Mengenal Sosok Sarinah Lewat Film Pendek ‘Mbok dan Bung’

| PENAMARA . ID

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di balik panggung besar revolusi dan pemikiran Marhaenisme Soekarno, ada sosok perempuan bersahaja bernama Sarinah. Kisahnya tak sekadar mengendap dalam memori sang proklamator, tetapi dihidupkan kembali lewat layar sinema dan sudut gedung pencakar langit.

DARI DIA saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Dia sendiri ‘orang kecil.’ Tetapi budinya selalu besar!

Secuplik kalimat itu tertera mantap dalam kata pengantar buku Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Karangan Soekarno yang terbit perdana pada November 1947 itu merupakan kompilasi materi kursus wanita yang rutin diampu sang proklamator sewaktu ibu kota Republik mendadak dipindahkan ke Yogyakarta.

Bagi Bung Karno, Sarinah bukan sekadar memori masa kecil yang lamat-lamat. Nama itu dilekatkan pada banyak hal fundamental dalam sejarah Republik: mulai dari pergerakan perempuan dalam Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang menggunakan nama Pergerakan Sarinah, hingga gedung pencakar langit 15 lantai pertama di Indonesia yang berdiri megah di kawasan Thamrin, Jakarta. Dengan sadar dan penuh takzim, Soekarno menyematkan nama Sarinah pada banyak hal penting sebagai penghargaan tertinggi bagi perempuan bersahaja yang ia panggil “Mbok” itu.

Hubungan emosional yang mendalam itu bertunas pada 1907, ketika Soekarno baru berusia 6 tahun. Saat itu namanya masih Kusno. Kusno bersama ibunya dan kakaknya, Sukarmini, diboyong sang ayah, Soekemi Sosrodihardjo, pindah ke Mojokerto—sebuah kota berjarak sekitar 50 kilometer di barat daya Surabaya tempat Soekemi mengajar sebagai guru.

Di sanalah Sarinah ikut tinggal atau ngenger untuk membantu pekerjaan rumah tangga sekaligus mengasuh putra-putri Soekemi. Dalam otobiografinya kepada Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, khusus pada bab “Mojokerto: Kepedihan di Masa Muda”, Soekarno mengenang betapa Sarinah yang tidak pernah menikah itu tidak pernah diperlakukan sebagai pelayan. Sarinah dianggar bagai bagian dari keluarga: ia tidur di rumah yang sama dan menyantap hidangan dari piring yang sama.

Kehidupan keluarga Soekemi kala itu jauh dari kecukupan. Tak jarang nasi harus diselingi ketela akibat beras yang tak selalu tersedia. Ketika kedua orang tuanya sering pergi ke kota lain untuk mengobati sang ibu, Kusno kecil menghabiskan hari-harinya bersama Mbok Sarinah. Ia kerap berkutat di dapur saat Sarinah memasak, atau leyeh-leyeh di kamar pengasuhnya itu hingga terlelap.

Dari interaksi sederhana di sudut dapur itulah petuah-petuah kehidupan dihembuskan. “Dialah yang mengajarku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat,” kenang Soekarno kepada Cindy Adams.

Salah satu pesan Sarinah yang paling membekas hingga Kusno menduduki tampuk kekuasaan adalah:

Kalau nanti kamu sudah jadi pemimpin, kamu tidak akan makan sebelum rakyatmu makan.

Merawat Memori Lewat Sinema

Membedah pemikiran Soekarno lewat lembaran buku karangannya atau menelusuri bab-bab tebal biografi tulisan Cindy Adams mungkin terasa berat bagi sebagian orang. Bagi masyarakat modern yang enggan bergulat dengan tumpukan teks sejarah, narasi sejarah tak lagi harus dinikmati lewat tulisan kaku. Bagi Anda yang tak suka membaca buku, relasi hangat antara Kusno kecil dan Mbok Sarinah kini bisa disaksikan secara langsung dan praktis lewat layar ponsel di kanal YouTube Sarinah Indonesia

Meski nama Sarinah begitu familier sebagai pusat perbelanjaan ikonik di Jakarta, masih banyak publik yang belum menyadari bahwa rekam jejak emosional sang proklamator dan pengasuhnya ini sebenarnya telah dirajut halus ke dalam layar sinema. Di tengah riuk-pikuk pusat kota, tak banyak yang tahu adanya sebuah film pendek bertajuk Mbok dan Bung yang merawat memori penting tersebut.

Potret kedekatan Kusno dan Mbok Sarinah inilah yang menginspirasi sutradara Wregas Bhanuteja dan rumah produksi Rekata Studio untuk merajutnya ke dalam medium film. Bersama sutradara asal Yogyakarta, Ninndi Raras—yang dikenal lihai membedah keintiman hubungan antarmanusia—mereka menggarap film pendek berdurasi 17 menit bertajuk Mbok dan Bung.

Menampilkan aktris pemenang Piala Citra, Marissa Anita, sebagai Sarinah dan aktor cilik Kenichi Virendra sebagai Kusno, film ini resmi tayang di kanal YouTube Sarinah Indonesia sejak 23 Juli 2022.

Kehadiran Mbok dan Bung menjadi bagian integral dari revitalisasi pusat perbelanjaan Sarinah yang ditandai dengan wajah baru gedung bersejarah tersebut. Tak sekadar sinema, ruang publik Sarinah dihidupkan lewat pelbagai aktivasi seni: pameran seni rupa berkala di Distrik Seni, pertunjukan musik jalanan, konser spontan Twilite Orchestra pimpinan Addie M.S., parade Kebaya Goes to UNESCO, peragaan busana Edward Hutabarat, hingga pameran mobil kepresidenan menyambut HUT RI ke-77.

Sebab bagi Soekarno, pembangunan pusat perbelanjaan modern dan gedung pencakar langit 15 tingkat itu dilandaskan pada cita-cita memajukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Wregas Bhanuteja menyebut narasi tentang sosok Sarinah menjadi menarik justru karena posisinya di ingatan publik kerap berada di batas remang antara sejarah dan mitos.

“Sebab bisa dibilang, ketika mendengar nama Sarinah, banyak yang merasa seperti setengah ada namanya dalam sejarah, setengah lagi seperti mitos atau legenda saja. Kadang hal ini membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya sosok ini benar-benar ada atau tidak, ya?” kata Wregas.

Namun, Wregas tak menyangkal besarnya pengaruh yang ditanamkan Sarinah pada pertumbuhan jiwa Soekarno. Jika kebanyakan tokoh bangsa berguru pada intelektual kawakan seperti H.O.S. Tjokroaminoto atau pemikir berpengetahuan mumpuni lainnya, sosok guru pada fase awal kehidupan Bung Karno justru seorang perempuan bersahaja yang tak berpendidikan formal. Sarinah mengajar murni berbasis hati nurani, membawa nilai bahwa manusia bisa berbagi, bertoleransi, dan hidup bersama selama saling menebar kebaikan. Spirit nurani inilah yang menjadi fondasi utama film Mbok dan Bung.

Subjek Penting dalam Panggung Revolusi

Persentuhan dini dengan Sarinah—yang kelak disusul oleh hadirnya figur-figur perempuan tangguh seperti Inggit Garnasih yang setia menemani di masa pergerakan, serta Fatmawati yang muda dan cekatan menjelang Proklamasi—membentuk paradigma politik Soekarno terhadap gender.

Kendati dalam panggung wacana publik Soekarno kerap dituding sebagai seorang womanizer, pemikiran politiknya soal perempuan sejatinya amat maju melampaui zamannya. Ia tidak memandang perempuan sebagai pelengkap pergerakan, melainkan subjek vital yang setara dalam perjuangan membangun bangsa dan negara.

Kerangka berpikir revolusioner ini dibuktikan Soekarno dengan konsisten melibatkan perempuan dalam posisi-posisi strategis pemerintahan sejak awal Indonesia berdiri:

  • Maria Ulfah: Ditunjuk sebagai Menteri Kehakiman perempuan pertama di Indonesia.
  • S.K. Trimurti: Dipercaya memimpin kementerian di Departemen Perburuhan.
  • Supeni: Diemban amanah sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat dan negara-negara Asia Tenggara, hingga menjabat Wakil Menteri Luar Negeri dan Wakil Ketua Delegasi Indonesia di PBB.

Mereka hanyalah sebagian kecil dari jajaran tokoh perempuan yang diangkat Soekarno untuk mewarnai dinamika kepemimpinan nasional. Sang Proklamator, yang selalu senang mengganti kata perempuan dengan nama Sarinah, pernah pelekikkan seruan tegas yang membakar semangat kaum hawa:

Hai wanita-wanita Indonesia, jadilah revolusioner, – tiada kemenangan revolusioner, jika tiada wanita revolusioner, dan tiada wanita revolusioner, jika tiada pedoman revolusioner!”

Penulis : Ari Sujatmiko

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Tayang Mulai 29 Oktober 2026, Film ‘Laut Bercerita’ Siap Meriahkan Hari Sumpah Pemuda
Sumpah Profesi di Klinik, Ejekan di Kolom Komentar
Ketika Viral Mengalahkan Etika Kreator Konten
Bung Hatta, Buku, Kesederhanaan, dan Sebuah Republik yang Belum Selesai
Dari Bom Atom ke Pendidikan : Bagaimana Pendidikan Membangun Kembali Jepang
Kenapa Semangat Kuliah Mahasiswa Baru Cepat Sekali Menurun
“Anak Zaman Sekarang Kalau Bodoh Itu Pilihan”, Tamparan Sabrang untuk Pemuda Tangerang
Mengenal Ngohtay, Tradisi Penghormatan Lima Generasi Masyarakat Cina Benteng Tangerang

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:10 WIB

Mengenal Sosok Sarinah Lewat Film Pendek ‘Mbok dan Bung’

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:02 WIB

Tayang Mulai 29 Oktober 2026, Film ‘Laut Bercerita’ Siap Meriahkan Hari Sumpah Pemuda

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:36 WIB

Sumpah Profesi di Klinik, Ejekan di Kolom Komentar

Selasa, 18 Agustus 2026 - 02:25 WIB

Ketika Viral Mengalahkan Etika Kreator Konten

Kamis, 13 Agustus 2026 - 23:17 WIB

Bung Hatta, Buku, Kesederhanaan, dan Sebuah Republik yang Belum Selesai

Berita Terbaru

Humaniora

Mengenal Sosok Sarinah Lewat Film Pendek ‘Mbok dan Bung’

Minggu, 30 Agu 2026 - 20:10 WIB

Banten

Kabar Duka! Rektor UMT Dr Desri Arwen Tutup Usia

Jumat, 28 Agu 2026 - 13:11 WIB