Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?

| PENAMARA . ID

Senin, 5 Januari 2026 - 15:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Smoke rises after Israeli airstrikes in several location in the Gaza Strip, October 9, 2023. (Atia Mohammed/Flash90)

Smoke rises after Israeli airstrikes in several location in the Gaza Strip, October 9, 2023. (Atia Mohammed/Flash90)

PENAMARA.id — Kota Gaza telah lama menjadi simbol penderitaan penduduk sipil dalam konflik bersenjata modern. Dalam setiap eskalasi kekerasan, warga sipil yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional justru menjadi kelompok paling terdampak.

Tempat tinggal hancur, fasilitas umum lumpuh, dan ribuan nyawa melayang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Konflik bersenjata di Kota Gaza telah berlangsung dalam bayang-bayang penderitaan penduduk sipil yang berkepanjangan.

Setiap eskalasi kekerasan selalu diikuti oleh laporan korban jiwa dalam jumlah besar, hancurnya infrastruktur sipil, serta terganggunya kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Pembunuhan massal penduduk sipil Gaza betul-betul memberikan realitas kepada kita tentang kejahatan kemanusiaan di era modern.

Dalam situasi ini, penduduk sipil tidak lagi berada pada posisi sebagai pihak yang dilindungi, melainkan justru menjadi kelompok yang paling rentan dan terdampak. Hukum pidana internasional lahir dari kesadaran global bahwa kejahatan tertentu terlalu serius untuk dibiarkan menjadi urusan domestik negara semata.

Kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pembunuhan massal, merupakan bentuk pelanggaran paling serius terhadap martabat manusia. Jelas, tragedi kemanusiaan di Kota Gaza seharusnya tidak hanya dibaca sebagai konflik geopolitik, tetapi juga sebagai tantangan langsung terhadap kredibilitas hukum pidana internasional.

Mari kita refleksikan bagaimana hukum pidana internasional memandang pembunuhan massal terhadap penduduk sipil di Kota Gaza, serta sejauh mana hukum tersebut mampu menjalankan fungsi perlindungan dan keadilan bagi korban.

Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional menetapkan kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai perbuatan yang dilakukan dalam kerangka serangan yang meluas atau sistematis terhadap penduduk sipil. Salah satu perbuatan yang secara eksplisit disebutkan adalah pembunuhan. Karakteristik utama kejahatan ini terletak pada konteks serangan, bukan semata-mata pada jumlah korban.

Dalam konteks Gaza, pembunuhan massal tidak terjadi sebagai peristiwa terisolasi. Serangan dilakukan secara berulang, berdampak luas, dan menargetkan wilayah permukiman sipil. Pola ini memperlihatkan adanya kesinambungan tindakan yang memenuhi unsur “meluas” maupun “sistematis”.

Dari perspektif normatif, kondisi tersebut memperkuat argumen bahwa pembunuhan massal terhadap penduduk sipil di Kota Gaza berpotensi memenuhi unsur kejahatan terhadap kemanusiaan. Lebih jauh, hukum pidana internasional menitikberatkan pada pertanggungjawaban individu, bukan semata negara.

Prinsip ini menegaskan bahwa kekuasaan politik atau militer tidak dapat dijadikan alasan pembenar atas pelanggaran berat terhadap kemanusiaan. Penduduk sipil memiliki posisi sentral dalam hukum humaniter internasional dan hukum pidana internasional. Prinsip perlindungan terhadap penduduk sipil bukan hanya norma teknis, melainkan manifestasi nilai kemanusiaan universal.

Ketika pembunuhan massal justru menimpa kelompok ini, maka pelanggaran tersebut bukan hanya bersifat hukum, tetapi juga bersifat moral. Impunitas tidak hanya melukai korban dan keluarga mereka, tetapi juga merusak tatanan hukum internasional secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, impunitas berpotensi menciptakan preseden berbahaya yang melemahkan fungsi pencegahan hukum pidana internasional.

Selain menunjukkan terpenuhinya unsur kejahatan terhadap kemanusiaan, pembunuhan massal terhadap penduduk sipil di Kota Gaza juga memperlihatkan bagaimana impunitas masih menjadi persoalan struktural dalam hukum pidana internasional.

Ketika pelanggaran berat terjadi secara luas dan diketahui publik internasional, tetapi tidak diikuti dengan pertanggungjawaban pidana yang efektif, maka hukum kehilangan daya mengikatnya. Dalam kondisi tersebut, hukum pidana internasional berisiko berubah dari instrumen keadilan menjadi sekadar simbol normatif.

Lebih jauh, impunitas tidak hanya merugikan korban secara langsung, tetapi juga melemahkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap sistem hukum global. Ketidakmampuan hukum untuk menjangkau pelaku kejahatan berat internasional menciptakan preseden berbahaya yang dapat mendorong terulangnya pelanggaran serupa di masa depan.
Oleh karena itu, kasus pembunuhan massal di Kota Gaza tidak hanya relevan sebagai peristiwa faktual, tetapi juga sebagai cermin keterbatasan hukum pidana internasional dalam menghadapi realitas politik global.

Dengan demikian, refleksi atas peristiwa ini menegaskan bahwa tantangan utama hukum pidana internasional saat ini bukan lagi pada perumusan norma, melainkan pada keberanian dan konsistensi dalam penegakannya.

Sebagai upaya mengatasi pembunuhan massal terhadap penduduk sipil dan menghindari keberlanjutan impunitas, komunitas internasional perlu menunjukkan komitmen yang lebih kuat dan konsisten dalam menegakkan hukum pidana internasional tanpa standar ganda. Penegakan hukum terhadap kejahatan terhadap kemanusiaan harus ditempatkan di atas kepentingan politik jangka pendek, agar prinsip keadilan universal benar-benar terwujud.

Di samping itu, penguatan peran Mahkamah Pidana Internasional menjadi kebutuhan mendesak, khususnya dalam hal kerja sama internasional, pengumpulan bukti, dan penegakan yurisdiksi. Tanpa dukungan nyata dari negara-negara, mekanisme peradilan pidana internasional akan terus menghadapi hambatan struktural yang pada akhirnya merugikan korban.

Negara-negara juga perlu mengintegrasikan prinsip perlindungan penduduk sipil ke dalam kebijakan nasional dan doktrin militernya, sesuai dengan ketentuan hukum humaniter dan hukum pidana internasional.

Perlindungan terhadap warga sipil tidak boleh dipandang sebagai kewajiban normatif semata, melainkan sebagai tanggung jawab moral dan hukum yang tidak dapat dikompromikan. Selain itu, pendekatan yang berorientasi pada korban perlu dikedepankan dalam setiap upaya penegakan hukum internasional, agar penderitaan penduduk sipil tidak tereduksi menjadi sekadar angka statistik. Pengakuan terhadap hak, martabat, dan suara korban merupakan bagian integral dari keadilan substantif.


Baca lagi yang lain: Nuklir Korea Utara; Ujian Serius bagi Hukum dan Perdamaian Dunia

Penulis : Jamilatussifa dan Rufaidah

Editor : Agsel Jesisca

Berita Terkait

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu
Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia
Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme
8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster
IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan
Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki
Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”
Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 18:00 WIB

Kekerasan Simbolik dalam Kampus; Membaca Relasi Kuasa Mahasiswa dan Institusi dari Perspektif Pierre Bourdieu

Rabu, 15 April 2026 - 01:15 WIB

Dari ‘Bung’ ke ‘Bro’, ‘cuy’, ‘bestie’ : Pergeseran Sapaan Sosial dalam Masyarakat Indonesia

Rabu, 8 April 2026 - 09:18 WIB

Pasar Global, Konsumerisme, dan Reaktualisasi Kapitalisme dalam Perspektif Anarko-Marhaenisme

Kamis, 5 Maret 2026 - 23:54 WIB

8 Maret dan Hal-Hal yang tak Pernah Masuk Poster

Senin, 2 Maret 2026 - 14:27 WIB

IWD dan Kegagalan Negara; Membongkar Patriarki dan Kapitalisme atas Tubuh Perempuan

Berita Terbaru

Freepik.com

Opini

Rape Culture itu Nyata dan Kita Gak Boleh Diam

Minggu, 19 Apr 2026 - 19:44 WIB