Siswa SMAN 14 Mengaku Diminta Mengakui Tuduhan sebagai Ketua Gengster

| PENAMARA . ID

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa kelas XII SMAN 14 Tangerang berinisial D membantah tuduhan pihak sekolah yang menyebut dirinya melakukan tindakan bullying hingga akhirnya diminta mengundurkan diri. D juga menepis anggapan bahwa dirinya merupakan ketua kelompok di luar sekolah bernama “Bad Boy” yang disebut menjadi dasar pengambilan keputusan tersebut.

Didampingi orang tuanya, D mengatakan dirinya hanya berperan sebagai salah satu admin grup WhatsApp yang dibentuk sebagai media komunikasi antarteman. Menurut dia, grup tersebut tidak memiliki struktur organisasi sebagaimana yang disampaikan pihak sekolah.

“Saya sebenarnya sebagai admin grup. Admin grup itu bukan saya doang, saya berdua sama teman saya,” kata D kepada wartawan Penamara.id Kamis (30/7/2026).

Ia menjelaskan, grup WhatsApp tersebut baru dibuat pada Senin (20/7/2026). Selama proses klarifikasi di sekolah, D mengaku sempat diminta mengakui bahwa dirinya merupakan ketua kelompok tersebut.

“Saya sempat diperiksa juga dan saya sempat disuruh mengaku kalau saya itu ketua,” ujarnya.

Menurut D, grup tersebut dibentuk semata-mata sebagai sarana komunikasi antarsiswa, termasuk untuk berbagi informasi mengenai kegiatan olahraga seperti futsal. Ia membantah grup tersebut digunakan untuk mengorganisasi tindakan intimidasi ataupun aktivitas lain yang melanggar aturan sekolah.

“Yang dilakukan di grup sebenarnya bercanda saja, chat sama teman. Terus juga buat media informasi, sekadar event-event futsal yang bakal datang,” katanya.

D juga mempertanyakan dasar keputusan sekolah yang meminta orang tuanya menandatangani surat pengunduran diri. Menurut dia, selama proses klarifikasi pihak sekolah tidak pernah menunjukkan bukti yang menguatkan tuduhan bullying maupun dugaan pelanggaran lain yang dialamatkan kepadanya.

Salah satu tuduhan yang dibantah D berkaitan dengan adanya pungutan terhadap anggota grup WhatsApp. Ia mengatakan uang yang dikumpulkan bukan berasal dari pemaksaan ataupun pemalakan, melainkan hasil iuran sukarela seluruh anggota.

“Sebenarnya inisiatif anak-anak buat patungan (gotong royong). Seikhlasnya Rp2.000 sampai Rp3.000 buat beli jajanan. Uang yang terkumpul waktu itu sekitar Rp100.000 dari 64 orang,” ujarnya.

D juga membantah adanya tindakan intimidasi terhadap siswa lain. Menurut dia, saat para anggota berkumpul, seluruh siswa, termasuk adik kelas, berinteraksi secara wajar tanpa adanya paksaan ataupun ancaman.

Keberatan serupa disampaikan orang tua D yang berinisial S. Ia menilai proses penanganan yang dilakukan sekolah tidak disertai transparansi mengenai bukti dugaan pelanggaran berat yang dituduhkan kepada anaknya.

S mengaku tidak pernah diperlihatkan dokumen, rekaman, maupun bukti elektronik yang dapat menjelaskan dugaan bullying ataupun dugaan pungutan sebagaimana disampaikan pihak sekolah.

Menurut S, ketika keluarga meminta bukti tersebut, pihak sekolah menyampaikan bahwa bukti asli sudah tidak ada.

“Jawaban pihak sekolah, bukti itu tinggal adanya foto. Kalau yang aslinya sudah dihapus,” kata S.

Namun, menurut S, pihak keluarga juga tidak memperoleh penjelasan mengenai isi foto yang dimaksud.

“Maksudnya foto itu saya juga enggak jelas itu foto apa, saya juga enggak paham. Cuma bilangnya adanya tinggal foto, entah itu foto kejadian apa saya kurang tahu,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Kepala SMAN 14 Tangerang Bidang Kesiswaan, Suhenda, menjelaskan bahwa keputusan mengembalikan D kepada orang tuanya diambil melalui proses mediasi. Sekolah menyebut D diduga menjadi ketua kelompok di luar sekolah bernama “Bad Boy” yang beranggotakan sekitar 64 siswa.

Menurut Suhenda, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, kelompok tersebut diduga melakukan perekrutan yang disertai unsur pemaksaan, penarikan iuran, serta tindakan yang mengarah pada intimidasi. Atas dasar itu, sekolah memutuskan mengembalikan D kepada orang tuanya dengan alasan melindungi lebih dari 1.000 siswa lain serta memberi kesempatan kepada D untuk melanjutkan pendidikan di sekolah lain tanpa catatan dikeluarkan.

Kasus ini masih menyisakan perbedaan pandangan antara pihak sekolah dan keluarga. Sekolah menyatakan keputusan diambil untuk menjaga keamanan lingkungan pendidikan, sedangkan D dan keluarganya tetap meminta agar seluruh tuduhan disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan serta proses klarifikasi dilakukan secara terbuka.

 


baca juga : Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan


Pengeluaran Siswa SMAN 14 Tangerang Berpijak pada Tata Tertib, Dasarnya Dipersoalkan


Siswa SMAN 14 Tangerang Dikeluarkan, Pihak Keluarga Pertanyakan Dasar Keputusan Sekolah

Penulis : Ari Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp
Bendera 400 Meter Menjadi Penanda: Nilai Gotong Royong Masih Hidup di Kota Tangerang
CGMT Kecam Mutasi 102 Pejabat Pemkot Tangerang Yang Sarat Kompromi Elite
GMNI Pertanyakan Dasar Pengeluaran Siswa SMAN 14, Minta Dindik Banten Bertindak
Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan
Pengeluaran Siswa SMAN 14 Tangerang Berpijak pada Tata Tertib, Dasarnya Dipersoalkan
MTQ Kota Tangerang Bikin Pedagang Ketiban Rezeki, Omzet UMKM di Ciledug Melonjak Tajam
Pembukaan MTQ XXV Disambut Ribuan Warga, Kota Tangerang Targetkan Juara Nasional

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:50 WIB

100 Remaja Masjid Kota Tangerang Digembleng Jadi Pemimpin Muda Lewat Masjid Camp

Rabu, 5 Agustus 2026 - 02:43 WIB

Bendera 400 Meter Menjadi Penanda: Nilai Gotong Royong Masih Hidup di Kota Tangerang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:44 WIB

CGMT Kecam Mutasi 102 Pejabat Pemkot Tangerang Yang Sarat Kompromi Elite

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:36 WIB

GMNI Pertanyakan Dasar Pengeluaran Siswa SMAN 14, Minta Dindik Banten Bertindak

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:54 WIB

Komite SMAN 14 Tangerang Siap Mediasi Ulang Kasus Siswa, Akui Tak Pernah Dilibatkan

Berita Terbaru