Kongres yang Disandera Kepentingan: Bandung dan Skandal Sebuah Perjalanan Ideologis yang Disesatkan

| PENAMARA . ID

Minggu, 27 Juli 2025 - 03:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fiki Bahta

PENAMARA.id — Di Bandung, tempat sejarah pernah menorehkan tekad anti-imperialisme dalam Konferensi Asia Afrika, kini justru menjadi saksi bisu dari lumpuhnya idealisme dalam tubuh GMNI. Kongres yang seharusnya menjadi perayaan intelektual dan penyatuan gagasan, berubah menjadi arena dagang kuasa, sandera kepentingan, dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai marhaenisme itu sendiri.

Badan Pekerja Kongres atau BPK, yang mestinya menjadi arsitek agung jalannya forum tertinggi organisasi, justru tampil sebagai aktor yang canggung, lemah dalam tata kelola, dan lebih sibuk menjaga titipan elit daripada menunaikan mandat organisasi. Kepanitiaan berjalan seperti kapal tanpa nakhoda, penuh manuver tanpa arah, dan disengaja ditarik dalam kelambanan yang sistematis semua demi memberi ruang kepada mereka yang bermain di balik layar oknum alumni dan elit politik yang menabur jaring dalam air keruh.

Alih-alih menjadi pelayan kongres, mereka berubah menjadi calo keputusan. Di setiap detik yang ditunda, di setiap forum yang dikebiri, ada satu hal yang pasti suara basis dibungkam, dan kongres dipaksa tunduk pada negosiasi meja makan para elit.

Bandung tidak kekurangan sejarah, tetapi yang datang kali ini bukan pahlawan, melainkan para pecundang yang berselimut bendera merah, namun hatinya telah dijual kepada pemilik modal dan penguasa. Dan celakanya, sebagian dari mereka pernah berbicara tentang nasionalisme dan keadilan sosial di hadapan kita. Kini, mereka memperdagangkan ideologi dengan harga diskon, lalu menyuruh kita diam atas nama “kebersamaan”.

Kongres ini bukan gagal karena situasi, tapi karena disabotase dari dalam. Ketidakbecusan bukan karena kurang sumber daya, tapi karena terlalu banyak tangan kotor yang ikut mencelupkan kepentingan dalam panci organisasi.

Jika GMNI lahir untuk melawan ketidakadilan dan penjajahan gaya baru, maka ironi besar sedang terjadi: kita sedang dijajah oleh mereka yang seharusnya menjadi kawan seperjuangan. Sejarah akan mencatat, bahwa di Bandung kali ini, bukan ideologi yang menang, tapi intrik dan kelicikan.

Namun ingat, api perlawanan tidak pernah padam di dada marhaenis sejati. Dan setiap pengkhianatan akan dibayar lunas, bukan di forum kongres ini, tapi dalam catatan sejarah yang akan menuntut pertanggungjawaban.

 


Artikel Lain: Hadiri Kongres XXII GMNI di Bandung, ini Pesan Kepala Dispora Kota Tangerwng untuk Kader Marhaenis

Penulis : Fiki Bahta

Editor : Agnes Monica

Berita Terkait

Pertanyakan Anggaran Makan Bergizi Gratis, SEMMI Tangerang Minta Aparat Turun Tangan
SEMMI Tangerang Kritik Pergantian Kepala BGN, Dinilai Politik Promosi Bukan Evaluasi
Ogah ke Monas, Ribuan Buruh Banten Pilih Kepung Senayan
Dekat Presiden Belum Tentu Sejahtera : Buruh Pilih Mayday di Jalanan
KASBI Tolak May Day di Monas, 10 Ribu Buruh Memilih Geruduk DPR
May Day 2026, KASBI Akan Kepung DPR
Gara-gara Ini, Said Iqbal Alihkan Demo Buruh dari DPR ke Monas
Ini Alasan Said Iqbal Batal Demo Besar Buruh di DPR saat May Day

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 21:33 WIB

Pertanyakan Anggaran Makan Bergizi Gratis, SEMMI Tangerang Minta Aparat Turun Tangan

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:38 WIB

SEMMI Tangerang Kritik Pergantian Kepala BGN, Dinilai Politik Promosi Bukan Evaluasi

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:27 WIB

Ogah ke Monas, Ribuan Buruh Banten Pilih Kepung Senayan

Kamis, 30 April 2026 - 19:05 WIB

Dekat Presiden Belum Tentu Sejahtera : Buruh Pilih Mayday di Jalanan

Kamis, 30 April 2026 - 18:14 WIB

KASBI Tolak May Day di Monas, 10 Ribu Buruh Memilih Geruduk DPR

Berita Terbaru