Setiap Juni, saya selalu merasa ada alasan untuk kembali membuka pidato Soekarno tanggal 1 Juni 1945. Bukan semata karena pidato itu melahirkan Pancasila, melainkan karena setiap kali membacanya saya menemukan sesuatu yang sering luput dari pembahasan kita hari ini. Bagi saya, kehebatan Soekarno tidak hanya terletak pada gagasan yang ia tawarkan, tetapi juga pada cara ia menjelaskan gagasan tersebut kepada rakyat.
Kita sering memuji Soekarno sebagai orator ulung. Namun menurut saya, sebutan itu terkadang terlalu menyederhanakan kemampuan yang sebenarnya ia miliki. Soekarno bukan sekadar pandai berpidato. Ia memahami bagaimana manusia berpikir. Ia tahu bahwa gagasan besar tidak akan hidup jika hanya disampaikan dengan istilah-istilah rumit yang sulit dipahami masyarakat.
Ia tidak menjelaskan Indonesia dengan istilah-istilah yang membuat orang harus membuka kamus. Ia berbicara tentang hal-hal yang bisa ditemui di sekitar kita, bahasa keseharian rakyat kelas bawah, seperti : tentang rakyat kecil yang berani menikah meski hidup pas-pasan, tentang orang-orang yang membanting tulang demi keluarga, dan tentang keberanian melangkah menuju masa depan yang bahkan belum sepenuhnya terlihat.
Semakin saya membaca pidato 1 Juni, semakin saya merasa bahwa Soekarno sebenarnya tidak sedang berusaha membuat pidatonya terdengar indah. Ia sedang berusaha membuat rakyat memahami sesuatu yang sangat abstrak dengan cara yang sangat konkret.
Dalam kajian linguistik modern, cara seperti ini dikenal sebagai metafora konseptual.
George Lakoff dan Mark Johnson menjelaskan bahwa metafora bukan sekadar pemanis bahasa. Metafora adalah cara manusia memahami dunia. Kita menjelaskan sesuatu yang sulit dipahami melalui sesuatu yang sudah akrab dalam pengalaman sehari-hari.
Bagi saya, di situlah letak kejeniusan Soekarno. Ia paham bahwa tidak semua orang ngerti dengan bahasa-bahasa akademisi, filsafat atau teori politik. Karena itu ia menjelaskan Indonesia melalui pengalaman yang sudah lebih dulu dipahami rakyat: bekerja, berjuang, gotong-royong, dan memulai kehidupan manusia dalam segala keterbatasan.
Metafora yang paling sering dibicarakan tentu adalah “jembatan emas”. Dalam pidatonya, Soekarno menyebut kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Bagi saya, metafora ini sangat penting karena mengubah cara kita memahami kemerdekaan itu sendiri.
Pada masa menjelang kemerdekaan, ada kelompok yang beranggapan bahwa Indonesia belum siap menjadi negara merdeka. Alasannya bermacam-macam: pendidikan rakyat belum memadai, ekonomi belum kuat, dan administrasi pemerintahan belum tertata. Kemerdekaan, menurut pandangan ini, harus menunggu sampai segala sesuatu siap.
Soekarno menolak cara berpikir tersebut.
Melalui metafora jembatan emas, ia ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan tujuan akhir. Kemerdekaan adalah jalan menuju tujuan yang lebih besar.
Bagi saya, inilah salah satu pelajaran paling penting dari pidato 1 Juni. Soekarno tidak melihat negara sebagai sesuatu yang selesai ketika proklamasi dibacakan. Ia melihat negara sebagai proses yang harus terus dikerjakan. Kemerdekaan bukan garis akhir perlombaan. Kemerdekaan adalah titik awal perjalanan.
Dan jika saya melihat Indonesia hari ini, saya merasa metafora itu masih sangat relevan. Terlalu sering kita memperlakukan kemerdekaan seolah-olah sebuah pekerjaan yang sudah selesai, padahal cita-cita yang ingin dicapai melalui kemerdekaan itu sendiri masih terus diperjuangkan.
Metafora kedua yang menurut saya sangat menarik adalah perkawinan.
Dalam pidatonya, Soekarno membandingkan bangsa yang takut merdeka dengan seseorang yang terus menunda pernikahan karena merasa belum cukup mapan. Rumah harus besar lebih dulu. Perabot harus lengkap lebih dulu. Keuangan harus benar-benar aman lebih dulu.
Padahal, kata Soekarno, banyak rakyat kecil yang hanya memiliki satu tikar dan satu periuk tetapi tetap berani menikah dan membangun kehidupan bersama.
Ketika membaca bagian ini, saya melihat bagaimana Soekarno berhasil membawa persoalan politik yang sangat besar ke dalam pengalaman sehari-hari rakyat. Kemerdekaan yang semula terasa jauh dan abstrak tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat dekat dan manusiawi.
Kemerdekaan bukan lagi persoalan teori negara atau perdebatan elite politik. Kemerdekaan menjadi keberanian untuk memulai.
Yang juga menarik bagi saya, metafora ini memperlihatkan keberpihakan Soekarno kepada rakyat kecil. Ia tidak menempatkan kemapanan sebagai syarat utama untuk bertindak. Sebaliknya, ia menempatkan keberanian sebagai faktor yang paling menentukan.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Sebab sebuah bangsa sering kali gagal bergerak bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena terlalu sibuk menunggu keadaan ideal yang tidak pernah benar-benar datang.
Selain jembatan dan perkawinan, saya juga menemukan satu pola metafora lain yang sangat kuat dalam pidato tersebut, yaitu metafora tubuh.
Soekarno berbicara tentang pembantingan tulang, pemerasan keringat, darah dan daging, serta berbagai bentuk pengorbanan fisik lainnya. Menurut saya, semua metafora itu mengarah pada satu gagasan besar: politik adalah kerja.
Kemerdekaan tidak lahir dari pidato semata. Kemerdekaan lahir dari tenaga, pengorbanan, dan kerja kolektif rakyat.
Karena itulah konsep gotong royong menjadi begitu penting dalam pemikiran Soekarno. Ia tidak memahami bangsa sebagai identitas yang statis. Ia memahami bangsa sebagai aktivitas yang terus berlangsung. Indonesia ada karena rakyatnya terus bekerja bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama.
Bagi saya, di sinilah letak kekuatan terbesar pidato 1 Juni. Soekarno memahami bahwa bangsa tidak dibangun hanya melalui undang-undang, konstitusi, atau lembaga negara. Bangsa juga dibangun melalui cara masyarakat membayangkan dirinya sendiri. Dan imajinasi kolektif itu dibentuk melalui bahasa.
Itulah sebabnya pidato 1 Juni tetap terasa hidup hingga sekarang. Bahasa yang digunakan Soekarno lahir dari pengalaman rakyat. Ia tidak berbicara dari menara gading yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia menerjemahkan gagasan-gagasan besar ke dalam bentuk yang bisa dirasakan, dilihat, dan dipahami oleh siapa saja.
Di tengah situasi politik hari ini yang semakin dipenuhi jargon teknokratis dan istilah-istilah yang sering terdengar asing di telinga masyarakat, saya justru merasa pidato Soekarno semakin relevan untuk dibaca ulang. Pidato itu mengingatkan kita bahwa pemimpin yang besar bukan hanya mampu menawarkan kebijakan. Pemimpin yang besar juga mampu membuat rakyat membayangkan masa depan secara bersama-sama.
Pada akhirnya, bagi saya, pidato 1 Juni bukan hanya tentang lahirnya Pancasila. Pidato itu adalah pelajaran tentang bagaimana gagasan besar dikomunikasikan kepada publik. Soekarno menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah alat untuk membangun cara berpikir.
Melalui metafora jembatan, ia mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah awal perjalanan. Melalui metafora perkawinan, ia mengajarkan keberanian untuk memulai. Melalui metafora tubuh, ia mengajarkan bahwa bangsa dibangun melalui kerja dan pengorbanan.
Karena itu, setiap kali Hari Lahir Pancasila diperingati, saya merasa ada tiga pertanyaan yang masih layak kita renungkan bersama. Jika negara adalah perjalanan, sampai di manakah perjalanan Indonesia hari ini? Jika kemerdekaan adalah perkawinan, bagaimana kondisi hubungan kita sebagai sesama anak bangsa? Dan jika politik adalah kerja tubuh, masih cukup sehatkah tubuh sosial Indonesia untuk menjalankan pekerjaan besar bernama Indonesia?
Delapan puluh tahun setelah pidato itu disampaikan, saya kira pertanyaan-pertanyaan tersebut belum kehilangan relevansinya. Sebab sampai hari ini, kita semua masih berjalan di atas “jembatan emas” yang dibayangkan Soekarno. Dan seperti semua perjalanan panjang, yang paling penting bukan hanya bagaimana perjalanan itu dimulai, tetapi juga ke mana kita hendak membawanya.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






