah upaya dialektis dan politis untuk menolak realitas yang cacat tersebut.
Dalam alegori gua nya Plato, ini setara dengan anabasis, yaitu perjuangan untuk keluar dari kegelapan yang menharuskan negara merekonstruksi kebijakan publik melalui nomos (kebijakan) yang adil (dikaiosynē) agar lebih merefleksikan nilai-nilai transendental yang puncaknya adalah idea tou agathou (ide tentang kebaikan) yang juga menjadi tujuan Republik.
Usia muda itu memiliki karakter yang digerakan oleh thumos (semangat atau gairah), dan idealis yang tinggi yang membuat mereka cenderung terlibat dalam aksi massa ketika negara tidak lagi pada upaya untuk mencapai “kehidupan yang baik” (eudaimonia) sehingga keutamaan (arete) bernegara menjadi hambar.
Negara bukan sekadar instrumen untuk menjamin ketertiban atau keamanan, melainkan komunitas tertinggi yang memfasilitasi warganya untuk mencapai kesempurnaan melalui hukum adil, kepemimpinan bijaksana, serta pastisipasi aktif yang mengutamakan kebaikan bersama (common good) di atas kepentingan individu.
Akhirnya kehidupan bernegara tidak hanya mencapai potensi terbaiknya sebagai aktivitas makhluk sosial, spiritual, dan rasional. Yang terpenting, negara menangkap kegelisahan anak muda bukan sebagai ancaman. Sebaliknya, sebagai jelmaan katalisator inovasi untuk semua kemungkinan masa depan.
Artikel Lain :
Segregasi Aktivis di Indonesia
“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin
Tidak Ada Kemerdekaan di Bawah Imperialisme
Penulis : Mansurni Abadi
Editor : Devis Mamesah






