Komite SMAN 14 Tangerang mengaku tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berujung pada pengunduran diri seorang siswa kelas XII berinisial D. Menyikapi polemik tersebut, komite berencana memfasilitasi mediasi ulang antara pihak sekolah dan keluarga siswa guna memperoleh kejelasan sekaligus mencari penyelesaian terbaik.
Ketua Komite SMAN 14 Tangerang, Hasbullah, mengatakan hingga kini dirinya belum memperoleh penjelasan resmi dari pihak sekolah mengenai kronologi maupun dasar pengambilan keputusan terhadap siswa tersebut.
“Saat ini, mohon maaf saya belum mendapatkan informasi yang riil dari kejadian ini dan belum mendapatkan informasi apa pun, baik dari TikTok maupun dari pihak sekolah. Saya belum mendapatkan informasi yang sebenarnya tentang kejadian itu,” kata Hasbullah saat dikonfirmasi Penamara.id Kamis (30/7/2026) malam.
Menurut Hasbullah, komite seharusnya mengetahui dan dilibatkan dalam penyelesaian persoalan yang menyangkut hak pendidikan peserta didik, terutama apabila keputusan yang diambil berdampak pada keberlanjutan proses belajar seorang siswa.
Ia mengaku menyayangkan tidak adanya komunikasi dari pihak sekolah kepada komite sebelum keputusan tersebut diambil. Padahal, menurut dia, penyelesaian pelanggaran tata tertib semestinya mengedepankan pembinaan secara bertahap, mulai dari teguran, pendampingan guru bimbingan dan konseling, hingga upaya mediasi dengan orang tua.
Hasbullah juga menyoroti proses mediasi yang, menurut informasi yang diterimanya, turut menghadirkan aparat TNI dan Polri di lingkungan sekolah. Menurut dia, persoalan disiplin peserta didik pada dasarnya merupakan ranah pembinaan pendidikan sehingga kehadiran aparat semestinya tidak dimaknai sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan terhadap siswa.
“Harusnya tidak ada dasar untuk memaksakan diri. Sebetulnya tidak ada sistem seperti itu. Kehadiran polisi hanya sebagai pengawal keamanan saja, tidak punya peran untuk menekan,” ujarnya.
Untuk menyelesaikan polemik tersebut, Komite SMAN 14 Kota Tangerang berencana mempertemukan kembali pihak sekolah dengan keluarga siswa. Hasbullah menilai dialog perlu dilakukan agar seluruh pihak memperoleh gambaran yang utuh mengenai persoalan yang terjadi.
“Ya diusahakan nanti saya sampaikan. Harus dipanggil orang tuanya, biar orang tuanya pun jelas persoalan sebenarnya. Pasti ada solusi yang terbaik, enggak mungkin sekolah langsung men-judge seperti itu,” katanya.
Menurut dia, penyelesaian yang mengedepankan musyawarah penting dilakukan mengingat D saat ini telah duduk di kelas XII dan akan memasuki masa persiapan menuju kelulusan. Karena itu, komite berharap keputusan yang diambil tetap mempertimbangkan keberlangsungan pendidikan siswa.
“Kalau bisa jangan sampai anak itu keluar, kecuali memang ada hal yang memang tidak bisa ditolerir, contohnya seperti kasus pakai narkoba” ujar Hasbullah.
Kasus ini menjadi perhatian setelah keluarga D menyatakan keberatan atas keputusan sekolah yang meminta orang tua menandatangani surat pengunduran diri. Keluarga mengaku tidak pernah diperlihatkan bukti yang menjadi dasar tuduhan terhadap D serta mempertanyakan proses penanganan yang dinilai belum memberikan kesempatan klarifikasi secara menyeluruh.
Sementara itu, pihak SMAN 14 Tangerang sebelumnya menyatakan keputusan mengembalikan D kepada orang tuanya diambil melalui proses mediasi. Sekolah beralasan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan lingkungan pendidikan dan memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pendidikan di sekolah lain tanpa catatan dikeluarkan.
Rencana mediasi ulang yang akan difasilitasi Komite SMAN 14 Tangerang diharapkan dapat mempertemukan kedua belah pihak guna memperoleh kejelasan mengenai proses penanganan kasus sekaligus mencari solusi yang mengedepankan kepentingan terbaik bagi peserta didik.
baca juga : Di Balik Pengeluaran Siswa SMAN 14, Muncul Pengakuan Diminta Mengaku Jadi Ketua Gengster
Siswa SMAN 14 Tangerang Dikeluarkan, Pihak Keluarga Pertanyakan Dasar Keputusan Sekolah
Pengeluaran Siswa SMAN 14 Tangerang Berpijak pada Tata Tertib, Dasarnya Dipersoalkan
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






