Refleksi Peran Pemuda dalam Sejarah: Belajar dari Era 50-an hingga Revormasi

| PENAMARA . ID

Senin, 17 Maret 2025 - 18:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Diesnatalis ke-71th GMNI DPC Jakarta Timur | Dokumentasi: Arsip

Diesnatalis ke-71th GMNI DPC Jakarta Timur | Dokumentasi: Arsip

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), DPC Jakarta Timur sukses menggelar perayaan Dies Natalis yang ke- 71 di Gedung Wisma Sangkrini. Dengan mengadakan tausyiah kebangsaan, diskusi dan buka puasa bersama pada Minggu 16 Maret 2025.

Acara ini menjadi ajang refleksi atas peran pemuda nasionalis saat ini, dengan meninjau situasi dan kondisi pada era 1950-an, masa terbentuknya organisasi mahasiswa ini pada tanggal 23 Maret 1954. Organisasi mahasiswa yang berazaskan Marhenisme, yang menentang penindasan manusia dan memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Dan dengan membandingkannya dengan masa reformasi saat ini, berdasarkan ajaran Bung Karno.

Dalam acara ini, Timbul Hamonangan Simanjuntak, yang akrab disapa Monang, seorang dosen atau peneliti dan juga selaku ketua Litbang Yayasan Bung Karno, menyampaikan materi yang menyoroti peran strategis pemuda dalam menjaga dan memperjuangkan nasionalisme di tengah tantangan zaman.

Ia menjelaskan bahwa pada era 1950-an, pemuda berperan sebagai penggerak revolusi dan penegak kedaulatan bangsa. Sementara itu, di era reformasi dan masa kini, pemuda dihadapkan pada tantangan globalisasi, digitalisasi, serta ancaman disintegrasi nasional yang menuntut kesiapan serta kesadaran kebangsaan yang lebih kuat.

“Bung Karno selalu menekankan bahwa pemuda adalah kekuatan perubahan. Jika pada era 50-an mereka menjadi pelopor perjuangan fisik dan ideologis, maka saat ini pemuda harus tetap memiliki semangat perjuangan, tetapi dalam bentuk yang relevan dengan tantangan zaman.

Penting bagi pemuda untuk menjaga identitas bangsa, memperjuangkan keadilan sosial, dan terus mengembangkan potensi diri untuk kemajuan negeri, berdasar ajaran Sukarno” ujar Monang, yang menyelesaikan studi master ekonominya di Concordia University Canada dan Doktor ekonomi politiknya di Universitas Airlangga Surabaya.

Monang secara khusus menegaskan, dalam upaya tetap murni pada azas- nya, pemuda saat ini sangat penting untuk memahami apa itu spirit kapitalisme dalam upaya mengenali apa dan bagaimana peran pemuda nasional saat ini. Beliau mengutip hasil kajian seorang sarjana Inggris dalam bukunya Spirit Capitalism (2001), yang menjadi acuan banyak negara saat ini, yang menyatakan bahwa spirit kapitalisme-imperialisme barat berangkat dari ideologi nasionalisme.

Pemahaman ini membenarkan praktek penjajahan- imperialisme adalah masalah nasionalisme sebuh negara. Bahkan Yoan Robinson seorang pemenang nobel ekonomi, menyatakan bahwa kemajuan ekonomi negara barat berakar pada nasionalisme ( 1962). Spirit kapitalisme ini kemudian diejawantahkan menjadi spirit kapitalisme ekonomi yang terbangun dalam sistem ekonomi pasar bebas dengan tiga indikator ekonomi yaitu: spirit produktivitas, efisiensi dan kerja keras.

Nampaknya ketiga makna spirit kapitalis ini menjelma dalam praktek ekonomi di Indonesia. Tentu saja ini bertentangan dengan semangat nasionalisme Indonesia, yang mengedepankan nilai kemanusiaan, dimana bagi Sukarno spirit kapitalisme itu tidak lain adalah semangat menjajah yang adalah semangat eksploitasi yang menghancurkan kehidupan kemanusiaan bangsa Indonesia. Bahkan fenomena praktek kapitalisme di Indonesia sudah menyatu dengan kekuasaan menjadi oligarkhi.

Oleh karena itu peran GMNI kedepan perlu berhati hati dengan jargon: produktivitas, efisiensi dan kerja keras dalam konteks sistem ekonomi pasar bebas ala kapitalis dunia barat yang berbasiskan kepentingan individu, kelompok oligarhki. Sebaliknya yang menjadi pegangan adalah tetap pada spirit Trisakti yang menjungjung tinggi kedaulatan politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya dalam upaya mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian diharapkan dalam menjalankan peran GMNI kedepan tiga fungsi GMNI yaitu: kaderasisasi, advokasi dan literasi haruslah tetap bertumpu pada semangat kebersamaan gotong royong, dan tidak terombang ambing dengan spirit kapitalisme yang bertumpu pada kemakmuran individu atau kelompok semata.


Artikel Lain : Menjajaki Jalan Terjal Konsep ‘Sarinah’; Kembali kepada Patriarki?

Penulis : April Julianus Daeli

Editor : Redaktur

Berita Terkait

KM Virgo Transport 8 Terbalik, GMNI Desak Audit Total Armada Tua
Purbaya Copot dari Menkeu, SEMMI Tangerang Soroti Nasib Anggaran MBG Rp240 Triliun
Bursa Ketua DPRD Kota Tangerang Memanas! Golkar Borongkan 6 Nama Kader Terbaik Ke Pusat
Bambang Pacul: Kader GMNI Jangan Ikut Arus, Pelajari Cara Berpikir Bung Karno
Bung Hatta, Buku, Kesederhanaan, dan Sebuah Republik yang Belum Selesai
Dari Bom Atom ke Pendidikan : Bagaimana Pendidikan Membangun Kembali Jepang
Mengenal Kabinet Bayangan: Oposisi Baru dari Masyarakat Sipil di Era Prabowo
Pertanyakan Anggaran Makan Bergizi Gratis, SEMMI Tangerang Minta Aparat Turun Tangan

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 17:34 WIB

KM Virgo Transport 8 Terbalik, GMNI Desak Audit Total Armada Tua

Senin, 14 September 2026 - 22:15 WIB

Purbaya Copot dari Menkeu, SEMMI Tangerang Soroti Nasib Anggaran MBG Rp240 Triliun

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:51 WIB

Bursa Ketua DPRD Kota Tangerang Memanas! Golkar Borongkan 6 Nama Kader Terbaik Ke Pusat

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:03 WIB

Bambang Pacul: Kader GMNI Jangan Ikut Arus, Pelajari Cara Berpikir Bung Karno

Kamis, 13 Agustus 2026 - 23:17 WIB

Bung Hatta, Buku, Kesederhanaan, dan Sebuah Republik yang Belum Selesai

Berita Terbaru