Ketika masih kecil, saya pernah percaya bahwa hidup adalah tentang kemungkinan yang tak terbatas. Saya membayangkan diri melayang di luar angkasa, mengenakan baju astronot, melihat bumi sebagai bola biru kecil yang sunyi di tengah kegelapan kosmik. Imajinasi itu terasa begitu nyata, bukan sekadar khayalan, tetapi seperti sebuah masa depan yang menunggu untuk saya capai.
Saya menghabiskan waktu berjam-jam merakit pesawat ruang angkasa dari Lego, menonton film fiksi ilmiah berulang kali, dan menggambar roket di buku tulis. Dunia terasa luas, dan saya merasa memiliki tempat di dalamnya.
Namun, seperti banyak orang, mimpi itu perlahan memudar. Tidak ada satu momen dramatis ketika saya memutuskan untuk berhenti bermimpi menjadi astronot. Tidak ada kegagalan besar yang memaksa saya menyerah. Sebaliknya, itu terjadi secara perlahan, hampir tak terasa. Pilihan-pilihan kecil mulai mengarah ke jalan yang berbeda.
Saya tidak memilih jurusan teknik. Saya tidak mengejar pelatihan penerbangan. Saya mulai memikirkan hal-hal yang lebih praktis, yakni pekerjaan yang stabil, penghasilan yang cukup, tempat tinggal yang nyaman. Tanpa disadari, saya telah menukar imajinasi yang luas dengan realitas yang lebih sempit.
Narasi ini terasa begitu familiar. Kita sering mendengar atau bahkan mengatakan sendiri bahwa kita pernah memiliki mimpi besar, tetapi kehidupan menghalangi. Kita menyalahkan keadaan: keterbatasan ekonomi, tanggung jawab keluarga, tekanan sosial, atau sekadar waktu yang berjalan terlalu cepat.
Dalam cerita ini, masa kanak-kanak adalah dunia kemungkinan, sementara masa dewasa adalah dunia kompromi. Mimpi adalah sesuatu yang indah tetapi rapuh, mudah hancur ketika berhadapan dengan kenyataan. Seiring semakin saya bertambah usia, semakin saya mulai meragukan kebenaran cerita itu.
Bukan karena faktor-faktor eksternal tidak nyata; tentu saja mereka nyata dan sering kali menentukan. Tetapi karena cerita itu terasa terlalu sederhana. Ia mengandaikan bahwa mimpi kita tetap sama dari waktu ke waktu, bahwa anak kecil yang ingin menjadi astronot adalah versi paling murni dari diri kita, dan bahwa setiap penyimpangan dari jalur itu adalah bentuk kegagalan atau pengkhianatan terhadap diri sendiri.
Bagaimana jika asumsi itu keliru? Bagaimana jika mimpi masa kecil bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal? Bukan sesuatu yang harus dipertahankan dengan keras kepala, tetapi sesuatu yang membantu kita memahami siapa diri kita sebenarnya? Ketika seorang anak ingin menjadi astronot, mungkin itu bukan semata-mata tentang pergi ke luar angkasa. Mungkin itu tentang rasa ingin tahu, keinginan untuk menjelajah, atau hasrat untuk memahami sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mimpi itu adalah simbol, bukan blueprint.
Jika kita melihatnya dengan cara ini, maka perubahan arah dalam hidup bukanlah tanda bahwa kita meninggalkan mimpi kita, tetapi bahwa kita sedang menerjemahkannya ke dalam bentuk yang berbeda. Orang yang dulu ingin menjadi astronot mungkin tumbuh menjadi ilmuwan, guru, penulis, atau bahkan seseorang yang bekerja di bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan sains.
Tetapi jika dalam pekerjaannya ia tetap mencari pengetahuan, tetap merasa tertarik pada hal-hal baru, tetap memiliki rasa kagum terhadap dunia, maka bukankah dalam arti tertentu ia masih setia pada mimpinya?
Kita sering terjebak pada bentuk, bukan esensi. Kita menganggap bahwa mimpi hanya bisa terwujud jika ia terjadi persis seperti yang kita bayangkan di masa kecil. Padahal, bentuk mimpi itu bisa berubah seiring dengan bertambahnya pengalaman dan pemahaman kita tentang dunia. Seorang anak mungkin tidak tahu apa arti sebenarnya dari menjadi astronot. Ia hanya tahu bahwa itu terlihat menakjubkan.
Seiring waktu, kita mulai memahami kompleksitas hidup, baik itu berupa tantangan, keterbatasan, dan juga kemungkinan-kemungkinan lain yang sebelumnya tidak kita sadari. Dalam proses itu, kita tidak hanya kehilangan sesuatu; kita juga mendapatkan sesuatu. Kita belajar mengenali diri kita sendiri dengan lebih jujur.
Kita mulai memahami apa yang benar-benar penting bagi kita, bukan hanya apa yang tampak menarik dari luar. Kita mungkin menyadari bahwa kita tidak benar-benar ingin berada di luar angkasa, tetapi kita ingin merasa bebas. Atau bahwa kita tidak ingin menjadi pelopor dalam arti literal, tetapi kita ingin membuat dampak, sekecil apa pun, dalam kehidupan orang lain.
Sering kali, yang kita sebut sebagai “meninggalkan mimpi” sebenarnya adalah proses penyaringan. Kita melepaskan bagian-bagian yang tidak lagi relevan, sambil mempertahankan inti yang tetap hidup. Ini bukan proses yang mudah atau selalu menyenangkan. Ada kesedihan dalam menyadari bahwa kita tidak akan menjadi orang yang pernah kita bayangkan. Ada nostalgia terhadap versi diri kita yang lebih muda, yang lebih berani dan lebih percaya diri terhadap masa depan.
Selain itu ada juga kejujuran yang muncul dari proses ini. Kejujuran tentang siapa kita sekarang, dengan segala keterbatasan dan kemungkinan yang kita miliki. Kejujuran untuk mengakui bahwa beberapa mimpi memang tidak lagi sesuai dengan diri kita, bukan karena kita gagal mencapainya, tetapi karena kita telah berubah.
Masalahnya, masyarakat sering kali tidak memberi ruang bagi narasi seperti ini. Kita lebih suka cerita yang jelas: sukses atau gagal, tercapai atau tidak tercapai. Kita mengagungkan mereka yang “berhasil mewujudkan mimpi masa kecilnya” seolah-olah itu adalah satu-satunya bentuk keberhasilan yang sah. Sementara itu, kisah-kisah yang lebih kompleks, seperti tentang perubahan, penyesuaian, dan penemuan diri yang sering kali dianggap sebagai bentuk kompromi atau bahkan kekalahan.
Padahal, hidup jarang sekali mengikuti garis lurus. Ia lebih mirip jaringan jalan yang bercabang-cabang, di mana setiap pilihan membuka kemungkinan baru sekaligus menutup yang lain. Dalam konteks ini, keberhasilan bukanlah tentang tetap berada di jalur yang sama sejak awal, tetapi tentang menemukan jalur yang paling sesuai dengan diri kita saat ini.
Pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan “Apakah saya masih mengejar mimpi masa kecil saya?” tetapi “Apakah saya hidup dengan cara yang mencerminkan apa yang saya hargai?” Jika jawabannya ya, maka mungkin kita tidak benar-benar kehilangan apa pun. Kita hanya mengubah bentuknya.
Ada juga kemungkinan lain yang lebih menantang: bahwa sebagian dari kita memang tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang kita inginkan, bahkan sejak kecil. Mimpi masa kecil kita mungkin dipengaruhi oleh lingkungan, media, atau ekspektasi orang lain. Kita ingin menjadi sesuatu karena itu terlihat keren, atau karena itu membuat kita mendapat pengakuan. Dalam kasus seperti ini, meninggalkan mimpi tersebut bukanlah kehilangan, tetapi pembebasan.
Bahkan dalam situasi ini, mimpi itu tetap memiliki nilai. Ia adalah bagian dari perjalanan kita menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Ia mungkin tidak bertahan, tetapi ia membantu membentuk kita.
Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya melihat bahwa masa dewasa bukanlah kuburan bagi mimpi-mimpi kita, melainkan ruang di mana mimpi-mimpi itu diuji, diubah, dan dalam beberapa kasus, diwujudkan dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita mungkin tidak menjadi astronot, tetapi kita mungkin menemukan cara lain untuk merasakan keajaiban yang sama melalui pekerjaan, hubungan, atau bahkan cara kita memandang dunia.
Ini tidak berarti bahwa kita harus berhenti bermimpi besar. Sebaliknya, mungkin kita perlu belajar bermimpi dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai sesuatu yang kaku dan spesifik, tetapi sebagai arah atau nilai yang memberi makna pada pilihan-pilihan kita. Mimpi bukanlah tujuan akhir yang harus dicapai dengan tepat, tetapi kompas yang membantu kita menavigasi kehidupan.
Mungkin pertanyaannya bukan apakah kita meninggalkan mimpi kita, tetapi apakah kita berani mengikutinya ketika ia berubah bentuk. Karena perubahan itu tidak selalu nyaman. Ia menuntut kita untuk melepaskan identitas lama dan menerima ketidakpastian. Ia menuntut kita untuk mengakui bahwa kita tidak selalu tahu ke mana kita akan pergi.
Justru di situlah letak keindahan hidup. Dalam ketidakpastian itu, kita memiliki kesempatan untuk terus menemukan diri kita kembali. Kita tidak terikat pada satu versi dari diri kita, tetapi bebas untuk berkembang, untuk berubah, dan untuk menemukan makna dengan cara yang baru.
Jadi mungkin, alih-alih mengatakan bahwa kita telah meninggalkan mimpi masa kecil kita, kita bisa mengatakan bahwa kita sedang melanjutkannya, hanya dalam bahasa yang berbeda. Bahasa yang lebih kompleks, lebih realistis, tetapi juga lebih jujur. Bahasa yang tidak lagi berbicara tentang menjadi sesuatu yang spesifik, tetapi tentang menjadi seseorang yang hidup dengan penuh kesadaran dan tujuan. Dan jika kita melihatnya dengan cara ini, maka mimpi itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tumbuh bersama kita.
Artikel Lain :
Mengenal Diri atau Sekadar Membuat Cerita?
Era Dunia Kerja Digital Tak Lagi Melihat Ijazah?
Penulis : T. H. Hari Sucahyo
Editor : Devis Mamesah






