Krisis lingkunga bukan hanya kerusahan terhadap hutan, pencemaran laut, atau eksploitasi tanpa restorasi sumber daya alam. Di balik persoalan itu berakar pula korupsi, oligarki, lemahnya tata kelola, serta kebijakan pembangunan yang sering menempatkan pertembuhan ekonomi diatas keberlanjutan kehidupan. Karena itu, kerusahan ekologis adalah persoalan kemanusiaan dan keadilan.
Pembangunan tidak seharusnya cuma diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Pembangunan harus menghadirkan mertabat, kebebasan, dan keberlanjutan. Ketika hutan kehilangan tutupan, laut kehilangan kehidupan, dan masyarakat kehilangan ruang hidup, maka pembangunan telah kehilangan makna sosialnya.
Sangat dibutuhkan gerakan kolektif yang dapat mempertemukan negara, masyarakat sipil, kampus, komunitas, media, organisasi keagamaan, dan kelompok profesi. Dalam kerangka Gramsci, perubahan sosial tidak cukup dilakukan melalui perebutan institusi politik, tetap juga melalui pertarungan gagasan pengetahuan, budaya, serta kesadaran. Gagasan Green Ribbon dapat menjadi simbol sekaligus strategi untuk membangun kekuatan kolektif demi merebut kembali agenda ekologis dari dominasi kepentingan ekonomi dan korporasi.
Masyrakat sipil harus hadir bukan sebagai penonton saja, tetapi sebagai kekuatan pengawas, negosiator, validator, inovator, dan moral moral hukum. Gerakan skologis perlu dibangun melalui pendidikan kritis, riset, advokasi, kampanye publik, dialog kebijakan, dan aksi kolektif berbasis pengetahuan.
Bersandar pada konteks ini, mahasiswa, terutama organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus memiliki posisi strategis sebagai kekuatan sipil dan pemandu politik kebangsaan. Tantangannya adalah melahirkan kader yang tidak hanya memahami politik, tetapi juga memiliki keberpihakan sosial, kemampuan intelektual, dan keberanian untuk mengawal keadilan ekologis.
Intelektual harus hadir sebagai bagian dari masyarakat, dengan membaca realitas, membangun kesadaran, dan mendorong transformasi sosial. Pada akhirnya, gerakan lingkungan membutuhkan kepemimpinan yang humanistik, pemimpin yang kuat empati, menjaga idealisme, melayani masyarakat, dan mampu membangun harapan bagi generasi mendatang.
Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam. Ia adalah perjuangan mempertahankan ruang hidup, martabat, keadilan, dan masa depan manusia. Green Ribbon harus menjadi simpul kesadaran bahwa ketika lingkungan dirusak, kemanusiaan ikut dipertaruhkan; dan ketika masyarakat bersatu menjaganya, mereka sedang mempertahankan masa depan kehidupan.
Artikel Lain :
Reforma Agraria dan Proyek Strategis Nasional
Pulau Gebe di Titik Kritis; Gubernur Malut Wajib Bertanggungjawab
Indonesia, Sampah, dan Ancaman Emisi Metana
Penulis : Robi Priyatna
Editor : Ginanjar Putro Wicaksono






