Tanpa Psikologi, Melihat Kebohongan Pejabat

| PENAMARA . ID

Senin, 8 Juli 2024 - 17:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

PENAMARA.ID – Pandangan yang dikira objektif padahal impersonal, menjadi kebenaran umum dan justru menutup munculnya sekmen kecil kebenaran— mungkin bisa menuntun kepada kemajuan. Opini rakyat meski proposisinya tunggal menjadi valid, dia valid melawan ketentuan karena memang pandangan kerakyatan tidak butuh ketentuan.

Lebih menarik bicara dengan rakyat dari pada mendengar pidato bangsawan yang diisi diksi-diksi palsu, mengatakan dia bagian dari sendi rakyat tetapi debu pun takut mendekati sepatunya. Bagaimana bisa mereka mengarakan dia adalah bagian dari penderitaan, sedangkan dia sendiri tidak kuatir dengan rasa lapar hari esok; serta bagaimana bisa kekenyangan tanpa ada kegetiran dalam hati bahwa dia makan dari derita pajak rakyat.

Sesat perkataan seperti sophistist elenchi lebih banyak diambil dari dialog mereka, bangsawan yang ingin mencari dukungan rakyat dengan bualan yang diputarbalikan menjadi harapan; mereka sadar bahwa masyarakat tidak sadar. Mereka tau rakyat terlelap dalam harapan kemakmuran dan kedamaian, jadi dongeng adalah pilihan tepat untuk mengkampanyekan diri— fair in foul (adil dalam busuk).

Inilah kebohongan paling besar dari pemerintah: pertikaian terjadi dari pertentangan pendapat dan kedamaian akan tercapai dengan saling mendukung, kemajuan bangsa adalah kemestian pemerintah karena itu demi kepentingan bersama, padamu ketimpangan padaku kemakmuran — merosot suatu bangsa dari dusta barusan.

Partai paling bengis pun sadar, bahwa ada dua kemungkinan pasti dari oposisi ketika dia berkuasa: pertama kekuasaan nya akan direbut; kedua dia menjadi eksis karena pertentangan. Bahkan atom untuk eksis mesti ada proton (muatan positif) dan elektron (muatan negatif) – dibuang salah satu pasti kehancuran mengikuti.

Kebajikan paling mulia dimuka bumi bukan datang dari bangsawan yang lebih harmonis dengan kaum pemodal, tapi dari rakyat yang sela kukunya penuh tanah dibalik hatinya penuh air mata. Merekalah yang menyuplai makan para penjabat yang teratur makannya tiga kali sehari bahkan lebih;

mereka yang siang malam menjaga kerajaan usaha tetap berdiri sementara pemilik terlelap dalam mimpi, mereka yang mati tak dikenang selama suatu bangsa mengalami perubahan dan dianggap sebagai pengorbanan – rakyat yang selalu dikorbankan.

Bagaimanapun juga para bangsawan menjadi ciri sejati sebuah negeri yang makmur dengan usaha mereka memajukan pembangunan untuk kebermanfaatan rakyat miskin, membayar para ilmuan demi kemajuan pertanian dan ilmu pengetahuan, dengan maksimal menyediakan pendidikan merata tanpa kelas.

Berupaya agar keberpihakan ekonomi dimulai dari kelas bawah, hukum dibentuk dengan kajian-kajian dari kepentingan dan keperluan rakyat tanpa ada determinasi kepentingan pemodal, serta keamaan masyarakat dengan melawan penindasan dan represi kejahatan — semua diusahakan untuk negeri dongeng mereka, dongeng untuk rakyat yang hanya mereka pikirkan tanpa ada tindakan sungguh.


Artikel Lain : PPK Senen harap Coklit Harus Maksimal dan Akurat

Penulis : Devis Mamesah

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Penerapan Etika dalam Fungsi Perusahaan sebagai Pilar Keberhasilan Bisnis Berkelanjutan
Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah
Lemahnya Komunikasi Pemerintah Soal MBG Membuat Opini Publik Terbelah
“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin
Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia
Bahaya Tersembunyi di Balik Revisi UU Polri bagi Demokrasi
Kolam Keruh Kebohongan dan Masyarakat yang Berhenti Peduli pada Kebenaran
Soekarno dan Seni Menjelaskan Indonesia dengan Bahasa yang Dipahami Rakyat

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 19:34 WIB

Penerapan Etika dalam Fungsi Perusahaan sebagai Pilar Keberhasilan Bisnis Berkelanjutan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:58 WIB

Tren Lari Meningkat, Banyak yang Berlari Bersama Pemahaman yang Salah

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:33 WIB

Lemahnya Komunikasi Pemerintah Soal MBG Membuat Opini Publik Terbelah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:50 WIB

“Eat The Rich” Sebab yang Dimakan Selama Ini Justru Orang Miskin

Rabu, 10 Juni 2026 - 23:45 WIB

Logika Machiavelli Menguasai Demokrasi Indonesia

Berita Terbaru