Harusnya tulisan ini aku posting untuk hari selasa (02/09/2025) depan. Tapi ga apa-apa, kalau keresahan ini sudah mendesak di dada dan kata-kata sudah menuntut lahir hari ini juga? Maka tak apa aku tayangkan sekarang—demi mencerdaskan setiap anak bangsa, demi membuka sedikit ruang bernapas di tengah sesak dunia yang dipenuhi kebohongan kekuasaan.
Seduh kopi, bakar rokok, duduk tenang, dan mari pahami bersama.
Tulisan ini bukan sekadar rangkaian kalimat, ia adalah ajakan. Ajakan untuk berhenti percaya pada dongeng lama yang diwariskan: dongeng tentang negara sebagai pelindung, tentang hukum sebagai keadilan, tentang pemimpin sebagai penyelamat. Kita semua sudah terlalu lama ditidurkan dengan mitos itu. Hari ini, mari kita buka mata, bahkan bila cahaya yang masuk terasa perih. Kita akan bicara tentang hal yang tak pernah mereka ajarkan di sekolah, tentang sesuatu yang mereka takutkan sejak lama: dunia tanpa tuan, dunia tanpa negara.
Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan kecil, meski pahit untuk ditelan: Setiap hari kita melihat orang-orang marah pada polisi karena tindak kekerasannya, mencibir tentara karena represi yang dilakukannya, dan mengutuk pemerintah yang tak pernah benar-benar peduli kecuali pada dirinya sendiri. Kita ikut menonton—kadang dari layar kaca, kadang dari jalanan. Kita tahu betapa menyakitkan hidup dalam jeratan kekuasaan.
Namun anehnya, dalam napas yang sama, kita masih sering mendengar orang berkata, “Negara ini harus direformasi.” Ada pula yang berbisik dengan penuh harap, “Kita butuh pemimpin yang lebih baik.” Atau ada yang menulis panjang lebar tentang “negara ideal,” seakan-akan kegagalan yang kita lihat hanyalah salah urus sementara, bukan bagian dari watak aslinya.
Inilah kekonyolan paling tragis dari dunia modern: membenci alat-alat negara, tapi masih berharap pada keberlangsungan negara itu sendiri.
Kita diajarkan sejak kecil bahwa negara adalah rumah besar tempat semua warganya berlindung. Ia digambarkan sebagai institusi netral yang hadir demi kebaikan bersama, demi “kepentingan rakyat.” Buku sekolah menggambarkan negara sebagai ibu yang merangkul, bapak yang melindungi.
Namun, mari kita bongkar ilusi itu.
Negara bukanlah rumah bersama. Ia adalah mesin kekuasaan yang sejak lahir dibangun untuk menundukkan. Ia tidak pernah netral. Ia selalu berpihak—pada mereka yang mempunyai uang, dan pengaruh. Hukum yang kita anggap adil hanyalah aturan yang dibuat oleh penguasa untuk melanggengkan dominasinya.
Polisi tidak sekadar individu yang kebetulan berperilaku buruk. Mereka adalah manifestasi konkret dari “hukum dan ketertiban” yang dirancang untuk melindungi kekuasaan, bukan rakyat. Tugas mereka bukan mencegah kejahatan, melainkan memastikan ketaatan.
Tentara tidak sekadar barisan bersenjata yang menjaga kedaulatan. Mereka adalah tangan kekerasan sistemik yang memastikan rakyat tunduk. Sepanjang sejarah, tentara lebih sering dipakai melawan rakyatnya sendiri ketimbang melindungi mereka dari ancaman luar.
Dan pemerintah? Ia bukan sekadar kumpulan pejabat yang kebetulan korup. Ia adalah wajah dari struktur kekuasaan yang tumbuh dari penghisapan. Pemerintah yang berganti hanya mengganti wajah, bukan watak.
Lalu kenapa, meski semua itu begitu jelas, kita masih berharap pada negara?
Jawabannya sederhana: karena kita diajari takut untuk hidup tanpa tuan. Kita dijejali doktrin bahwa tanpa negara, dunia akan runtuh ke dalam kekacauan. Anarki digambarkan sebagai mimpi buruk, padahal yang kita jalani hari ini justru adalah kekacauan yang dilembagakan.
Setiap kali ada krisis, ada suara yang muncul: “Kita butuh reformasi.” Reformasi telah menjadi mantra yang meninabobokan. Ia menjanjikan perbaikan tanpa benar-benar mengubah apa pun. Ia seperti tambal sulam pada kain yang sudah sobek di seluruh bagiannya.
Kita percaya reformasi hanya karena ia tampak seperti satu-satunya jalan yang mungkin. Kita tidak pernah benar-benar meragukannya, apalagi menghancurkannya. Kita takut memikirkan dunia tanpa negara, sehingga kita memelihara harapan palsu pada negara itu sendiri.
Mari lihat lebih dekat. Negara lahir dari kekerasan, hidup dari ketaatan, dan hanya mati ketika kita berhenti percaya padanya.
Tentara yang memukul demonstran bukanlah penyimpangan, melainkan esensi. Polisi yang menembak rakyat bukanlah kebetulan, melainkan fungsi. Pemerintah yang menipu rakyat bukanlah anomali, melainkan konsekuensi.
Kekerasan bukan sekadar alat negara—ia adalah fondasi negara itu sendiri. Negara tidak mungkin ada tanpa monopoli atas kekerasan. Dan monopoli itu selalu dijalankan atas nama ketertiban, padahal sejatinya untuk memastikan kekuasaan tidak tergoyahkan.
Setiap kali kita kecewa, kita mencari pemimpin baru. Kita jatuh cinta pada sosok-sosok yang dijanjikan: presiden yang merakyat, gubernur yang tegas, wali kota yang visioner. Kita berharap seseorang bisa mengubah segalanya dari dalam.
Tapi pemimpin hanyalah wajah baru dari mesin lama. Mereka masuk ke dalam sistem yang sudah didesain untuk mengontrol. Mereka bisa berbeda gaya, berbeda kata, berbeda senyum—tapi mereka tetap bagian dari struktur yang sama.
Mengganti pemimpin tanpa menghancurkan negara ibarat mengganti sopir, tapi tetap mengendarai mobil yang sama—mobil yang dirancang untuk menabrak rakyat.
Pertanyaan besar muncul: kalau semua ini begitu jelas, mengapa orang masih percaya pada negara?
Karena negara berhasil mendidik kita untuk mencintai penjara kita sendiri. Ia mengajarkan bahwa hidup tanpa negara adalah mustahil. Ia membangun sekolah untuk menanamkan doktrin, menyiarkan propaganda lewat televisi, dan bahkan menanamkan rasa takut di hati kita.
Kita terbiasa menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. Kita terbiasa hidup dalam jeratan pajak, aturan, dan perintah. Kita terbiasa percaya bahwa semua itu demi kebaikan kita. Hingga akhirnya, kita lupa bagaimana rasanya hidup bebas.
Ketika ada yang berani berkata “kita butuh dunia tanpa negara,” banyak yang menolak mentah-mentah. Mereka menyebutnya utopia, mimpi kosong, bahkan bahaya. Tapi pertanyaannya: benarkah hidup tanpa negara mustahil?
Sejarah menunjukkan bahwa manusia pernah hidup tanpa negara selama ribuan tahun. Komunitas-komunitas kecil, desa-desa mandiri, masyarakat adat—semua itu bukti bahwa manusia bisa hidup dengan solidaritas tanpa dipaksa oleh kekuasaan terpusat.
Yang menakutkan kita bukan anarki, melainkan bayangan yang ditanamkan negara tentang anarki. Kita diajari bahwa tanpa polisi, kita akan saling membunuh. Padahal, bukti sejarah menunjukkan bahwa solidaritas dan kerja sama justru lebih kuat ketika tidak ada kekuasaan terpusat yang menindas.
Benci itu tidak cukup. Mengeluh tentang negara tidak cukup. Menertawakan politisi tidak cukup.
Benci harus disertai keberanian untuk menolak dari akarnya. Tidak ada negara baik. Tidak ada sistem yang bisa diperbaiki. Tidak ada reformasi yang bisa menyelamatkan kita.
Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berkata: kita tidak butuh negara baru, kita butuh dunia tanpa negara. Kita tidak butuh pengganti pemimpin, kita butuh ruang untuk hidup tanpa dipimpin.
Pada akhirnya, semua keluhan kita tentang “kenapa negaraku begini” hanyalah cara lain untuk berkata: “Aku tahu dia menyakitiku, tapi aku yakin dia bisa berubah.” Itu adalah cinta buta pada kekuasaan, cinta yang lahir dari ketakutan.
Tapi hidup tidak bisa ditopang oleh ketakutan. Hidup harus ditopang oleh kebebasan, solidaritas, dan keberanian untuk menolak tuan.
Negara tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi alat emansipasi. Ia lahir dari kekerasan, hidup dari ketaatan, dan mati hanya ketika kita berhenti percaya padanya.
Dan di situlah, mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita benar-benar bisa bernapas.
Baca juga : Anarkisme: Sebuah Jalan Alternatif di Tengah Demokrasi yang Sakit
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






