Pada pagi 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta belum berada di halaman rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56.
Orang-orang sudah berdatangan. Pemuda, tokoh pergerakan, dan warga bersiap menyaksikan sesuatu yang selama berabad-abad terdengar seperti kemustahilan: Indonesia menyatakan dirinya merdeka.
Di dalam rumah, Soekarno masih terbaring.
Tubuhnya demam tinggi. Malaria membuat suhu badannya mencapai sekitar 40 derajat Celsius. Sehari sebelumnya, ia baru saja melewati rangkaian peristiwa yang melelahkan: Rengasdengklok, perdebatan dengan para pemuda, perjalanan kembali ke Jakarta, lalu perumusan teks yang akan mengubah nasib sebuah negeri.
Tetapi ada satu persoalan lain.
Hatta belum datang.
Soekarno kemudian menanyakan keberadaannya.
Jawabannya: Hatta belum tiba.
Bagi Soekarno, Proklamasi tidak akan dibacakan sendirian.
Adegan itu kelak menjadi salah satu gambar paling kuat dalam sejarah Indonesia. Dua lelaki keluar dari rumah dengan pakaian putih. Mereka berdiri berdampingan. Tak lama kemudian, Soekarno membacakan teks Proklamasi.
Di bawah naskah itu tercantum dua nama: Soekarno-Hatta.
Dua nama yang kemudian seperti menjadi satu kata dalam kamus politik Indonesia.
Tetapi ada sesuatu yang sering terlupakan.
Hatta bukan sekadar lelaki yang berdiri di samping Soekarno pada pagi 17 Agustus 1945.
Ia adalah orang yang telah menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk membaca, menulis, berdebat, berorganisasi, dan memikirkan satu pertanyaan saat sebelum tidur : seperti apa sebuah bangsa merdeka seharusnya dibangun.
Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902.
Ia datang ke dunia ketika Hindia Belanda masih jauh dari bayangan sebuah negara republik.
Empat puluh tiga tahun kemudian, ia berdiri di Pegangsaan Timur bersama Soekarno.
Di antara dua peristiwa itu terdapat perjalanan panjang seorang anak Minangkabau yang menjadikan buku sebagai senjata.
Anak Bukittinggi dan Dunia yang Lebih Besar
Nama kecil Hatta adalah Muhammad Athar, Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang lekat dengan agama dan pendidikan. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Ibunya, Siti Saleha, kemudian menjadi salah satu figur penting dalam kehidupannya.
Bukittinggi pada masa itu bukan kota besar seperti sekarang. Tapi dari kota kecil di Sumatera Barat itulah Hatta mulai mengenal dunia yang jauh lebih luas daripada halaman rumahnya.
Ia belajar, Ia membaca, ia terus membaca
Tetapi yang menarik dari Hatta bukan sekadar berapa banyak buku yang ia baca.
Melainkan bagaimana buku-buku itu kemudian ia gunakan.
Ia tidak membaca untuk mengoleksi pengetahuan.
Ia membaca untuk memahami kolonialisme, Ia membaca untuk memahami ekonomi, Ia membaca untuk memahami manusia Dan pada akhirnya, ia membaca untuk memikirkan Indonesia.
Jika Soekarno sering dikenang karena pidatonya yang berapi-api, Hatta lebih mudah ditemukan dalam kesunyian sebuah meja, di antara buku dan catatan.
Ia bukan tipe politikus yang merasa selesai setelah berpidato. Ia ingin memahami.
Ekonomi, politik, filsafat, sejarah, koperasi, demokrasi—semuanya menjadi bahan pikirannya.
Pada 1921, Hatta berangkat ke Belanda. Ia belajar di Nederlandsch Handelshoogeschool di Rotterdam.
Keberangkatannya bukan sekadar perjalanan seorang mahasiswa dari koloni menuju negeri penjajah.
Di Belanda, Hatta justru menemukan Indonesia dengan cara yang berbeda.
Ia bertemu mahasiswa-mahasiswa dari tanah jajahan lain. Ia membaca pemikiran politik Eropa. Ia terlibat dalam organisasi. Ia mulai memahami bahwa kolonialisme bukan sekadar soal tentara Belanda yang menguasai tanah Indonesia.
Kolonialisme juga bekerja melalui ekonomi, pendidikan, hukum, dan struktur kekuasaan.
Di sana Hatta dan kawan-kawannya mengembangkan Perhimpunan Indonesia.
Mereka tidak lagi berbicara tentang Hindia Belanda sebagai wilayah yang perlu diberi sedikit kelonggaran.
Mereka berbicara tentang Indonesia sebagai bangsa yang berhak merdeka.
Majalah Indonesia Merdeka menjadi salah satu kendaraan gagasan itu.
Hatta menulis, Berpidato, Berorganis
Penjara Tidak Membuatnya Berhenti Berpikir
Pada 1927, Hatta ditangkap pemerintah Belanda bersama sejumlah tokoh Perhimpunan Indonesia. Ia dibawa ke pengadilan.
Bagi pemerintah kolonial, ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa gerakan kemerdekaan dapat ditundukkan melalui hukum.
Hatta memanfaatkannya dengan cara berbeda, Ia menggunakan ruang pengadilan sebagai mimbar.
Pembelaannya kemudian dikenal dengan judul Indonesia Merdeka.
Ia dan kawan-kawannya akhirnya dibebaskan.
Peristiwa itu memperlihatkan karakter Hatta yang kelak berulang kali muncul sepanjang hidupnya: ketika berhadapan dengan kekuasaan, ia tidak selalu memilih suara paling keras.
Ia memilih argumentasi, Bukan berarti Hatta tidak berani.
Justru sebaliknya.
Ia percaya keberanian tanpa pengetahuan hanya akan menghasilkan tindakan yang mudah dipatahkan.
Bagi Hatta, perjuangan kemerdekaan membutuhkan manusia yang dapat berpikir.
Mungkin karena itu ia begitu mencintai buku, Buku baginya bukan dekorasi, Buku adalah alat untuk memahami dunia.
Lelaki yang Tidak Menjadikan Kemerdekaan sebagai Kata Kosong
Hatta kemudian kembali ke Indonesia. Ia bertemu dengan dinamika pergerakan yang semakin keras. Soekarno sudah menjadi tokoh besar dengan kemampuan pidatonya yang luar biasa. Hatta datang dari jalur yang berbeda.
Mereka selalu berdebat, Mereka tidak selalu sepakat. Cara berpikir mereka pun berbeda.
Soekarno memiliki kemampuan luar biasa untuk menggerakkan massa dan konseptor. Hatta lebih berhati-hati, analitis, dan sistematis.
Namun perbedaan itu tidak membuat keduanya menjadi lawan dalam perjuangan kemerdekaan.
Justru dua karakter itu bertemu pada satu titik: bagaimanapun Indonesia harus merdeka.
Pada masa pendudukan Jepang, hubungan politik mereka semakin dekat.
Lalu datanglah Agustus 1945. Jepang kalah.
Para Pemuda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan.
Soekarno dan Hatta sempat dibawa ke Rengasdengklok.
Mereka kembali ke Jakarta.
Malam semakin larut.
Di rumah Laksamana Maeda, sejumlah tokoh berkumpul.
Rumusan Proklamasi disusun.
Beberapa jam terjadi perdebatan,
Soekarno menulis, Hatta memberikan masukan, Ahmad Soebardjo ikut merumuskan. Kemudian Sayuti Melik mengetik naskahnya.
Sejarah sering menyederhanakan semuanya menjadi satu adegan: Soekarno membacakan Proklamasi.
Padahal kemerdekaan lahir dari proses yang jauh lebih rumit.
Ada perdebatan, Ada dialektika yang terbangun, Ada perbedaan generasi, Ada ketegangan, Dan ada dua orang yang akhirnya berdiri bersama di Pegangsaan Timur.
Soekarno dan Hatta.
Hatta yang Berjanji Tidak Menikah Sebelum Indonesia Merdeka
Ada sisi lain dari Hatta yang jarang muncul dalam buku pelajaran dari penulis duduk di bangku sekolah hingga sekarang.
Ia pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.
Bagi lelaki yang ketika itu sudah memasuki usia matang, keputusan tersebut tentu bukan perkara kecil.
Tetapi Hatta memegang janji itu.
Kemerdekaan akhirnya datang.
Beberapa bulan kemudian, Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada 18 November 1945.
Bung Karno ikut berperan dalam proses perjodohan mereka.
Mahar Hatta kepada Rahmi juga bukan emas atau perhiasan mahal.
Hatta memberikan buku yang ia tulis sendiri yang berjudul Alam Pikiran Yunani.
Buku yang ditulisnya ketika menjalani masa pembuangan.
Sulit menemukan simbol yang lebih tepat untuk menggambarkan Hatta.
Bahkan dalam pernikahan, buku tetap berada di antara dirinya dan dunia.
Koperasi Menjadi Jalan Politik Ekonomi Hatta
Koperasi bagi Hatta bukan sekadar perkumpulan orang yang mengumpulkan modal lalu membagi keuntungan. Ia melihat koperasi sebagai salah satu cara untuk mengubah hubungan ekonomi di tengah masyarakat yang baru saja keluar dari kolonialisme. Selama berabad-abad, rakyat Indonesia berada di lapisan bawah sistem ekonomi kolonial: menghasilkan komoditas, menyediakan tenaga kerja, tetapi tidak memiliki kendali yang memadai atas hasil kerja mereka sendiri. Karena itu, bagi Hatta, kemerdekaan politik akan terasa timpang bila struktur ekonomi yang membuat rakyat bergantung tetap dipertahankan.
Pemikiran itu sudah lama tumbuh dalam dirinya. Selama berada di Belanda, Hatta membaca berbagai teori ekonomi dan politik, termasuk sosialisme dan kritik terhadap kapitalisme. Namun ia tidak menerima begitu saja gagasan yang datang dari Eropa. Ia mengolahnya dengan keadaan masyarakat Indonesia. Ia melihat bahwa masyarakat desa memiliki tradisi kerja bersama, gotong royong, dan kepentingan kolektif yang dapat menjadi modal sosial bagi suatu sistem ekonomi yang lebih demokratis. Dari sinilah koperasi memperoleh tempat penting dalam pemikirannya.
Hatta tidak membayangkan koperasi sebagai alat untuk menghapus kepemilikan pribadi atau memaksakan keseragaman ekonomi. Yang ia persoalkan adalah ketika kegiatan ekonomi hanya dikuasai segelintir pemilik modal sementara sebagian besar rakyat sekadar menjadi tenaga kerja dan konsumen. Dalam koperasi, anggota sekaligus menjadi pemilik dan pengguna. Keputusan ekonomi, setidaknya dalam gagasan idealnya, tidak ditentukan semata-mata oleh besarnya modal yang dimiliki seseorang, melainkan melalui prinsip kebersamaan dan demokrasi.
Di titik ini, gagasan ekonomi Hatta bertemu dengan gagasannya tentang politik. Demokrasi tidak seharusnya berhenti di bilik pemungutan suara. Ia juga harus mempunyai dasar ekonomi yang memungkinkan rakyat berdiri dengan kemampuan sendiri. Rakyat yang secara politik memiliki hak memilih, tetapi secara ekonomi sepenuhnya tergantung kepada segelintir pemilik modal, menurut logika Hatta, belum sepenuhnya memiliki kedaulatan.
Itulah sebabnya koperasi kemudian memperoleh tempat dalam konstitusi. Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Rumusan itu kerap dikaitkan dengan pemikiran Hatta mengenai demokrasi ekonomi. Ia memang tidak menulis Pasal 33 sendirian, tetapi gagasannya mengenai ekonomi berdasarkan usaha bersama menjadi salah satu fondasi penting dalam perumusan pemikiran ekonomi Indonesia pada masa awal republik.
Hatta kemudian semakin dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Tetapi menyederhanakan pemikirannya hanya menjadi slogan koperasi juga akan membuat sosoknya kehilangan sebagian besar kedalaman intelektualnya. Ia tidak sedang mencari sebuah bentuk badan usaha semata. Yang ia pikirkan adalah bagaimana sebuah bangsa yang baru merdeka membangun sistem ekonomi yang tidak mengulangi hubungan timpang yang diwariskan kolonialisme.
Di sinilah pemikiran Hatta menjadi menarik. Ia tidak memisahkan ekonomi dari politik. Ia juga tidak memisahkan keduanya dari pendidikan. Rakyat, menurutnya, harus mempunyai pengetahuan agar mampu mengelola kehidupan ekonominya sendiri. Demokrasi membutuhkan warga negara yang terdidik. Ekonomi membutuhkan masyarakat yang mampu bekerja sama. Negara membutuhkan pemerintahan yang tunduk pada kepentingan rakyat.
Karena itu, ketika membaca Hatta, sulit memisahkan dirinya sebagai ekonom, politikus, pendidik, dan demokrat. Semua bidang itu bertemu pada satu kegelisahan yang sama: bagaimana membuat kemerdekaan tidak berhenti sebagai pergantian penguasa.
Kolonialisme memang telah berakhir pada 1945. Tetapi bagi Hatta, pekerjaan republik baru saja dimulai. Bangsa yang merdeka harus memastikan rakyatnya tidak kembali menjadi objek—kali ini bukan di bawah pemerintah kolonial, melainkan di bawah kekuatan ekonomi dan politik yang tidak terkendali.
Dalam kerangka itulah koperasi harus dibaca. Bukan sebagai slogan lama yang dicetak dalam buku pelajaran, melainkan sebagai bagian dari upaya Hatta mencari bentuk demokrasi ekonomi yang sesuai dengan masyarakat Indonesia.
Dan mungkin justru di sini letak perbedaan Hatta dengan banyak politikus lain pada zamannya. Ketika orang lain sibuk membicarakan siapa yang akan menguasai negara setelah kemerdekaan, Hatta sudah memikirkan pertanyaan yang lebih sulit: siapa yang akan menguasai kehidupan ekonomi setelah penjajah pergi?
Hatta dan Kesederhanaannya
Ada banyak cerita tentang kesederhanaan Hatta, Sebagian kemudian menjadi legenda.
Tetapi satu hal sulit disangkal: Hatta memiliki jarak tertentu dengan kemewahan kekuasaan.
Ia dikenal disiplin mengelola uang, Ia juga tidak gemar mempertontonkan kemewahan. Ia hidup dengan kebiasaan yang relatif sederhana.
Bahkan ada cerita terkenal mengenai keinginannya membeli sepatu bermerek Bata yang akhirnya tidak pernah terwujud karena kondisi keuangannya.
Cerita itu menjadi populer karena terasa seperti paradoks.
Seorang Proklamator, Mantan Wakil Presiden, Tokoh besar yang namanya tercatat dalam sejarah, Akan Tetapi membeli sepasang sepatu pun harus dipikirkan.
Entah sejauh mana setiap detail cerita itu dapat diverifikasi, kisah tersebut telanjur menjadi bagian dari citra Hatta: seorang pemimpin yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai jalan menuju kemewahan pribadi.
Dan mungkin itu yang membuat sosoknya terus menarik. Hatta bukan manusia tanpa kekurangan.
Ia pernah berdebat, Pernah berbeda pendapat, Pernah kecewa, Pernah meninggalkan pemerintahan, Tetapi justru karena itu ia terasa manusiawi.
Anak Muda Indonesia Harus Mengingat Hatta
Hatta meninggal pada 14 Maret 1980, Ia tidak lagi melihat Indonesia sebagaimana yang pernah ia bayangkan pada masa mudanya.
Tetapi hampir empat puluh enam tahun setelah kematiannya, nama Hatta masih muncul setiap kali orang menyebut kemerdekaan Indonesia.
Bandara di Tangerang memakai namanya, banyak Jalan memakai namanya, Buku sejarah memakai namanya bahkan tidak jaran anak-anak aktivis memakai kaos bergambar dirinya.
Dan setiap 17 Agustus, jutaan orang kembali mendengar dua nama itu:
Soekarno-Hatta.
Namun mengenang Hatta seharusnya tidak berhenti pada pengulangan nama. Sebab bagian terpenting dari Hatta justru tidak tertulis pada papan nama jalan atau patung.
Ia berada pada kebiasaan membaca, Pada keberanian berbeda pendapat, Pada kesediaan meninggalkan jabatan, Pada keyakinan bahwa demokrasi membutuhkan manusia yang berpikir, Pada gagasan bahwa kemerdekaan politik harus disusul kemerdekaan ekonomi.
Dan pada kesadaran bahwa sebuah republik tidak akan bertahan hanya karena memiliki pemimpin besar.
Republik membutuhkan warga negara yang terdidik. Hatta memahami hal itu sejak jauh sebelum Indonesia memiliki republik.
Ia datang dari Bukittinggi dengan buku-buku, Ia pergi ke Belanda sebagai mahasiswa, Ia kembali sebagai intelektual pergerakan, Ia dipenjara tanpa berhenti menulis, Ia dibuang tanpa berhenti berpikir, Ia menjadi Wakil Presiden tanpa kehilangan sikap kritis Dan ketika jabatan itu tidak lagi dapat dipertahankan tanpa mengorbankan prinsip, ia memilih mundur.
Pada akhirnya, mungkin inilah cara paling sederhana untuk membaca Hatta.
Soekarno mengajarkan bangsa ini bagaimana kemerdekaan diteriakkan.
Hatta mengajarkan bagaimana kemerdekaan dipikirkan.
Keduanya bertemu pada 17 Agustus 1945.
Tetapi perjalanan Hatta jauh lebih panjang daripada tujuh menit pembacaan Proklamasi.
Ia menghabiskan puluhan tahun untuk mempersiapkan sebuah bangsa agar bukan hanya memiliki negara, tetapi juga memiliki pikiran.
Sebab bagi Hatta, persoalan Indonesia tidak pernah selesai hanya karena penjajah telah pergi.
Penjajahan dapat berganti bentuk, Kebodohan dapat menjadi belenggu, Kemiskinan dapat menjadi belenggu, Kekuasaan yang tidak terkendali dapat menjadi belenggu Dan manusia yang berhenti berpikir dapat dengan mudah kembali menjadi orang yang dijajah.
Pada hari ulang tahunnya, 12 Agustus, barangkali itulah Hatta yang layak kita ingat.
Bukan lelaki tua dalam foto hitam-putih, Bukan sekadar Wakil Presiden pertama, Bukan pula nama yang selalu ditempelkan setelah Soekarno.
Melainkan seorang anak Bukittinggi yang percaya bahwa buku dapat mengubah cara manusia melihat dunia—dan bahwa bangsa yang ingin merdeka harus terlebih dahulu belajar menjadi bangsa yang mampu berpikir sendiri.
Hatta meninggal, Buku-bukunya tetap tinggal, Gagasannya masih diperdebatkan.
Dan republik yang dulu ia perjuangkan masih terus mencari bentuk terbaiknya.
Mungkin itu sebabnya Hatta belum selesai, Ia memang sudah tidak ada Tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya masih hidup:
Untuk apa sebuah bangsa merdeka jika rakyatnya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk berpikir, menentukan pilihan, dan mengurus kehidupannya sendiri?
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






