Keputusan SMAN 14 Tangerang yang berujung pada dikeluarkannya seorang siswanya memunculkan pertanyaan dari pihak keluarga. Mereka mengaku tidak pernah diperlihatkan bukti yang menjadi dasar dugaan pembullyan yang disebut-sebut melibatkan anak mereka, meski sanksi penghentian sementara kegiatan belajar telah dijatuhkan sebelum akhirnya siswa tersebut di duga dipaksa mengundurkan diri.
Keberatan itu disampaikan keluarga melalui unggahan di media sosial TikTok akun @dianp. Dalam pernyataan tersebut, keluarga menilai proses penanganan perkara tidak berlangsung secara terbuka karena tuduhan yang disampaikan sekolah SMA Negeri 14 Tangerang tidak pernah disertai bukti maupun kesempatan melakukan klarifikasi dengan korban.
Menurut keluarga, persoalan bermula pada 22 Juli 2026 ketika D bersama sekitar 20 siswa lainnya dipanggil pihak sekolah setelah diketahui merokok di sebuah warung di luar lingkungan sekolah. Orang tua memenuhi panggilan tersebut, mengakui pelanggaran yang dilakukan anaknya, serta menerima pembinaan melalui guru bimbingan dan konseling. Mereka mengira persoalan telah selesai.
Dua hari berselang, situasi berubah. Orang tua kembali diminta datang ke sekolah. Dalam pertemuan itu, pihak sekolah menyampaikan bahwa D diduga melakukan Pembullyan terhadap seorang siswa kelas X. Dugaan yang disampaikan, menurut keluarga, mencakup pemalakan, mengajarkan korban merokok, mengirim ancaman melalui WhatsApp, hingga menempatkan Dias sebagai ketua kelompok yang dikaitkan dengan keberadaan geng motor.
Keluarga mengaku terkejut karena tuduhan tersebut tidak pernah disertai bukti yang dapat mereka lihat.
“Kami hanya meminta satu hal, tunjukkan bukti yang menjadi dasar adik kami diminta berhenti sekolah,” tulis akun @dianp.
Merasa tidak memperoleh penjelasan yang memadai, keluarga kemudian memeriksa telepon genggam D, termasuk percakapan WhatsApp, foto, dan grup-grup yang diikutinya. Dari penelusuran itu, mereka mengaku tidak menemukan bukti yang mengarah pada dugaan perundungan. Menurut mereka, D hanya tercatat sebagai admin grup WhatsApp yang berisi siswa-siswa yang sebelumnya berkumpul di warung tempat mereka merokok.
“Kalau adik kami memang terbukti bersalah, kami siap meminta maaf kepada korban. Tetapi jangan menjatuhkan sanksi tanpa memperlihatkan bukti,” tulis akun tersebut.
Di tengah proses itu, D diminta menghentikan sementara kegiatan belajar. Bagi keluarga, keputusan tersebut membuat hak anak untuk memperoleh pendidikan terhenti sebelum tuduhan yang dialamatkan kepadanya dapat dijelaskan secara utuh.
Keluarga juga menyebut tidak pernah dipertemukan dengan siswa yang diduga menjadi korban maupun orang tua korban. Kesempatan untuk mengklarifikasi tuduhan, menurut mereka, tidak pernah diberikan.
Dalam unggahan itu pula disebutkan bahwa orang tua akhirnya menandatangani surat pengunduran diri karena merasa berada dalam situasi yang penuh tekanan. Saat proses berlangsung, menurut keluarga, terdapat personel kepolisian dan TNI di lingkungan sekolah.
Upaya mencari kepastian kemudian dilakukan dengan mendatangi Polsek Batuceper. Keluarga meminta klarifikasi atas informasi yang menyebut D sebagai ketua geng motor. Berdasarkan keterangan yang keluarga terima, polisi disebut menyampaikan tidak terdapat laporan maupun bukti yang menunjukkan keterlibatan D dalam perkara tersebut.
Meski demikian, keluarga masih mempertanyakan dasar keputusan sekolah. Mereka kembali mendatangi SMAN 14 Tangerang untuk meminta penjelasan sekaligus meminta bukti yang menjadi dasar pemberian sanksi.
“Kami tidak mencari pembenaran. Kami hanya ingin proses yang adil dan keputusan yang didasarkan pada fakta. Jangan sampai seorang anak kehilangan haknya memperoleh pendidikan karena tuduhan yang belum pernah dibuktikan kepada keluarganya,” tulis akun @dianp.
Hingga kini, keluarga menyatakan tuntutan mereka tetap sama, yakni memperoleh penjelasan beserta bukti yang menjadi dasar tuduhan perundungan terhadap D. Sementara itu, pihak sekolah telah menyampaikan bahwa penanganan kasus dilakukan berdasarkan mekanisme internal yang berlaku.
Baca juga : Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan
Di Balik Pengeluaran Siswa SMAN 14, Muncul Pengakuan Diminta Mengaku Jadi Ketua Gengster
Pengeluaran Siswa SMAN 14 Tangerang Berpijak pada Tata Tertib, Dasarnya Dipersoalkan
Penulis : Ari Sujatmiko






